
Keesokan harinya aku bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Saat aku membuka pintu kamar, aku kaget karena sudah ada Pipin menungguku.
Aku melihat Pipin sekilas dan kemudian memasang tali sepatuku.
Pipin diam saja dan setelah aku selesai dengan sepatuku, Pipin menyodorkan roti untukku, namun aku menolaknya karena aku merasa masih kenyang. Tampak Pipin kecewa.
"Mana kunci motornya? Buruan biar kita tidak terlambat ," kataku memecah keheningan diantara kami.
Pipin mengangguk.
Selang beberapa menit kami sudah sampai di kampus. Kami bergegas menuju ruang kuliah kami masing-masing. Kuliah Pipin dan aku beda karena Pipin kakak tingkatku.
Sebelum berpisah Pipin berkata," Pram, nanti aku tunggu kamu di sini yaa, aku kuliah sampai jam ke 3 aja." Pipin gak berani menatap wajahku.
Aku hanya mengangguk dan menatapnya sekilas, kemudian berlalu.
***
Setelah kuliah berakhir, aku bertemu dengan Agus.
"Pram, kamu ditunggu Pipin di bawah pohon sana tu," kata Agus sambil menunjuk bangku taman yang ada di bawah pohon sudut kanan kampus.
Aku hanya mengangguk dan melanjutkan langkahku.
Agus melihat sikapku seperti itu langsung menasehati aku," Kalo ada masalah jangan terlalu dibawa serius seperti itu, cari jalan keluarnya,bicarakan. Yaa namanya juga dua kepala pasti beda lah sifat dan jalan pikirannya. Okey..." Agus menepuk pundakku.
Aku tetap diam saja. Agus adalah teman seperti saudara bagiku, karena dia begitu paham bagaimana aku begitu juga aku paham bagaimana Agus. Mungkin karena kedekatan kita sejak aku mulai masuk kuliah di kampus ini.
__ADS_1
Pipin melihatku datang dari kejauhan dan tersenyum. Aku membalas senyumnya namun terasa masih kaku, karena aku masih kesal.
"Pram, sudah selesai kuliahnya yaa?"
"Ya..."
"Kita ke kantin yuk," ajak Pipin
"Maaf aku gak bisa Pin, aku mau pulang. Kalo gitu kamu ke kantin dah yaa, aku gak apa-apa jalan pulang ke kos,"jawabku dan berdiri untuk siap-siap pulang.
Pipin menghela nafas dan menarik tanganku untuk tetap duduk di sampingnya, namun aku tetap melanjutkan langkahku.
Pipin mengikuti aku dari belakang. Sampai di persimpangan parkiran Pipin menarik tanganku dan berkata,"Pram, ini kunci motornya, kita pulang saja yuk ke kosmu."
Aku berbalik dan memandang Pipin. Pipin memberikan aku kunci motornya.
"Hmmm..." kuambil kunci motor Pipin.
Aku duduk di teras kosku. Pipin duduk di sebelahku.
"Pram... please maafin aku. Aku gak bisa liat sikapmu seperti ini. Jangan lama-lama dong marahnya."
Aku masih diam dan menghela nafas panjang.
"Pram... Lebih baik kamu marah dan omelin aku daripada kamu diam seperti itu," Pipin mulai tampak sedih dengan mata berkaca-kaca.
Aku tidak tega melihat Pipin seperti itu.
__ADS_1
"Sudahlah Pin.. Aku bosan bahas ini terus. Aku sudah berkali-kali bilang ke kamu kalo aku tu bukan laki-laki gampangan yang cepat suka ma cewek. Tapi sikapmu yang posesif membuat aku jadi serba salah."
Pipin mencerna perkataanku sambil tertunduk dan mulai menangis.
"Maaf Pin, sepertinya hubungan ini gak bisa kita teruskan. Aku tidak bisa menjalani hubungan seperti ini. Aku tidak mau kamu merasa sakit dan aku juga tidak mau ruang gerakku kamu batasi seperti itu. Maafkan aku, kurasa hubungan ini cukup sampai di sini."
"Aku tidak mau hubungan ini berakhir Pram, aku sangat mencintaimu. Kamu tahu itu dan aku tidak mau kehilangan kamu." Tangis Pipin semakin menjadi-jadi.
Aku diam. Aku benar-benar berniat mengakhiri hubunganku dengan Pipin, karena aku merasa gerakku dibatasi. Aku melihat Pipin semakin menangis dan menggenggam tanganku. Aku mencoba menarik tanganku, namun Pipin semakin mempererat genggamannya.
Melihat Pipin menangis, hatiku ikut sedih.
"Sudahlah Pin... jangan menangis seperti ini. Kalo memang kita gak ada kecocokan kenapa harus kita paksakan. Kita sudah mencoba menjalaninya tapi gagal. Pin, Cinta itu butuh kepercayaan. Cinta yang sempurna itu hanya butuh dua hati yang saling percaya dan saling mengerti.
"Maafin aku Pram... Aku janji tidak akan seperti itu lagi. Aku akan lebih baik lagi. Aku janji, dan tolong aku tidak mau hubungan kita berakhir." Pipin memeluk sebelah kiri lenganku dan menyandarkan kepalanya di pundak kiriku sambil menangis.
Untuk beberapa waktu kami diam.
"Yaa sudahlah... Sekarang jangan nangis lagi yaa," kataku sambil melepas pegangan Pipin. Kemudian tangan kiriku memeluk Pipin dan kukecup keningnya. Aku tersenyum.
Pipin mulai berhenti menangis dan bersandar di dadaku.
Selang beberapa menit, Pipin melepas pelukanku.
" Pram, aku sangat mencintaimu, tolong jangan pernah berfikir untuk meninggalkan aku. Aku janji akan memberikan kepercayaanku sepenuhnya ke kamu. Aku percaya sama kamu." Pipin menatapku dalam dan tersenyum bahagia.
Tatapan mata kita bertemu, aku tersenyum dan kemudian aku mengecup keningnya.
__ADS_1
"Makasi Pin... Tolong. jangan diulangi lagi yaa, aku mencintaimu."
Pipin tersenyum dan menatapku bahagia.