
Aku pergi mencari Pipin ke rumah saudaranya yang tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah kami.
Aku yang tadi sakit dan kepala berat banget akhirnya sembuh seketika. Aku mencari Pipin ke rumah saudara dan teman-teman dekatnya, tapi aku tak menemukannya.
Aku duduk lemas di pinggir jalan.
Aku merasa bersalah. Aku sudah menyakiti istriku. Aku membuat rumah tanggaku berantakan. Anak- anak menyalahkanku, dan sekarang istriku membenciku.
Hari semakin gelap. Aku belum juga menemukan istriku. Aku menelpon Rahma menanyakan apakah ibunya sudah pulang atau belum. Tapi ternyata Pipin belum pulang.
"Kemana kamu pergi Pin." Batinku. Tak terasa aku menangis.
Tiba-tiba anakku Rahma menelpon.
"Pa... Ibu sudah adek temukan. Sekarang ibu dah di rumah aama adek ne. Papa pulang dah." Kata Rahma.
"Ooh iya Dek. Papa pulang sekarang. Dek, tolong adek buatin ibu teh manis hangat yaa. Jaga ibu. Ini Papa balik pulang." Kataku.
"Iya Pa. Hati-hati di jalan Pa."
__ADS_1
Aku langsung balik pulang. Sekitar 20 menit, akhirnya aku sampai di rumah.
Aku langsung mencari istriku. Aku melihat istriku tampak lusuh berantakan. Aku langsung memeluk istriku.
"Maafin Papa, Bu... Papa bersalah. Papa dah nyakitin Ibu. Maafin Papa." Kataku sambil menangis.
Aku sedih sekali melihat keadaan istriku. Aku merasa bersalah.
Pipin menangis di pelukanku.
"Maafin ibu, Pa... Ibu sadar ibu banyak kekurangan jadi Papa berpaling dari ibu. Ibu sering mengabaikan Papa. Maafin Ibu iyaa." Kata Pipin lembut dan penuh penyesalan.
"Ibu kemana tadi? Papa khawatir. Papa cari kemana-mana gak ketemu."Kataku sambil mengecup kening istriku.
Pipin menatapku dalam aeolah mencari kesungguhan kata-kataku.
"Ibu tadi jalan aja ikuti kemana kaki ini akan membawa ibu pergi. Sampai akhirnya Rahma temukan ibu. Pa, maafin ibu yaa... Ibu banyak salah sama Papa, ibu tidak pernah memperhatikan Papa. Ibu terbuai akan cinta Papa sampai ibu sering gak perhatian ma Papa, bahkan ibu sering mengabaikan Papa.Maafin ibu yaa..." Kata Pipin sambil mencium tanganku.
Aku memeluk istriku yang menangis tersedu-sedu. Aku sangat sayang dan cinta ma istriku, apapun dan bagaimanapun perlakuan istriku ke aku sudah aku ikhlaskan. Aku ikhlas menerimanya.
__ADS_1
Namun aku mencintai Ara bukan karena sikap dan perlakuan istriku yang kurang baik, tapi karena memang cinta ini sudah ada jauh sebelumnya yang tidak pernah hilang dari tempat spesial di hatiku. "Kamu tidak mengerti rasa cintaku pada Ara Pin..."Bathinku.
Aku menghela nafas panjang. Aku masih memeluk Pipin istriku. Aku menenangkannya yang masih saja menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah Bu, sekarang ibu berhenti nangis yaa, sekarang ibu mandi dulu, habis Papa gak tahan nih ma baunya ibu, bauuu." Kataku sambil tertaqa menggoda istriku.
Pipin langsung cemberut manja.
"Iih Papa... Ibu tu gak bau, yang bau tu Papa. Iii Papa ngeselin." Pipin merajuk.
Aku kemudian memeluk istriku dan mencium rambutnya.
"Gak bau kok. Biar bau, Papa tetep sayang kok." Kataku sambil memeluk istriku dan mengusap-usap punggungnya.
Pipin tersenyum dan aku lihat anak-anakku juga tersenyum.
" Udah ah, Papa bau. Ibu mau mandi dulu." Kata istriku sambil beranjak dan pergi menuju ke kamar mandi.
Aku tersenyum dan lega, akhirnya suasana keluargaku kembali harmonis.
__ADS_1