
ARA
Keputusan yang kuambil bukanlah hal yang mudah untuk kulakukan. Begitu juga dengan Pram. Aku tahu ini sulit juga baginya.
Namun kesadaran akan tunduk pada kehendak dan takdir Pemilik waktu membuat kami berusaha berjalan pada jalan putih yang ada di depan.
Aku yakin ini keputusan terbaik untuk aku dan Pram dan juga untuk keluarga masing-masing.
Aku menyibukkan diri dengan bertanam bunga.
Seminggu lebih Pram tak pernah menghubungiku. Ada rasa ingin tahu bagaimana kabar Pram, namun semua kulabuhkan dalam doaku.
Sore itu aku sedang bertanam binga di halaman rumahku.
"Ma... Bunga-bunganya bagus yaa... Bikin Papa betah diem di rumah."
Aku tersenyum dan melanjutkan aktivitasku.
"Ma... Ini tehnya keburu dingin. Di minum dulu dong...." Kata suamiku.
Aku kemudian mencuci tanganku dan duduk di lantai. Posisiku duduk di bawah sementara suamiku duduk di kursi taman.
Aku meminum tehku dan bersandar di kaki suamiku.
"Ma... Papa lihat sekarang Mama suka tanam bunga. Kenapa nih, lagi berbunga-bunga yaa..."
__ADS_1
Aku tertawa kecil mendengarnya.
"Pa... Mama ingin memulai sesuatu yang baru, mama pingin lihat rumah ini asri dan enak dipandang, jadi orang-orang didalamnya juga akan betah."
" Wah ini nyindir Papa yaa...." Kata suamiku sambil menyuapiku sepototong kue kering.
"Gak niat nyindir kok Pa... Mama cuma pingin rumah ini asri aja. Tapi yaa syukurlah kalau Papa jadi betah di rumah." Aku tersenyum kecil.
"Maa.... Maafin Papa yaa... Papa akan lebih berusaha lebih banyak waktu untuk kita."
Aku menatap suamiku.
"Hmmm... Mama lanjutin dulu tanam bunganya yaa Pa.. Takut ntar keburu gelap." Kataku beranjak dari dudukku. Suamiku mengangguk dan tersenyum.
"Oh iyaa Ma... Papa mau pergi antar Azka ma Arini ke Mall dulu yaa.. Tadi Papa janji nganter mereka."
"Iyaa Ma.. Siap."
Tak berapa lama Azka dan Arini muncul dan bersiap-siap akan pergi.
"Mama beneran gak ikut nih? " Tanya Arini.
"Iyaa dek.. Kali ini Mama gak ikut sayang... Maafin mama yaa.. Habis tanggung, lagi 2 bunga belum Mama tanam." Kataku dan mencium rambut anak-anakku secara bergantian.
Akhirnya tinggallah aku sendiri. Aku melanjutkan menanam bunga.
__ADS_1
Selesai bertanam bunga aku mandi. Tak sampai 5 menit aku dah selesai dan aku duduk bersantai di tempat tidurku.
Aku mengambil handphone ku, karena ada panggilan masuk.
Kulihat dari nomor pribadi Pram. Wah ada apa, kok sekarang Pram berani menelponku pakai nomor pribadinya.
Aku diam sesaat. Aku menarik nafas. Di panggilan ke tiga narulah kuangkat telponnya.
Pram mengawali dengan mengucapkan salam dan akupun membalasnya.
"Ara... Apa kabar?"
Aku gugup.
"Aku baik-baik saja Pram. Kamu sendiri gimana? Sehatkah?"
"Aku juga sehat Ar...."
"Hmmm... Gimana keadaan mbak Pipin? Sehat-sehat juga kan?" Aku berbicara agak terbata-bata mungkin karena aku gugup.
"Aku sehat Ar..."
Aku kaget bukan kepalang karena yang menjawab mbak Pipin langsung.
Aku terdiam...
__ADS_1
"Ara.... Aku sehat Ar... dan aku senang kamu juga dalam keadaan sehat." Kata mbak Pipin mengulangi kata-katanya di telepon.
"Oohh syukurlah Mbak... Aku senang mendengarnya. Aku senang Mbak Pipin dan Pram dalam keadaan sehat. " Kataku. Aku mencoba merilekskan pikiranku.