
Sebenarnya ada perasaan cemas yang mendalam dalam hatiku. Sejak kemarin aku sudah mulai merasa badan hangat dan sakit seluruh sendi-sendiku. Namun aku paksakan diri untuk tetap beraktivitas. Aku tak mau membuat istriku khawatir. Jadi aku tak memperhatikannya.
"Pram... Kok bengong? " Kata Ara.
Aku lupa kalau aku masih telpon Video dengan Ara. Aku sibuk dengan pikiran dan perasaanku sendiri.
Aku tersenyum.
"Iya Ar... I love you..."Kataku sambil menarik nafas perlahan.
"Pram... Kamu lagi sakit Sekarang kamu pulang dulu, minum obat penurun panas dulu untuk pertolongan pertama, terua istirahat yang bener yaa. Dan Nanti malam baru ke dokter. Yaa sayang .. " Kata Ara.
Aku memandang kekasiku, " Iyaa sayang..."
"Pram... Ini masihbdi rumah sakit yaa?" Tanya Ara.
Aku mengangguk dan menarik nafas perlahan.
"Pram... Kita telponnya udah dulu yaa... Aku mau kamu denger kata-kataku. Sekarang pulang, jangan kerja dulu." Kata Ara.
Aku hanya tersenyum memandang Ara.
__ADS_1
"Pram... Bilang iya!!! Aku serius Pram!!!" Kata Ara.
"Iyaa sayangku.... Iya udah, sekarang aku pulang dulu yaa.... I love you...Ara, jangan tinggalkan aku yaa..." Kataku.
Kemudian telpon kuakhiri, dan sebelumnya kukecup kening Ara lewat handphone ku.
Aku mengendarai motor bututku dengan perlahan, karena hbusan angin terasa sangat menusuk kulitku tembus ke dalam tubuhku.
Pikiranku mulai gak tenang. Saat ini lagi banyak dibahas virus yang sangat mematikan. Aku jadi kepikiran, jangan - jangan aku terinfeksi.
"Huffff...." Aku mencoba menenagkan diriku.
Aku terbangun kurang lebih 15 menit setelahnya. Aku beranjak bangun dari tempat tidur, aku akan mengambil air minum di dapur. Aku melihat Yusuf anakku sedang menonton TV.
"Nak... Nanti sore kamu ke rumah sakit yaa... Temani kakakmu Rahma jaga ibumu yaa Nak.. Papa lagi gak enak badan jadi gak bisa ke rumah sakit. "Kataku.
"Iyaa Pa.... Papa kenpaa? Papa kelihatan pucat Pa... Yusuf buatin teh hangat yaa." Kata Yusuf akan mendekatiku.
Aku langsung melarangnya mendekat.
"Yusuf, jangan dekat-dekat Papa dulu Nak. Sekarang Yusuf buatin Papa teh anget terus taruh di meja, nanti Papa minum." Kataku.
__ADS_1
"Oh iya Pa.... "Kata Yusuf.
Yusuf kemudian ke dapur, dan tak berapa lama Yusuf sudah siap dengan teh hangatnya.
"Pa, ini tehnya yaa..." Kata Yusuf.
"Makasi Nak..." Kataku dna mengambil segelas teh hangat itu dan kubawa ke teras.
Aku menikmati teh hangat buatan Yusuf di teras. Badanku terasa lebih enakan. Aku langsung menghabiskan teh hangatnya.
Aku melihat banyak pesna masuk yang menanyakan orderannya. Aku mulai bingung. Aku menarik nafas perlahan.
Sejak tadi pagi, aku agak sesak nafas. Rasanya hidungku tersumbat. Hmmm... Kepalaku masih terasa berat...Sedang demam agak menurun.
Kemudian aku masuk mengingatkan Yusuf untuk pergi ke Rumah sakit. Yusuf langsung bersiap-siap ke rumah sakit.
"Hati-hati yaa Nak... " Kataku.
Anakku ingin menyalamiku, namun kukatakan" Sebaiknya untuk saat ini jangan bersalaman dengan Papa. Syukurlah Yusuf memgerti dan langsung keluar .
Tinggallah aku sendiri di rumahku. Aku pandangi teras dan ruang demi ruang. Aku sudah tinggal di rumah ini hampir 12 tahun. Kami betah tinggal di sini karena memang suasanyanya yang adem dan tetangga-tetangga yang naik dan ramah-ramah.
__ADS_1