
MUHLAS
Aku merangkul istriku. Ada rasa sesal yang teramat sangat dalam hatiku. Aku melihatnya diam dan hanya tersenyum sambil memandang ombak yang saling kejar-kejaran. Aku terkesima melihatnya.
Begitu lembut sikapnya menghadapi masalah rencana pernikahanku kemarin. Dia tidak menunjukkan amarahnya, walaupun aku tahu tidak mungkin dia tidak marah dan kesal padaku.
Kupeluk istriku dari belakang, kusilangkan kedua tanganku di pinggangnya.
"Ma... I love you... Papa sayang banget ma Mama."
Ara istriku tersenyum, namun pandangannya tetap ke arah ombak. Namun tangannya menggenggam tanganku.
"Ma .. Temani aku yaa... Kita nikmati hari tua kita bersama, melihat anak-anak dan cucu-cucu kita." Kataku.
Istriku tersenyum, dan netranya tetap ke ombak.
"Mama dengerin Papa ngomong kan... Dari tadi Mama cuma tersenyum."
Istriku menarik nafas panjang kemudian melepas pelukanku, dan duduk di pasir sambil menatapku.
"Pa... Mama dengar semua yang Papa katakan. Mama senang dan bahagia dengernya, cuma Mama gak berani janji apa-apa. Mama hanya menjalani takdir yang sudah ditulis Tuhan untuk Mama." Kata Isrtiku.
__ADS_1
"Maksud Mama apa?"
"Pa... Kita bisa berencana macam-macam tapi pada akhirnya hanya Tuhan yang menentukan semua. Itu sebabnya Mama gak mau janji. Kita jalani saja yaa Pa." Kata istri kemudian tatapannya kembali ke ombak yang saling menggulung dan berdebur.
Aku mengangguk.
"Oh iya Ma... Kemarin Pram menelpon Papa. "
Istriku tampak terkejut, namun hanya sesaat, terus kembali lagi memandang ombak. Dia gak bertanya, dan dia hanya diam saja.
"Mama gak mau nanya ke Papa, untuk apa Pram nelpon?" Tanyaku dan ingin melihat reaksi istriku.
Istriku hnaya menggeleng dan tak bergeming.
Istriku menoleh. " Mau tanya apa Pa?"
"Mama masih sering berhubungan dengan Pram?" Tanyaku.
Istriku mengangguk dan kembali memandang ombak di depannya.
Aku tak tahu perasaan apa yang tiba-tiba datang di hatiku. Aku merasa kesal, marah, kecewa dan ingin memukul seseorang rasanya.
__ADS_1
"Kenapa Mama masih berhubungan dengan Pram? Kan sudah Papa larang waktu tu. Apa makasud Mama hah!!!" Suaraku mulai tinggi.
Istriku hanya diam.
"Jawab Ma!!!" Aku memegang lengannya kasar.
Istriku menatapku.
"Papa mau tahu jawabannya? " Kata istriku dengan mata berkaca-kaca.
Kulepas pegangan tanganku, dan aku duduk lemas. Aku mengangguk.
"Pa... Mama sayang ma Pram, dan itu sudah mama katakan waktu tu ke Papa. Rasa itu tumbul karena rasa yang Pram punya untuk Mama. Dia menyayangi mama apa adanya. Dan dia sayang ma mama sejak dulu Pa. Sementara Papa? Apakah Papa mau menerima mama apa adanya? Gak kan... Dulu mungkin benar Papa sayang ma mama waktu mama masih muda, tapi setelah mama punya kekurangan Papa berkeinginan untuk menikah lagi."
"Ma... Kamu sadar gak yang kamu katakan?" Kataku dengan rasa yang sangat sakit, aku dibandingkan dengan Pram.
"Tolong biarkan mama selesaikan kata-kata mama." Pinta istriku.
Aku diam.
"Rasa yang kami punya beda Pa... Tidak seperti yang Papa bayangkan, ini sudah pernah mama katakan. Kami bukan seperti apa yang papa bayangkan. Maafkan Mama... Tolong jangan bahas ini lagi. Dan kalau Papa keberatan dengan sikap Mama, mama minta tolong maafkan mama."
__ADS_1
Aku diam. Aku tak tahu harus ngomong apa. Aku diam saja sampai akhirnya istriku minta sebaiknya pulang saja karena hari sudah mulai gelap.
Hmmmm.... Aku menarik nafas panjang. Di sepanjang perjalanan pulang, kami sama-sama diam dan masing-masing sibuk dengan pikirannya masing-masing.