Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Papa habis nangis yaa?


__ADS_3

Aku bisa mengerti apa ynag dimaksud Ara. Aku tahu dan kenal Ara.


Aku menyelesaikan orderan-orderan yang tertunda karena aku sakit. Aku berusaha untuk semangat namun entah mengapa seperti ada sesuatu yang hilang yang membuatku tak bersemangat.


Aku masih terbayang senyum Ara, tangis Ara dan semua kata-katanya saat menyemangatiku. Huh...


Selesai dari tempat percetakan aku langsung putar bailk menuju kantor.


Di tengah perjalanan handphone ku berbunyi ada panggilan masuk, dari Ara. Aku langsung menerimanya.


"Yaa Ar... ada apa?" Tanyaku.


" Pram.... Yang semangat kerjanya yaa. Aku ingin kamu selalu semangat Pram."


"Iyaa."


"Yaa udah... Hati-hati di jalan yaa... karena ini hari pertama kamu kerja, jangan paksa diri untuk kerja yaa... Aku ingin kamu selalu sehat Pram. Udah yaa..."


"Iya..."


Kemudian telepon kumatikan.


Entah mengapa, aku terharu. Tak kusadari air mata ku menetes. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan hatiku.


Aku bisa merasakan kalau Ara juga berat menjalani ini semua. Namun setelah telpon tadi aku bisa lebih mengerti maksud Ara.


Aku terbayang wajah Ara, aku langsung melakukan panggilan video. Di dering kedua Ara menerima panggilanku.

__ADS_1


Aku melihat mata Ara sembab. Yaa Tuhan, aku tahu ini berat bagi kami berdua.


"Ar..."


"Iyaa Pram..."


"Kita berdua harus kuat jalanin ini Ar... Ini memang takdir kita. Aku akan selalu ada di sisimu. Menemani sampai maut menjemputku. Kita tunduk pada takdir yang sudah kita jalani selama ini...Jadilah istri yang baik Ar..." Aku kemudian mencium kening Ara untuk terakhir kalinya


Ara menangis.


"Iyaa Pram... Jadilah suami yang baik buat mbk Pipin, selesaikan tanggung jawabmu pada keluargamu sebaik-baiknya... Aku ikhlas Pram... Aku tahu ini berat buat kita berdua, tapi dengan kita mengambil keputusan ini aku yakin kita sudah berjalan di jalan yang benar Pram...Tak menyakiti siapapun di atas cinta kita. Sekarang kamu pulang, hati-hati di jalan ..."


Aku mengangguk.


" Dan inget jangan naik motor sambil tidur yaa, ntar nyeruduk lagi..."


" Aku balik ke kantor dulu yaa..." Kataku dan Ara mengangguk. Telponpun kuakhiri.


Aku menghela nafas....


Motorpun kuhidupkan lagi, dan melaju menuju kantor.


Sampai di kantor, Rahma menyambutku dengan memberiku segelas teh hangat.


"Paa .... kok Papa lama yaa.... Adek takut tadi kalau teh yang adek buat untuk Papa jadi dingin."


"Iyaa..Papa tadi nyelesein banyak urusan Dek. Karena Papa terlalu banyak libur kemarin waktu Papa sakit jadi yaaaa mau tidak mau diurus dulu biar beres. Supaya gak numpuk Dek." Kataku dan meneguk teh hangatnya.

__ADS_1


Rahma memperhatikanku dan aku melihat nya.


" Kenapa Dek?" Aku merasa ada yang aneh dari tatapan Rahma.


"Pa.... Papa habis nangis yaa? Kok kayak sembab gitu mata Papa."


Aku langsung mengucek mataku.


"Ah gak lah... Ngapain juga Papa nangis?? "


" Tapi bener deh Pa.."


" Tadi ada binatang masuk ke mata Papa, kelilipan Dek. Jadi Papa kucek-kucek dari tadi. Ini masih pedih dan gatal dikit." Aku mengambil kaca mata hitam dan memakainya.


"Iih Papa ne... Ngapain sih pakai kaca mata gitu juga?" Rahma tertawa.


"Iyaa...Papa ganteng kan... Na kalo pakai kaca mata gak bakal ada binatang masuk ke mata Papa." Aku tertawa.


Rahma tertawa.


"Paa.... Adek senang dan bahagia banget Papa dah bisa balik kerja nemenin adek di kantor. Kemarin adek sendirian... Sepi..."


Aku mengelus rambut Rahma,anakku dan teraenyum.


"Iyaa sayang... Papa juga kepikiran kalau adek sendirian di kantor. Nah sekarang Papa dah sehat, ayo kita beresin kerjaan yang tertuda kemarin. "


Rahma mengangguk.

__ADS_1


Kamipun sibuk menyelesaikan orderan pelanggan.


__ADS_2