Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Pram sudah cerita semuanya


__ADS_3

Aku merasa aneh, mengapa tiba-tiba mbak Pipin,istri Pram menelponku. Ada masalah apa lagi.


Bermacam-macam perkiraan ada di di kepalaku mereka-reka apa sebenarnya yang terjadi.


"Ara... "


"Iyaa Mbak..."


" Sudah lama aku ingin telepon kamu, tapi Pram gak ngijinin. Hmmm... Ara..."


Aku mulai dag dig dug. Aku akan disemprot lagi kah seperti dulu? Aku mulai merasa gak nyaman.


" Iya mbak..." Aku berfikir sebaiknya aku bersabar, mendengarkan apa maksud mbk Pipin menelponku dan menjawab sesuai pertanyaan aja.


" Ara... Maafin aku yaa... Aku pernah berkata kasar dan gak pantas padamu waktu itu. Aku benar-benar minta maaf."


Aku menyimak kata-kata mbak Pipin di telepon.


"Tolong kamu dengarkan dulu apa yang kukatakan yaa.."


"Iya mbak."


" Awalnya aku sulit menerima kenyataan bahwa suamiku menyukai kamu dan bahkan sangat mencintaimu. Tapi sekarang aku bisa mengerti mengapa suamiku sangat menyayangimu. Pram sudah menceritakan hubungan kalian dulu sewaktu kalian masih di SMA."


Aku tiba-tiba menangis.


"Jangan nangis Ar... Aku tahu kamu bukan seperti yang aku tuduhkan dulu. Aku kenal siapa suamiku, aku tahu benar bagaimana sifatnya. Yaah.... Inilah takdir Ar. Takdir yang akhirnya mempertemukan aku dengan kamu. Aku senang bisa mengenalmu. Maafin kata-kataku dulu yaa..."


"Aku yang minta maaf mbak. Mbak Pipin gak salah, aku yang salah. Maafin aku mbak. Aku sudah merusak kebahagiaan mbak dengan Pram. Maafin aku. Aku benar-benar minta maaf."


"Aku yang minta maaf Ar... aku sudah berkata yang gak pantas aku ucapkan. Maafin aku yaa..." Kata mbak Pipin yang kedengarannya juga sedang menangis.


"Aku yang salah mbak... Maafin Aku.." kataku sambil menangis.

__ADS_1


"Sudahlah Ar... Pram sudah cerita semuanya. Sekarang aku bisa mengerti dan memaafkan kamu dan suamiku. Aku salah mendugamu Ar... Maafin mbak yaa..."


"Mbak Pipin gak salah... Aku yang salah mbak."


Aku tetap mengulang kata-kata itu. Karena dengan alasan apapun aku tetap salah.


"Sudahlah... Yang sudah lalu kita lupakan ya... Kamu mau kan jadi adikku Ar..."


Aku tambah sesegukan.


" Ara..."


"Iya mbak... Bener mbak Pipin mau memaafkan aku?" Tanyaku.


"Iyaa Ar... Kita saling memaafkan yaa.... Kamu mau kan jadi adikku kan..."


"Iyaa Mbak... Aku seneng banget mbak. Makasi yaa mbak..."


Kemudian pembicaraan aku dengan mbak Pipin mengalir begitu saja.


"Iya udah Ar... Besok kapan kita telponan lagi yaa... Ini Pram katanya dah mau jalan ke percetakan."


"Iya mbak..."


Telponpun dimatikan mbak Pipin.


Ada perasaan lega dalam hatiku. Akhirnya mbak Pipin memaafkan ku dan bahkan menganggapku sebagai adiknya.


Aku sangat bersyukur, dan itu sangat tidak kuduga. Itu semua di luar perkiraanku.


Ada pertanyaan, mengapa sikap mbak Pipin berubah seperti itu. Apakah sesuatu terjadi? Namun aku berfikir sebaiknya aku tak perlu tahu alasan yang membuat mbak Pipin berubah sikapnya.


Beberapa jam kemudian suamiku dan anak-anak pulang dari Mall.

__ADS_1


"Ma... Ini lalapannya. Tadi kita beli buah juga Ma.. Buah kesukaan Mama.."Kata Arini sambil memberiku bungkusan lalapan dan bungkusan buah


kepadaku.


Aku melihat bungkusan buah yang di tanganku, dan kuliat isinya. Aku tersenyum.


" Makasih jeruknya yaa Dek..."Kataku sambil mencium rambut Arini dan Arini memelukku.


Kamipun makan malam bersama.


Selesai makan malam, anak-anakku langsung balik ke kamarnya sedangkan aku dan suamiku duduk di teras.


Aku memandang bunga-bunga yang sudah aku tanam tadi sore. Tampak hidup dan subur.


Aku dan suamiku ngobrol mengenai anak-anak dan pekerjaan kami masing-masing.


****


PRAM


Setelah selesai telponan dengan Ara, aku duduk di dekat istriku.


"Pa.... Makasi yaa sudah kasi kesempatan Ibu ngomong ma Ara."


"Iyaa Bu... Papa senang sekarang ibu sudah gak marah-marah ma Ara lagi. Tapi...." Aku tak melanjutkan kata-kataku.


"Tapi apa Pa? Papa pasti heran yaa kenapa ibu bisa berhenti marah ma Ara? Iya kan..." Kata istriku sambil tersenyum.


Aku tersenyum dan mengangguk.


" Pa... Ibu kenal dan tahu, siapa suami ibu. Ibu sangat kenal kamu Pa. Aku tahu kamu. Maafin aku yaa Pa..."


Aku lega akhirnya Pipin dan Ara berbaikan.

__ADS_1


__ADS_2