
"Pa... Jam tangannya bagus banget. Sepertinya ada yang kasi hadiah yaa Pa... Bagaimana ketemuannya?" Tanya Pipin istriku saat melihat aku akan memakai jam tangan.
Aku hanya diam saja.
Kemarin aku sampai di kotaku, dan dari kemarin aku melihat wajah istriku cemberut terus. Yaah... Aku memakluminya. Aku hanya menarik nafas dalam-dalam.
"Pa... Denger gak si ibu ngomong? Dari tadi diem aja." Kata istriku lagi.
"Bu... please... Aku capek Bu. Kemarin kan sudah aku bilang kalau jam ini hadiah dari Ari." Kataku dan menatap istriku.
Ari adalah adikku yang tinggal di kota X tempat kunjunganku kemarin.
"Dari Ari atau Ari???"
Aku dah mulai kesal dan bergumam. "Hmmm..."
Aku berlalu menuju motor bututku.
Pipin mengejarku.
"Pa... Aku belum salam lho." Kata Istriku.
Aku berbalik menuju istriku dan kuulurkan tanganku. Kemudian istriku mencium tanganku dan menatapku.
Aku tersenyum dan mencium keningnya. Kupeluk istriku, tak terasa ada bulir air mata yang akan menetes dari mataku. Kupeluk erat istriku, dan kucium lagi keningnya.
Aku segera menghapus air mataku, aku tak ingin istriku melihatnya.
__ADS_1
"Pa .. Maafin aku yaa..." Kata istriku sambil menatapku.
Aku hanya tersenyum kemudian kucium lagi kening istriku.
"Udah Yaa Bu... Aku berangkat kerja dulu. " Kataku .
Istriku mengganguk.
Sejujurnya aku sayang ma istriku dan aku juga sayang ma Ara. Aku berusaha memaklumi bagaimanapun sikap istriku.
Aku berangkat kerja dengan hati agak lega. Aku menikmati udara pagi hari yang menyelimuti. Udara yang dingin namun semangatku yang membara membuat udara dingin terasa hangat menyelimuti tubuhku.
Aku memiliki semangat baru sejak aku pulang dari kota Ara. Aku optimis dan sangat yakin kalau suatu saat nanti aku akan berhasil dan semua mimpiku bersama Ara akan terwujud.
Sampai di kantor aku langsung menghadap Pak Amin.
"Oooh mat pagi Pak Pram..." Pak Amin menjabat tanganku kemudian mempersilahkan aku untuk duduk.
Aku duduk dan mengambil sebatang rokok yang disodorkan kepadaku.
Saat aku akan membakar rokokku, aku teringat Ara. "Hmmm... Inget jangan ngerokok yaa sayang..." Itu pintanya.
Hmmm... Aku gak jadi menyalakan rokokku.
"Lho... Kok gak jadi dibakar Pak?" Tanya Pak Amin.
Aku tersenyum dan berkata, " Yàaa Pak... Aku lupa kalau aku lagi terganggu ne tenggorokanku." Kataku berbohong.
__ADS_1
"Ooh gitu yaa... Yaa kalau gitu banyak minum air putih Pak." Kata Pak Amin.
Aku mengangguk.
Kemudian Pak Amin menanyakan tugas kemanusiaan yang sudah aku lakukan kemarin. Dan Pak Amin mendengarkan ceritaku.
" Berarti serem yaa Pak yaa keadaan di sana. Yaa kita doakan semoga gak ada lagi gempa susulan yaa Pak."
"Iya. Pak... Aamiin..."
"Tapi ngomong-ngomong Pak... Ini antar kita aja lho. Pak Pram ketemu gak kemarin ma cinta lama Pak Pram? " Tanya Pak Amin sambil menggerakkan alisnya.
Aku tertawa.
"Wah ketawa, berarti ketemu nih. Gimana Pak rasanya?"
"Ah sudahlah Pak, saya masih ngantuk nih..." Kataku sambil berdiri.
"Lho kok malah mau pergi si ... Aku serius ne nanyanya. Aku pingin tahu Pak. " Kata Pak Amin sambil cengar cengir.
Aku bodo amat. Aku pergi ke kamar yang ada di bagian belakang. Aku masuk dan menutup pintunya.
Aku mengeluarkan handphone ku, kupandangi foto Ara. "Aku rindu Ar..." kataku dalam hati.
Aku menelpon Ara, tapi ditolak.
"Hmmmm....Kok telponku ditolak???" bathinku
__ADS_1