
PIPIN
Mungkin karena pengaruh obat, aku jadi mengantuk dan akhirnya aku tertidur.
Namun sekitar 1 jam an aku terbangun karena tenggorokanku tiba-tiba kering, aku terbangun mencari air minum.
Aku bangun dan mengambil minum, kuteguk perlahan supaya aku tidak tersedak.
Kulihat suamiku tidur degan posisi bantal agak tinggi supaya tidak sesak nafas. Aku menyelimuti suamiku.
Saat aku akan menyelimuti tangannya, kulihat tangannya sedang memegang handphone nya.
Aku mengambil handphone suamiku perlahan supaya dia tidak terbangun.
Aku memandang suamiku.
" Maafin aku Pa...Aku banyak menyusahkanmu." Batinku.
Perhatianku tertuju pada handphone suamiku yang sedang ke pegang. Aku membuka pesan yang kebetulan tak sengaja terbuka.
Aku membaca pesan suamiku, ternyata dengan Ara. Kubuka pesannya, hatiku deg-degan... Ada perasaan tak nyaman, namun kuteguhkan hatiku untuk membukanya. Aku menenangkan hatiku terlebih dahulu.
__ADS_1
Ternyata suamiku memakai nomor lain untuk menghubungi Ara.
"Ar
"Ar...Aku sudah lebih baik."
"Syukurlah Pram... Gimana keadaanmu? Aku khawatir Pram."
"Aku baru habis minum obat Ar, maaf aku baru hubungi kamu. Kemarin aku langsung ke dokter spesialis Paru, dan terima kasih banyak bantuanmu itu yaa Ar. Bantuanmu sangat berarti."
"Makasi Pram, kami sudah ke dokter." Pesan Ara.
"Sebenarnya Ar... Aku sudah pasrah dengan sakitku, dan jujur Ar sebelumnya aku merasa setiap malam seperti malam terakhirku. Namun syukurlah hari ini aku membaik, aku sudah merasa lebih enakan. Nafasku sudah tidak sesesak kemarin."
"Iyaa sayangku... Aku sudah penuhi janjiku padamu."
"Makasi Pram. Tuhan mendengar doaku... Aku hanya ingin melihatmu sembuh. Aku tahu kamu lagi sakit parah Pram, dan jujur Pram, perasaanku tak enak dan takut Pram, melihatmu yang selalu sesak nafas. Aku tak bisa membayangkan kalau terjadi hal buruk padamu, bagaimana nasib mbak Pipin dan anak-anakmu."
" Iyaa Ar... Makasi yaa... Aku sudah pakai uang yang kamu transfer itu sebagian, maaih ada setengahnya lagi. Nanti aku transfer balik Ar. Makasih sangat yaa sayang..."
"Sama-sama sayang...Uang sisanya gak perlu kamu transfer balik, pakai untuk kontrol lagi yaah... Pram, sekarang saatnya aku juga memenuhi janjiku. Maafkan aku."
__ADS_1
" Kenapa kamu minta maaf? Apa maksudmu Ar? Janji apa yang kamu maksud?"
Ara mengirim emot sedih.
Aku lanjut membaca pesan antara suamiku dan Ara. Aku menarik nafasku. Perasaanku lebih tenang tidak seperti tadi.
"Ar...Kamu kenapa?" Pesan Pram.
"Pram.... Aku sayang ma kamu, dan aku bahagia melihatmu lebih membaik dan sehat sudah tidak sesak nafas lagi. Sekarang saatnya aku penuhi janjiku pada Tuhanku."
"Maksudmu apa Ar?"
"Pram.... Simak baik-baik pesanku yaa.... Kamu tahu bagaimana aku sangat menyayangimu dan aku tahu bagaimana kamu sangat menyayangiku. Saat kamu sakit kemarin, sesak nafas seperti kemarin, itu membuatku seolah aku juga sesak nafas dan akan mati saat itu juga. Aku merasakan apa yang kamu rasakan. Saat itulah aku memohon pada Tuhan untuk kesembuhanmu. Aku ingin kamu sehat dan sembuh seperti sedia kala, dan aku berjanji pada Tuhan. Sembuhkanlah Pram Tuhanku...Aku ingin Pram sehat demi istri dan anak2nya. Aku bahagia melihatmu sehat dan bahagia bersama istri dan anak-anakmu. Aku ikhlas Pram."
"Apa maksudmu Ar?"
" Aku mempertaruhkan rasa sayang dan cintaku untuk kesembuhanmu pada Tuhanku. Bahagiakan mbak Pipin dan bahagiakan anak-anakmu."
"Ar...Besok aku telpon Ar."
"Maafin aku Pram... Tolong mengertilah... Ini karena aku sangat menyayangimu. Aku sangat menyayangimu.... I love you.... Namun ini yang terbaik buat kita... Untuk kesembuhanmu, untuk mbak Pipin istrimu dan untuk anak-anakmu."
__ADS_1
Itu chatting terakhir suamiku dan Ara. Aku terharu membacanya. Air mataku menetes. Ternyata aku salah mendugamu Ara... Maafkan aku, Bathinku...Ternyata Ara tidak seperti yang kupikirkan.
Aku segera menutup pesannya seolah aku tidak pernah membuka dan membaca pesan mereka.