Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Maafkan aku suamiku


__ADS_3

ARA


Aku menunggu pesan dari Pram. Kemarin malam Pram sama sekali tidak online dan hingga pagi ini Pram belum juga aktif.


Aku semakin gelisah, karena ini bukan kebiasaan Pram apalagi aku tahu Pram lagi kurang sehat. Aku ingat bagaimana Pram kemarin agak susah bernafas.


"Pram.... Gimana keadaanmu Pram...Aku khawatir...Ya Tuhanku..." Gumamku.


Dari tadi pagi, aku tak bisa konsentrasi dalam bekerja. Pikiranku selalu ke Pram.


"Siti.... Tolong bantu ibu... Siti standby di toko yaa... Ibu mau istirahat di kamar." Kataku.


"Iyaa Bu...Siti buatkan teh yaa bu?"


"Iyaa Siti... Makasih yaa..." Aku menuju kamar dan kurebahkan tubuhku.


Aku membuka pesan-pesan di handphone ku, namun tak ada pesan dari Pram. Hmmm... Aku menghela nafasku.


Aku membuka chatting-chattingku dengan Pram di nomor telpon Pram yang baru. Aku membaca pesan-pesan Pram. Kubaca berulang-ulang dan tak terasa aku menangis.


Begitu besar rasa sayang dan cinta Pram untukku. Aku bahagia menjadi bagian dari belahan hatinya. Walaupun aku sadar semua itu terlalu egois.


Pram memiliki istri yang baik dan sangat menyayanginya begitu juga aku. Kami berdua memiliki pasangan dan keluarga yang harmonis.

__ADS_1


Namun rasa ini, mengapa bisa ada? Apakah ini hanya perasaan sesaat saja? Sementara Pram, dari dulu sampai sekarang tak pernah berhenti menyayangiku bahkan cara Pram menyayangiku jauh lebih besar dibandingkan dengan suamiku. Maafkan aku suamiku, aku membandingkanmu dengan Pram.


Semua perasaan Pram bisa aku rasakan. Rasa sayang dan cintanya melebihi rasa sayang dan cinta suamiku.


Dari semua kejadian-kejadian yang telah lalu, aku sadar bahwa kehadiran Pram bisa membuatku bersemangat kembali walaupun jarak kami sangat jauh. Namun rasa sayang dan cinta Pram terasa sungguh besar untukku.


Aku bermain-main dengan perasaan dan logikaku sendiri. Dan tiba-tiba masuk pesan berturut-turut 4 kali. "Ooh .... Semoga ini pesan dari Pram " Angkanku. Dan ternyata benar, aku lega dan langsung kubuka.


"Ar... Aku Meriang lagi Ar. Maaf aku gak bisa menghubungimu. Dari kemarin malam aku merasa badanku sakit sekali dan kepalaku sakit Ar..."


"Kemarin aku tidur saja di rumah."


"Aku gak ke kantor, istirahat."


"Ini aku sempatkan menghubungimu....I love you..."


"Pram...Aku khawatir keadaanmu Pram..."


"Sekarang kamu di mana?"


Kemudian kami saling berbalas pesan.


"Aku di kantor Ar. Hari ini adek gak ke kantor, jadi aku langsung menghubungimu. Maafin aku yaa..."

__ADS_1


"Aku boleh telpon Pram?"


"Aku ditemeni Yusuf Ar. Aku gak enak ma Yusuf kalau kita telponan. Maafin aku."


"Iyaa Pram... Gak apa-apa. Tapi sebaiknya nanti kamu ke dokter lagi...Ya...Supaya jelas kamu tu sakit apa, dan dokter bisa seera nolong kasi obat yang benar."


"Iya Ar ..." Kata Pram.


"Aku khawatir Pram... Yaa Tuhanku...aku gak tenang Pram." Kataku.


"Sayangku.... Jangan berfikir macam-macam. Tetap tenang yaa sayang... Ini sudah jadi kehendak Tuhan. Kamu jangan terlalu memikirkannya. Aku gak mau kamu sakit Ara."


"Aku ingin aku yang merawatmu Pram. Aku tak berdaya. Aku gak tahu apa yang harus aku lakukan."


"Aku ngerti sayang... Doamu untukku itu sudah lebih dari cukup sayang... Yang terpenting, jaga dirimu untukku. Iyaa...I love you..."


"Iyaa Pram...Aku akan mendoakanmu, selalu ..."


"Makasi sayangku.... Udah dulu yaa... Nanti aku kabari lagi."


"Iyaa Pram... Tapi janji ke dokter lagi yaa...Aku mau kamu sehat Pram, benar-benar sehat."


"Iyaa sayang... Aku akan ke dokter lagi nanti , udahan dulu yaa..."

__ADS_1


Akhirnya, berbalas pesan kami akhiri. Aku meminum teh hangat yang dibuat Siti. Aku menenagkan pikiranku lagi.


Aku hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Pram, hamya itu yang bisa aku lakukan.


__ADS_2