
Keesokan harinya aku akan berangkat kerja tapi istriku minta ditemani dulu.
"Pa, hari ini ijin ma pak Amin yaa. Bisa kan... Ibu pingin ditemenin Pa." Kata Pipin sambil memeluk lenganku.
Aku memandang istriku. Kukecup keningnya lalu kutatap matanya yang memelas ingin ditemani.
" Papa ijin dulu yaa Bu. Nanti siangan Papa berangkat kerjanya. Habis dzuhur." Kataku kemudian aku mengambil handphoneku.
Aku langsung menelpon ke kantor. Dan kemudian minta ijin Pak Amin. Dan syukurlah Pak Amin mengijinkan.
Sejujurnya aku kepikiran Ara. Karena kemaren pesan-pesannya dibaca Pipin dan aku belum membalas pesannya. "Pasti Ara khawatir," bathinku.
"Pa, diijinin ma Pak Amin?" Tanya istriku sambil tetap memeluk lenganku.
"Iya Bu. Dijijinin tapi nanti siang Papa harus ke kantor. Karena ada rapat penting."
"Ooh gitu, iya Pa. Gak apa-apa Pa." Kata istriku sambil menatapku.
Aku menatap istriku dna tersenyum. Sikap istriku ini tidak seperti biasanya. Pipin mencium bibirku dan berkata," I love you, Pa."
"Love you too." Kataku. Kemudian aku mencium bibir istriku. Kupeluk tubuhnya, dan kucium. Aku sudah mengerti bahasa tubuh istriku yang sedang menginginkan aku.
Aku ******* bibir istriku, dan tanganku membelai rambutnya.
Kugendong istriku ke kamar. Pagi ini hanya ada aku dan istriku di rumah, jadi kami bebas melakukan apa saja.
__ADS_1
"Pa...mmmuah... I love you. " Istriku membalas ciumanku.
Suasana semakin memanas, dan kami bergumul dengan mengeluarkan suara-suara indah. Kami menginginkan penyatuan.
Saat aku mencumbu istriku, tanpa kusadari aku menyebut nama Ara.
"Pa..mmmuaah.,aahhhh." Istriku mendesah menikmati seranganku.
"Mmmmuah... mmmuah..Ar. I love you. Mmmuah."
Aku yang sadar sudah salah menyebut Nama langsung mencumbu istriku dengan lebih gencar untuk menutupinya. Dan syukurlah istriku tidak mendengarnya. Mungkin karena dalam keadaan puncaknya. Yang tak lama kemudian istriku melakukan pelepasan.
Aku mengelus rambutnya, dan kuberi minum. Setelah istirahat sebentar, aku mencium istriku lagi dan mencumbunya. Kami melakukan penyatuan lagi. Kami bergumul dengan tubuh mulai penuh dengan keringat.
Aku sudah gak bisa menahannya, dan aku sudah akan sampai puncak kenikmatan. Sentuhan-sentuhanku semakin gencar.
Baru kali ini aku menyebut nama Ara saat sedang berhubungan intim dengan istriku, mungkin karena aku kepikiran Ara dari kemarin.
Kami tergeletak lemas di tempat tidur. Kupeluk istriku dan kucium keningnya.
Aku tertidur. Dan aku terbangun karena mendengar suara handphoneku berbunyi ada panggilan masuk. Berdering 2 kali.
Namun yang memegang handphoneku istriku. Dan aku lihat wajahnya yang kesal. Aku langsung berfikir itu pasti panggilan dari Ara.
Kemudian handphoneku berbunyi lagi, tanda ada pesan yang masuk berturut-turut dan berkali-kali. Pipin istriku masih memgang handphoneku.
__ADS_1
Aku duduk lemas dan menatap istriku sesaat kemudian aku menghela nafas.
"Tadi telpon dari siapa Bu?" Tanyaku.
Namun istriku tidak menjawab namun menatapku tajam.
"Sudahlah Bu.. Nanti aku selesaikan dengan Ara." Kataku singkat dan menuju dapur untuk membuat kopi.
Aku menuju teras sambil membawa kopiku, dan aku lihat istriku sedang membuka handphoneku.
"Pa, tu tadi ada pesan dari Ara mu tersayang! Dia khawatir ma keadaanmu. Dia telpon kamu juga. Hmmm..." Kata istriku kesal sambil memencet telpon dan sepertinya akan menelpon seseorang.
"Bu, apa yang ibu lakukan. Ibu mau telpon siapa?" Tanyaku.
"Aku mau menelpon pacarmu tu. Aku mau tahu apa maunya. Nih kamu telpon dia, dan biarkan speakernya hidup." Kata istriku sambil memberikan handphonenya padaku.
Aku tak berdaya dan mengikuti kemauan istriku.
Ara mengangkat telponku dan menanyakan kabarku. Aku bisa merasakan kekhawatiran Ara dari suaranya. Aku rindu Ara.
Aku menenangkan Ara dna kukatakan "Aku tidak apa-apa Ar."
Kemudian Pipin memberiku kode bahwa dia ingin bicara dengan Ara.
"Ara, Pipin mau bicara sama kamu." Kataku dan memberikan telponnya ke Pipin.
__ADS_1
Aku duduk lemes, aku gak tahu apa yang diinginkan istriku. Aku ingin menyelesaikan masalah ini cukup berdua dengan Pipin dan jangan libatkan Ara.
Aku pikir masalah ini sudah selesai kemarin. Tapi ternyata Pipin masih marah juga.