
PRAM
Aku harus mengirim barang orderan pelangganku. Selesai telponan dengan Ara, aku langsung pergi meninggalkan tumahku.
Aku mampir dulu di kantor, ambil pesanan yang sudah di packing Rahma.
" Dek...Orderan Pak Mitro sudah siapkah? Papa mau anter sekarang." Kataku pada Rahma.
"Sudah Pa...Kak Sabila masih lakban packingannya Pa."
"Sebentar lagi Pa." Kata Sabila.
Aku melihat Sabila sedang melakban kotak kardus.
"Iyaa... Papa tunggu."
Aku keluar duduk di teras kantor. Aku melihat jalan raya di depan kamtor sepi sekali. Aku duduk memandangi kantor yang sudah aku sewa selama 3 tahun ini. Aku menghela nafas.
Tiba-tiba melintas bayangan Ara. Ara membantuku membangun bisnisku ini. Aku bekerja sama dengannya. ",Kamu tulus Ar..." Batinku.
Aku menyayangi Ara, sangat menyayangi dan mencintainya. Rasa itu tak pernah bisa hilang. Walaupun sekarang aku dan Ara sama-sama membatasi diri demi keluarga kami masing-masing.
__ADS_1
Kami tak ingin bahagia di atas penderitaan orang lain. Melihat Ara bahagia, sehat dan baik-baik saja, itu sudah sangat membahagiakanku. Dan kulihat istriku Pipin sehat dan bahagia itu juga sangat membuatku bahagia.
Aku bersyukur atas semua yang kupunya saat ini. Keluargaku yang sangat membahagiakanku, aku didampingi istri dan anak-anakku.
Aku menatap langit yang tak pernah kutatap dan kunikmati sebelumnya. Aku menikmati keindahan langit yang berwarna biru dikelilingi awan putih bersih seputih kapas. Aku menikmatinya walaupun panas aspal jalan yang mantul ke tempat di mana aku duduk.
" Pa... Kok Papa duduk di luar si... Panas Pa. Kok Papa tahan sih...Iih Papa nih." Kata Rahma.
Aku tersenyum.
" Iyaa Dek... Papa gak pernah liat langit aeindah ini. Coba adek liat tu... Warnanya biru sejuk dan awan-awannya putih bersih." Aku masih menatap langit dari tempatku duduk.
" Iyaa Pa... Tapi panas Pah.. Adek mau masuk aja. Ini paketnya dah selesai dipacking Pa. Papa mau anter sekarang atau nanti sore?"
" Papa jalan sekarang aja Dek. Soalnya Papa janji kemarin antar tapi karena selesainya molor yaa sebaiknya Papa antar sekarang saja." Kataku.
"Ooh gitu.... Iyaa Pa... Hati-hati di jalan yaa Pa... Jangan ngantuk lho..." Kata Rahma lagi.
Aku mengangguk dan mengikat paket itu di motorku.
" Pa... Sabila sudah buatin Papa kopi, diminum dulu yaa Pa." Kata Sabila sambil menyodorkan secangkir kopi padaku.
__ADS_1
Aku kemudian meminum kopinya. Setelah habis aku berpamitan pada anak-anakku. Namun sebelum pergi aku memeluk kedua anak gadisku.
Saat memeluk mereka aku berkata," Nak... Papa bahagia punya anak-anak seperti kalian semua. Papa sayang kalian. Kalian jaga diri kalian baik-baik yaa... Tetap saling menyayangi dan jaga ibu baik-baik, yaa...."
Aku mengecup kening anakku bergantian.
"Iyaa Papa... adek juga sayang Papa, sayang banget. Papa juga hati-hati di jalan, jangan ngebut dan jangan ngantuk."
Aku mengangguk dan mencium rambut Rahma.
" Pa, Sabila juga sayang ma Papa... " Sabila memelukku erat dan aku mencium kening Sabila.
" Sudah yaa... Sekarang Papa jalan yaa..." Kataku dan melepas pelukanku di kedua anak gadisku.
" Iyaa Pa..."Kata Rahma. Sedang Sabila tersenyum memandangku.
Aku kemudian menghidupkan motorku dan meninggalkan anak-anakku.
Cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba mendung. Aku tersenyum menatap langit. Aku mencari alamat yang kutuju. Setelah kuambil jalan memutar akhirnya aku menemukan alamat yang kucari.
Setelah pembayaran selesai, aku mohon diri dan kemudian melanjutkan perjalananku ke rumah tukang sablonku yang sudah seperti saudara bagiku.
__ADS_1
Sebelum aku melanjutkan ke rumah tukang sablonku, aku mampir di sebuah surau yang tampak sejuk.
Aku duduk beristirahat di sana. Aku kemudian mengeluarkan handphone ku, kemudian aku menelpon mamak. Ada kerinduan di hatiku tak pernah melihatnya.