Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Lega


__ADS_3

Melihat Ara tidur seperti itu, perasaan takutku muncul. Aku takut Ara meninggalkan aku.


Kupandangi wajah istriku yang tampak pucat. "Aku mencintaimu sayangku"...Bathinku.


Aku sudah mengabari bibi' yang menemani anak-anakku di rumah, kalau malam ini aku tidak pulang.


Aku tertidur sambil menggenggam tangan istriku.


Sekitar jam 9 malam, aku terbangun... Aku tertidur hampir 1 jam an. Aku terbangun karena ada telepon masuk, ternyata dari anakku, Aldi.


Aku menerima panggilan teleponnya.


"Pa.... Gimana keadaan Mama? Aldi khawatir Pa."


" Mamamu sudah membaik. Kamu doakan saja yaa... Belajar yang baik supaya ujian semesteranmu bisa dapat hasil yang bagus." Kataku.


"Iyaa Pa....Always Pa... Aldi selalu doakan Mama dan Papa. Ini Aldi lagi sama Arjun."


"Ooh iyaa, wah lagi ngumpul rupanya." Kataku.


"Iyaa Pa..." Aldi mengganti ke panggilan video dan kuterima.


"Pa... Arjun pingin liat Mama... " Kata Arjun.


Aku mengangguk dan mengarahkan kamera handphone ku ke arah Ara, mamanya.


" Maa... Cepet sembuh Ma..." Kata Arjun dengan tatapan sedih.


Aku dan Aldi mengaminkan.


" Doakan Mama mu yaa Nak...Smoga mama cepet sehat... "


" Iya Pa..." Kata Aldi dan Arjun hampir bersamaan.


Ara tetap tidur.


" Pa... Aldi ma Arjun rencana mau balik pulang hari minggu. Boleh kan Pa..." Tanya Aldi.


" Ooh... Hari sabtu tu kalian dah selesai ujian yaa..." Tanyaku.


" Iya Pa ... Aldi selesai hari Sabtu pagi Pa.. Kalau Arjun selesai ujiannya Sabtu sore .. Jadi Minggu pagi kami bisa pulang. Itu rencananya Pa." Kata Aldi menjelaskan.


"Syukurlah... Nanti Papa booking kan tiket pesawatnya yaa."

__ADS_1


"Iyaa Pa...Makasih Pa." Kata Aldi.


Kemudian kami ngobrol seputar ujian semesteran mereka. Sekitar setengah jam kemudian panggilan diakhiri Aldi.


Aku lega, akhirnya anak-anakku bisa segera pulang. Smoga kepulangan Aldi dan Arjun bisa menjadi obat kesembuhan Ara.


Aku membuka pesan-pesan yang masuk. Dan kulihat ada pesan dari mbak Pipin, istri Pram.


Aku membukanya.


"Mat sore Pak.... Ini aku Pipin." Aku melihat jam berapa Pipin mengirim pesan. Ternyata pesan dikirim sore.


Aku dari tadi belum sempat membaca pesan-pesan yang masuk. Aku lanjut membaca pesan mbak Pipin.


" ...Gimana keadaan Dek Ara? Sudah ada perkembangan? Aku doakan smoga keadaannya membaik ."


Aku menghela nafas, dan membalas pesannya.


"Mat malam mbak... Maaf baru baca pesannya. Ara keadaannya belum ada perubahan. Bahkan tadi sempat drop. Aku berharap keadaannya bisa segera membaik."


Pesanku langsung dibaca.


"Yaa Tuhanku... Smoga keadaannya segera membaik Pak. Tolong jaga Ara baik-baik ."


Aku duduk berdoa pada Tuhanku, memohon kesembuhan istriku.


****


PRAM


Hari berlalu, ini hari ketiga setelah aku mendapat kabar dari istriku kalau Ara keadaannya kritis.


Aku merasa tak bersemangat melalui hari-hariku. Aku merasa tak berdaya dengan keadaanku. Andai aku punya kelebihan materi, aku ingin terbang bersama istriku untuk menjenguk Ara. Aku ingin ada di sampingnya.


"Pa.... Sarapannya dimakan dulu...Nanti kalau dingin gak enak Pa." Kata istriku mengagetkanku.


"Ooh iyaa Bu... Ini Papa lagi mau makan."


Aku berusaha menyembunyikan perasaan resahku di istriku. Aku tak ingin melukai hati dan perasaannya.


Aku kemudian menyantap sarapanku, dengan sedikit kupaksa untuk menghabiskannya.


Istriku tampak senang, karena aku sudah menghabiskan sarapanku.

__ADS_1


" Pa ... Tadi Adek berpesan, kalau Papa nanti langsung ke percetakan saja, baru balik ke kantor."


"Ooh iyaa Bu .. Makasi sudah mengingatkan. Kemarin Papa sudah omongin ma Adek kok. Sekarang Papa siap-siap dulu yaa..."


Istriku mengangguk.


Tak lama kemudian aku sudah siap akan ke percetakan.


"Bu... Papa jalan dulu yaa... Inget, ibu jangan terlalu capek. Nanti siang ibu gak usah masak ya... Nanti Papa bepikan lauknya di warung, ibu tinggal masak sayur aja yaa..." Aku mengecup kening istriku.


"Iyaa Pa... Papa naik motornya pelan-pelan yaa..." Istriku menyalamiku.


Aku menghidupkan motorku dan beranjak pergi meninggaokan rumahku.


Di perjalanan aku menelpon anakku dulu.


"Dek... Papa langsung ke percetakan yaa..."


"Iya Pa... Nanti tolong Papa buka pesan adek yaa... Di situ sudah adek tulis apa-apa yang perlu Papa beli." Kata Rahma.


" Ooh... Siap bosku..." Kataku.


"Iih Papa nih... Kok ngomong gitu sih .. Kan adek dah bilang minta tolong."


Aku tertawa. "Iyaa Dek... Kan adek memang Papa siapkan untuk jadi bos.. Semangat yaa Dek..."


Rahma tertawa.


Kemudian telpon kuakhiri. Sebelum melanjutkan perjalanan, aku mencoba menelpon Muhlas, suami Ara.


"Iyaa Hallo... Pak Pram?" Kata Muhlas menjawab telponku.


"Mat pagi Pak ... Maaf mengganggu. Aku cuma menanyakan keadaan Ara. Apakah Ara sudah membaik?"


"Iyaa syukurlah... Ara sudah melewati masa kritisnya. Sekarang keadaannya sudah membaik..."


"Ooh syukurlah... Istriku titip salam untuk Ara... Smoga Ara cepet sembuh yaa ..."


"Aamiiin..." Kata Muhlas.


Kemudian setelah ngobrol-nhobrol kecil dengan Muhlas, telepon kuakhiri.


Aku melanjutkan perjalananku ke percetakan. Namun sekarang aku lebih bersemangat, karena Ara keadaannya semakin membaik.

__ADS_1


Lega rasa hatiku... "Semangat Ara, kamu harus sembuh ..." Bathinku.


__ADS_2