Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Hanya bisa berdoa


__ADS_3

Aku duduk lemas di pinggir tempat tidurku. Aku menutup mukaku dengan kedua tanganku.


Ara dirawat di rumah sakit.


Setahuku, Ara tak pernah sakit sampai harus di rawat di rumah sakit , berarti kali ini Ara sakit parah.


"Pa..." Kata istriku membuyarkan lamunanku.


"Iyaa Bu...Iyaa, semoga Ara cepet sembuh."


Istriku menggenggam tanganku.


"Amiin...."


Aku memeluk istriku. Aku ingin berteriak, aku ingin menangis namun kutahan semua. Satu keinginanku dalam hatiku, aku ingin di dekat Ara.


"Pa... Ibu buatin teh hangat, mau?"


Aku menggeleng dan tetap memeluk istriku. Aku menghapus air mata yang akan jatuh, karena aku tak ingin menyakiti hati istriku.


"Paaa..." Istriku melepas pelukanku.


Aku menatap istriku.


"Maafin Papa, Bu..." Aku kemudian menunduk dan duduk lagi di pinggir tempat tidurku.


Istriku mengelus rambutku.


"Kita doakan Ara cepet sehat yaa Pa .. " Aku mengangguk.


Aku menghela nafas ...

__ADS_1


" Makasi Bu... I love you... Makasi..." Kataku.


Aku sangat beruntung memiliki istri seperti Pipin dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dia miliki.


Aku tak tahu sejak kapan istriku berubah. Yang kutahu sejak aku sakit, istriku sudah berbaikan dengan Ara. Mereka kerap kali telponan.


Dan kulihat istriku sangat sayang pada Ara.


" Bu .. Papa balik ke kantor dulu yaa... Adek mungkin nungguin Papa di luar."


" Menurut ibu, sebaiknya Papa gak usah balik ke kantor dulu. Di rumah aja, istirahat." Kata istriku.


" Papa harus selesaikan 2 gambar dulu Bu, biar kerjaan gak numpuk. Biar bisa langsung dibawa ke percetakan ma Rahma." Aku bersiap-siap ke kantor.


"Iyaa sudah kalau begitu. Papa hati-hati bawa motornya yaa..."


Istriku mengambilkan jaketku.


Rahma sudah menungguku di teras.


"Kak Sabila sekarang ada ngisi les di bimbel X Pa...Jadi mungkin gak ke kantor." Kata Rahma.


" Oh iya sudah. Kita jalan yuk..."


Rahma mengangguk dan menyalami ibunya.. Kamipun berangkat ke kantor.


Sampai di kantor aku berusaha menyelesaikan gambar yang harus aku serahkan ke percetakan.


Aku berusaha mengesampingkan pikiran-pikiranku tentang Ara. Karena aku tahu, kegelisahanku tak akan merubah keadaan. Aku tak mau menyakiti perasaan istriku. Istriku sudah begitu baik dan aku sangat menyayanginya.


Aku hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Ara. Semua aku serahkan pada Pemilik Waktu.

__ADS_1


"Pa.... Sudah selesai gambarnya?" Tanya Rahma.


"Sudah Nak... Lega rasanya Papa... Akhirnya selesai juga." Kataku.


Rahma meminta aku yang membuat gambar itu karena memang gambar yang direques pelanggan agak sulit.


"Keren.... Papa hebat... Ajarin adek yaa Pa... Gimana cara buat gambar seperti itu."


Aku tersenyum. "Iyaa Dek..."


Aku menerangkan pada Rahma cara membuat gambar seperti itu. Dan Rahma cepat sekali paham akan apa yang kuterangkan. Mungkin karena keinginannya yang kuat membuatnya bisa cepat paham.


"Yeeee Adek dah bisa juga buat gambar seperti itu." Teriak Rahma senang.


Aku mengelus rambutnya.


" Hebat anak Papa..."


Rahma tersenyum.


"Dek, biar Papa dah yang bawa gambar ini ke percetakan yaa... Adek di kantor aja yaa..."


"Gak Pa... Biar adek aja... Papa kan belum fit benar. Selain itu, ibu juga pesan ke Adek kalau Papa gak boleh pergi jauh-jauh dulu supaya Papa bener-bener sehat."


Aku tersenyum, " Iyaa sudah... Papa nurut. Tapi Adek harus hati-hati yaa..."


"Siap Pa.. Adek jalan dulu yaaa...."


Rahma langsung pergi ke percetakan.


Aku melihat profil Ara. Ternyata Ara aktif tadi siang aja. Berarti Ara aktif saat suami Ara menelpon istriku.

__ADS_1


Aku menatap wajah teduh Ara... Cepat sembuh Ara...Aku ingin melihatmu sehat Ar....Doaku...


Aku kemudian menyibukkan diriku dengan orderan-orderan yang harus disiapkan gambarnya.


__ADS_2