
"Pram... bangun, dah siang ne.. Ayo bangun..." Pipin membangunkan aku.
Aku mencoba membuka mataku...Aku mencoba bangun, namun aku kaget karena ternyata aku masih polos belum memakai apa-apa. Refleks aku menutup badanku memakai selimut.
Pipin langsung memalingkan mukanya.
Aku tersenyum.
"Istriku... kesini dong..."
Pipin menoleh, kemudian duduk di samping tempat tidur.
Aku memeluknya.
"Pin... Sekarang kamu sudah resmi menjadi istriku. Aku akan berusaha membahagiakanmu, semampuku. Aku janji." Aku mencium kening Pipin.
"Sayangi aku sepenuhnya yaa Pram..." Pinta Pipin dan aku mengangguk.
"Iih.. sudah mandi dulu sana, mumpung sepi. Aku mau bantu mamak di dapur dulu."
Aku tersenyum. Dan kemudian aku mengambil kain sarungku dan handuk.
Selesai mandi mamak mengajakku makan bersama. Sarapan ala kadarnya..
Setelah selesai sarapan, tinggalah aku dengan papa dan mamak sementara Pipin mencuci piring.
"Pram, rencanamu apa yang akan kamu kerjakan hari ini? " Tanya Papa kemudian menyeruput kopi pahitnya.
" Hari ini rencananya aku akan ke daerah wisata pa di sekitar pantai X. Nanti aku akan melihat peluang apa yang bisa aku lakukan di sana"
Aku mempunyai banyak rencana untuk mesa depanku. Aku akan berusaha semampuku untuk menghidupi keluarga kecilku. Sekarang aku sudah mempunyai istri yang harus aku nafkahi.
Oh iya tidak ada istilah bulan madu dalam pernikahanku. Aku sudah harus berusaha mencari rezeki yang halal. Dan aku sadar ini tidak mudah, karena aku sudah memutuskan menikah setelah tamat kuliah sementara aku belum mempunyai pengalaman apa-apa.
"Pram... mamak bantu doa nak, mamak yakin Tuhan akan mempermudah semuanya untuk kamu, selama kamu bersungguh-sungguh. Kamu semangat yaa nak." Kata-kata mamak yang memberiku support membuatku bersemangat bahwa aku akan berhasil.
__ADS_1
"Yaa mak, selalu doa'in Pram yaa.." Aku mencium tangan mamak dan Papa sekalian berpamitan untuk mencari rezeki.
Pipin sudah menungguku di teras.
"Pin, aku akan pergi dulu yaa... Aku akan mencari peluang ke pantai x yaa.. Doain aku yaa.." Kataku sambil memasang sepatu kets ku.
"Oh ya Pin, papa ma mama jadi pulang hari ini kan? tanyaku.
"Iya... Seperti yang dikatakan papa kemarin. Ikut penerbangan pesawat yang pagi sekitar jam 10. Dan mama sudah aku kasih tahu kalau kita gak bisa mengantar." Pipin menjelaskan.
"Ya Pin... Aku juga sudah ngomong sama papa kalau bisa pulangnya ditunda dulu jangan hari ini. Tapi papa bilang, ada banyak kerjaan yang sudah menunggu jadi papa memang harus segera pulang."
" Iya ..." Pipin kemudian merapikan bajuku.
"Pin... aku pergi dulu yaa.." Pipin mengangguk kemudian aku mencium keningnya.
***
ARA
Tak berapa lama mbk Siti memanggilku.
" Ara... Ini absen aja dulu mumpung belum ramai." Mbk Siti menyodorkan buku absensi.
Aku tersenyum dan mengisi absensi.
"Oh iya Ara, kata pak Muhlas kamu dapat beasiswa P juga yaa..?" Mbk Siti .
Aku mengangguk.
"Hari ini pak Muhlas gak masuk mengajar, katanya sih lagi sakit jadi gak bisa ngisi jadwalnya hari ini." Kata Siti.
"Ooh iyaa mbk, smoga pak Muhlas cepet sembuh." Kataku sambil tersenyum dan mengambil tempat duduk di depan mbk Siti.
"Pak Muhlas titip salam untuk Ara." Mbk Siti melanjutkan.
__ADS_1
"Ooh iyaa mbk, salam balik. " Kataku singkat.
Lalu aku dan mbk Siti ngobrol santai, dan tak terasa waktu kursus sudah tiba.
"Mbk, Ara masuk kelas dulu yaa.." Aku berpamitan.
Mbk Siti tersenyum dan mengangguk.
Setelah kurang lebih 1,5 jam akhirnya kelas diakhiri instruktur. Kami semua bersiap-siap untuk pulang.
Aku menuruni anak tangga, kemudian kudengar seseorang memanggilku.
"Ara..." Ternyata pak Muhlas memanggilku.
"Ooh iya pak, kak.. "Kataku sambil tersenyum.
"Lho bukannya bapak lagi sakit? " kataku melanjutkan.
"Oh iya Ara.. tadi memang kepalaku agak pening, jadi aku gak masuk kelas, tapi ini bos Heri menyuruhku datang jadi yaa aku usahain datang Ra." Jawab pak Muhlas.
"Ooh iyaa pak, syukurlah berarti audah sembuh yaa.."
Kemudian mbk Siti menimpali," Aduuh gak boleh bohong pak , bilang aja kalau pak Muhlas kangen sama seseorang." Mbk Siti tertawa.
"Aah bukan begitu... Kamu ini ada-ada aja mbk Siti." Pak Muhlas tertawa kecil.
"Iyaa bener mbk Ara, begitulah pak Muhlas, pemalu." Mbk Siti menambahkan.
"Maaf aku pulang duluan yaa... "
"Ooh iyaa Ara, hati-hati di jalan yaa." Pak Muhlas mengantarku sampai ke pintu depan. Dan akupun tersenyum.
"Makasi pak..."
"
__ADS_1