
Aku terbangun karena Kardi membangunkanku.
"Nyenyak banget tidurnya. Aku tadi sampe takut bangunin. Tapi aku bangunin karena pak Pram ngigau."
"Makasi Kang...aku tadi tu gak bisa tidur awalnya. Tapi mungkin karena aku ngantuk banget akhirnya aku tertidur juga." Kataku dan tertawa.
Kardi tertawa kecil.
"Iyaa Pak... Tadi Pak Pram ngigaunya lama banget. Jadi aku bangunin aja. "
"Oh iya? Aku memang punya kebiasaan ngigau Kang... Tapi tadi aku ngomong apa aja Kang? " Kataku sambil melihat jam di handphone ku.
" Wuih .... Amburadul pokoknya. Pak Pram bilang maafin apaaaa gitu.Terus nyebut mamak, nyebut siapa laginyaa tadi... eh nyebut nama mbak Pipin juga trus pak Pram ada juga nyebut nama siapa yaa... Aku lupa.. Ra Ra gitu... " Kata Kardi menjelaskan.
Aku bengong.
"Hmmmm aku nyebut nama banyak orang yaa..." alAku kemudian tertawa.
"Aku ingat, Pak Pram nyebut nama Ara.... Yaa bener Ara... Siapa si itu..." Kata Kaedi ingin tahu.
"Ooh itu yaa... Sudah lah Kang... Lupakan... Aku hajya asal sebut aja. Tapi aku gak tahu Kang, dari tadi aku tiba-tiba merasa gak tenang aja. Aku gak tahu aku kenapa. Hmmm..." Aku menghela nafas panjang.
" Iyaa Pak... Udah... Tenang aja Pak. Toh orderan ini lagi banyak-banyaknya. Usaha kita akhirnya jalan yaa Pak."
"Iyaa... Aku senang sekali Kang... Akhirnya aku bisa membuktikan kalau aku bisa sukses walaupun aku harus merangkak untuk ke sini nya."
" Iyaa Pak... Kita bisa buktikan ke pak Amin, kalau kita bisa berhasil tanpa dia. "
" Hush.... Gak boleh ngomong gitu. Yang penting keberhasilan kita yang sedikit demi sedikit ini kita slalu syukuri Supaya nanti ditambah lagi sama Tuhan. Gitu... Yaa Kang..." Aku menepuk pundak Kardi.
Kardi manggut-manggut.
" Iyaa sudah... Aku harus pulang dulu. Gimana orderan Pak Giyono sudah beres?"
"Sudah Pak... Sudah disiapkan ma istriku. Tu dah dipacking." Kata Kardi sambil menunjuk ke sebuah kotak besar.
"Ooh mantap... Sipp... Makasi yaa Kang... Dah bantuin. Nanti tolong buatin aku rincian yang harus aku bayar, supaya gak numpuk pembayarannya."
__ADS_1
"Iyaa Pak... Nanti malam aku buatin rinciannya yaa..."
"Okey.... Klo gitu aku pulang dulu yaa..." Aku pamit namun aku balik lagi menghampiri Kardi.
"Ada apa Pak Pram?" Tanya Kardi.
"Kang...Kalau aku ada salah , ntah salah ngomong atau salah sikap, tolong dimaafin yaa Kang... " Kataku.
Kardi hanya tertawa dan mengangguk. Tampak Kardi bengong dan memperhatikanku.
"Hati-hati di jalan Pak." Aku mengangguk
Aku kemudian menghidupkan motorku dan berlalu meninggalkan Kardi yang bengong.
Aku melaju pelan menuju kantorku. Di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aku berteduh di sebuah warung kosong.
Aku memarkir motorku agak pinggir supaya tidak kena hujan. Aku duduk di sebuah bangku tua. Di sebelahku ada penjual asongan juga sedang berteduh.
Aku menghampirinya, dengan niat akan membeli sebatang rokok. Namun saat aku sudah berdiri di depan asongan, aku tiba-tiba teringat Ara. Aku mengurungkan niatku untuk beli rokok karena aku tahu Ara gak suka. Akhirnya kau membeli permen Kopi.
Hmmmm.... Aku membuang nafasku dan menutup handphone ku. Kupandangi motor bututku dengan kardus besar di belakangnya.
Handphone kuberdering, ternyata dari istriku. Kuangkat.
"Iyaa Bu... Ada apa?" Tanyaku.
" Papa lagi di mana? Ini hujannya lebat Pa. Ibu khawatir Pa.."
" Iyaa Bu... Ini Papa baru pulang dari rumah Kang Kardi. Papa ambil orderan yang sudah jadi. Pas Papa balik, eeh kejebak hujan. Ini Papa lagi berteduh di sebuah warung."
"Ooh gitu... Iya udah, kalau masih hujan Papa sebaiknya berteduh dulu yaa... "
"Iyaa Bu..."
" Udah yaa Pa... Ibu mau masak dulu, ibu buatin Papa rendang kesukaan Papa."
" Wah... Harum bau eendangnya sampe sini nih...Papa jadi pingin cepet pulang."
__ADS_1
" Iiih Papa ni bisa aja. " Istri terdengar tertawa..
" Bu.... I love you... Papa sayang banget ma ibu. Papa jadi gak sabar pingin cepet sampe rumah ne."
" I love you too Papa sayang.... Iyaa dah sampai ketemu nanti di rumah yaa." Kata istriku mengakhiri telepon.
Selesai telponan dengan istriku, sekilas kulihat foto Ara.
" Kamu selalu muncul Ar....Hmmmm...."
Kupandangi foto profil Ara. Tak sengaja, tombol telepon kutekan. Aku bingung. "Aduh."
Aku langsung mematikan teleponku.
Namun Ara menelpon balik dna kuterima.
"Pram... Ada apa? Kok langsung dimatikan?" Tanya Ara.
" Hmm maaf Ar, aku gak aenganja menekan tombol telepon." Kataku.
Ara terdengar tertawa.
"Iyaa gak apa-apa Pram. Kamu sehat kan?"
" Iyaa Ar, aku sehat. Kamu juga sehat kan." Tanyaku.
"Iyaa Pram, aku sehat."
"Hmm Ar... Maaf yaa... Aku mau lanjut jalan yaa, ini hujannya sudah berhenti. Aku balik ke kantor dulu yaa.."
"Oh iyaa Pram... Hati-hati di jalan yaa..."
" Iyaa Ar... Oh iyaa Ar, jaga dirimu baik-baik yaa... Hmm.." Aku tak melanjutkan kata-kataku.
"Iya... Kamu juga jaga diri baik-baik yaa..."
Telepon kuakhiri dan aku melanjutkan perjalananku.
__ADS_1