Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Ara melahirkan


__ADS_3

Tak terasa sembilan bulan berlalu, usia kandunganku sudah memasuki minggu persalinan. Perutku sudah semakin membesar dan aku sudah semakin susah berjalan. Waktu berusia 7 bulan, dokter sudah memberitahukan jenis kelamin anakku ini laki-laki.


Hari ini aku merasakan sakit di sekitar pinggangku dan sudah mengeluarkan tanda-tanda melahirkan.


"Bang, pinggangku sakit sekali." Kataku sambil memegang pinggangku.


"Mungkin ini dah deket lahiran." Kata suamiku yang kemudian menghampiriku.


Suamiku mengambil minyak kayu kemudian mengoles dan menggosokkannya ke pinggangku.


"Dek, abang telpon kantor dulu yaa. Mau ijin gak masuk."


Aku mengangguk sambil memegang pinggangku yang sakitnya luar biasa.


Setelah selesai menelpon kantor, suamiku mempersiapkan perlengkapan persalinan yang akan dibawa ke rumah sakit. Kemudian suamiku menelpon taxi.


Tak berapa lama mobil taxi datang.'6 Muhlas segera membawaku ke rumah sakit, aku ditemani ibu mertua saja. Mamaku masih dalam perjalanan, menyusul katanya.


Sesampainya di rumah sakit, perawat langsung memeriksaku. Dan aku disuruh menunggu sampai bukaannya lengkap. Aku jalan-jalan di depan kamar supaya proses persalinannya cepat.


Beberapa jam kemudian aku merasakan sakit yang sangat hebat dan ada lendir yang keluar merembes dari daerah kewanitaanku.


Perawat memeriksaku lagi, dan katanya bukaan sudah lengkap. Dokter tampak sudah bersiap-siap membantu proses persalinanku.


Kurang dari 7 menit aku sudah melahirkan bayi laki-lakiku. Aku melahirkan secara normal. Aku dan Muhlas sangat bahagia. Begitu juga dengan ibu mertua dan mamaku.


Setelah Dokter selesai menjahit jalan lahir dedek bayi, aku dipindahkan ke ruang nifas.

__ADS_1


Di kamar sudah ada ibu mertua dan mamaku menunggu.


"Syukurlah sayang... Persalinanmu berjalan lancar..." Mama mencium keningku dan mengusap kepalaku.


Aku tersenyum dan kulihat ibu mertuaku juga tersenyum bahagia.


"Makasi yaa ma, bu.. sudah temenin Ara lahiran." Kataku sambil tersenyum.


Aku disuguhkan susu oleh perawat.


"Nyonya Ara.... silahkan diminum susu ma kuenya..." Kata perawat yang membawakan aku segelas susu dan 2 potong kue.


"Makasi..." Jawabku.


Kemudian aku meminum susu dan memakan kue yang ada di meja. Ibu mertua membantuku.


"Bu... Bayi Ara belum bisa dibawa ke sini kah?"


"Sebentar yaa nak... Mungkin masih dibersihkan sama perawat." Kata ibu mertuaku.


"Tunggu yaa, coba mama tanyakan ke perawat jaga yaa.." Mama beranjak keluar kamar.


Tak berapa lama perawat masuk menggendong seorang bayi.


" Selamat siang ibu Ara... Dicari sama dedek ganteng ne..." Kata perawat dan memperlihatkan aku seorang bayi putih montok.


"Mat siang mbk... Eeeh dedek kangen mama yaa..." Kataku sambil tersenyum dan mengambil alih gendongan perawat.

__ADS_1


Aku memangkunya, posisiku masih di tempat tidur. Aku bahagia sekali melihat dedek montok, putih bersih.


"Bu.. siapa ne Bu... Cucu ibu ganteng bu... " Kataku dan memperlihatkan adek bayi yang aku gendong ke ibu mertuaku.


"Cucu ibu ganteng sekali.." Kata ibu mertuaku sambil mencium keningnya.


"Ara... Sekarang coba kamu susui yaa.. " Mama mengusap keringatku.


"Ya ma..." Taoi aku ragu dan malu membuka bajuku. Mama dan ibu tersenyum.


"Kenapa malu sayang... sekarang coba kamu susui... Kasihan sepertinya cucu ibu lapar tu..." kata ibu mertuaku sambil tersenyum.


Aku tersenyum, dan aku mencoba memberi asi pertama ke bayiku. Mama membantu supaya adek bayi bisa pas mimiknya.


Aku bahagia sekali, saat bayiku berhasil menyedot asiku. Karena lapar, bayiku terus mimik sampai akhirnya tertidur.


Aku memandang wajah bayiku. Putih bersih, dan montok. Rambutnya ikal.


Tak berapa lama suamiku datang sambil membawa bungkusan. Sepertinya suamiku membeli nasi bungkus untuk makan siang. Suamiku membeli 3 bungkus nasi.


Suamiku memberikan nasi bungkus yang dibelinya kepada ibu dan mama. Kemudian mempersilahkan menyantapnya.


Kemudian mama dan ibu mertuaku keluar kamar sambil membawa nasi bungkus dan air botolnya.


Suamiku menghampiriku dan mengecup keningku.


"Makasi sayang... Kamu sudah memberiku bayi laki-laki yang sehat dan ganteng." Suamiku mengelus kapala bayiku.

__ADS_1


Aku tersenyum. Aku bahagia melihat suami tersenyum bahagia.


__ADS_2