
Gak terasa 2 jam sudah berlalu, akhirnya kuliah diakhiri dosenku. Teman-teman sudah keluar semua. Tinggallah aku sendiri di salam ruangan. Aku masih duduk di bangku kuliahku. Aku memikirkan apa yang tadi sudah aku lakukan.
"Ooh.. aku sudah menyatakan cinta pada Pipin. Apakah aku benar-benar mencintainya? Terus bagaimana perasaanku pada Ara? Huh..." bermacam-macam pikiran di kepalaku, dan tak bisa aku pecahkan. Aku menutup mukaku. Sungguh aku bingung.
Bayang-bayang Ara bermain-main di mataku. Bayangan saat Ara tertawa sambil mengayuh sepeda, senyum Ara, pandangan Ara yang teduh, sifat anggun dan keibuannya... "Ara... maafkan aku," hatiku memanggil Ara.
"Pram, kamu belum mau pulang?" Suara Pipin memanggilku menghentikan semua pikiran dan kalutku. Pipin menghampiriku.
"Ooh Pin... iyaa baru aja aku mau keluar ruangan ee kamu duluan masuk," jawabku sambil tersenyum. Aku lupa kalo Pipin menungguku selesai kuliah.
Pipin tersenyum kemudian mengajakku jalan pulang.
"Pin, maaf yaa kamu capek nungguin aku. Tumben tu pak dosen full 2 jam ngisi kuliahnya. Biasanya beliau menerangkan 1 jam aja terus sisa waktunya tinggal kasi tugas aja. Sorry yaa..."
"Gak pa-pa Pram, tadi aku menunggunya gak lama kok, gak terasa karena ada Agus yang nemenin."
"Oh iya... Sekarang Agus mana?" tanyaku sambil mataku mencari sosok Agus.
"Agus dah pulang, tadi dia titip salam ma kamu. Oh iya kata Agus nanti malam dia mau maen ke tempat kosmu."
"Agus mau ngapain yaa kira-kira," tanyaku.
Pipin hanya menggeleng.
Kemudian Aku mengajak Pipin pulang. Pipin sering mengantarku pulang ke kos dengan sepeda motornya.
Diperjalanan tiba-tiba gerimis datang. Namun karena letak kos-kosanku sudah dekat jadi aku lanjutin aja perjalanannya. Namun gerimisnya gak lama, sekitar 5 menit sudah reda.
Sesampainya di kos, Pipin bilang, "Pram, kamu masuk duluan yaa, aku mau mampir ke warung dulu."
__ADS_1
Aku memarkir motor Pipin di depan teras kamar kosku. Kemudian aku membuka pintu kamar dan masuk menaruh tas ranselku, kemudian aku keluar lagi.
Tak berapa lama Pipin muncul dengan membawa 2 kresek di tangannya.
"Kamu beli apa Pin, "tanyaku.
"Aku beli mie instan, telur, kopi, teh dan gula pasir Pram. biar besok kalo pas kamu kuliah pagi kamu sudah sarapan dulu di rumah. Biar gak kosong perutnya, " Pipin menjawab sambil menaruh barang-barang belanjaannya di meja kecil.
Aku memandang Pipin dari luar kamarku. Pipin selama ini begitu baik dan perhatian sama aku. Pipin sering memenuhi kebutuhan pokokku di sini, dan Pipin juga yang selalu merapikan kamarku.
Setelah merapikan barang belanjaannya, Pipin melanjutkan merapikan kamarku dan menyapu. Sementara aku menunggu di teras sambil membaca buku kumpulan puisi. Karena tempat kosku penuh dengan tanaman-tanaman hias dan ada pohon mangga jadi kamar kosku terasa sejuk. Gak terasa aku tertidur sambil duduk membaca.
Aku terbangun karena Pipin membangunkan aku. Cuma kepalaku terasa berat dan sakit. Aku memegang kepalaku.
"Ooh kepalaku kok sakit sekali yaa," kataku sambil memegang kepalaku.
Aku berjalan masuk kamar sambil tetap memegang kepalaku. "Mungkin karena aku kena gerimis tadi," pikirku.
"Pram, kamu minum obat dulu yaa supaya cepet sembuh sakit kepalanya" Pipin mencari obat di laci meja belajar.
Aku mengangguk. Kemudian Pipin memberikan obat sakit kepala dan segelas air. Aku meminum obatnya.
"Pin, makasi yaa... Kamu perhatian banget sama aku," kataku sambil memegang tangan Pipin saat Pipin akan mengambil gelas minumku.
Pipin hanya tersenyum. " Aku mencintaimu Pram..."
Pipin duduk pinggir tempat tidurku.
Aku bangun dari tidurku.
__ADS_1
Kutatap mata Pipin, aku melihat cinta dan ketulusannya. Wajah Pipin begitu dekat. Aku memberanikan diri mengusap pipinya. Ada getar-getar aneh bergejolak. Oooh...mengapa perasaanku seperti ini, seperti ada dorongan untuk menciumnya.
Pipin memejamkan matanya. Kemudian aku mencium kening Pipin. Sekujur tubuhku rasanya bergetar, karena ini pertama kalinya aku mencium seorang gadis. Pipin tetap memejamkan matanya.
"Pin, Aku mencintaimu,"
Pipin membuka matanya, " Aku juga sangat mencintaimu Pram, sangat mencintaimu." Tiba-tiba Pipin memelukku
Aku semakin gak bisa mengontrol perasaanku.
Degup jantungku semakin berpacu. Aku membalas pelukan Pipin. Aku mencium keningnya, , Pipin semakin erat memelukku. Ciumanku turun ke mata kemudian ke hidung bangir Pipin. Nafasku dan nafas Pipin bertemu lembut. Entah dorongan apa tak kusadari tiba-tiba bibirku bertemu dengan bibir Pipin. Aku menciumnya lembut. Irama jantungku semakin tidak teratur.
"Pram..aku cinta kamu Pram." Pipin membalas ciumanku.
Hitungan detik aku sadar atas salah yang aku lakukan, kemudian aku melepas ciuman dan pelukanku.
"Maafkan aku Pin, " kataku sambil mengusap bibirku yang basah. Aku langsung beranjak dari tempat tidurku dan keluar dari kamarku yang pintunya masih terbuka.
Aku merasa bersalah atas apa yang sudah aku lakukan. Aku duduk di teras kamarku. Aku masih mengatur nafasku yang gak beraturan.
Tak lama kemudian Pipin keluar dari kamar dan duduk di sampingku. Pipin tertunduk.
"Pin, sekali lagi maafkan aku, Aku tadi khilaf," kataku sambil tertunduk.
*Kamu gak salah Pram, aku yang salah. Maafin aku Pram, "
" Kita berdua khilaf Pin, kita tak seharusnya melakukan itu. Maaf Pin, aku mau istirahat dulu, kamu pulang dulu yaa," pintaku pada Pipin.
"Yaa Pram, aku pulang dulu yaa... Kamu istirahat dulu yaa, cepet sembuh yaa Pram," Pipin beranjak pergi meninggalkan kosku.
__ADS_1