Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Nasehat buat Yusuf


__ADS_3

Sekitar jam 1 siang aku menjemput Yusuf, setelah itu pulangnya aku mempir dulu di warung untuk membeli lauk pauk dan sayur. Setelah itu lanjut pulang.


Aku kepikiran dengan istriku yang sendirian di rumah dalam keadaan sakit.


Aku sebenarnya masih belum fit benar, tapi aku harus kuat. Aku kepala keluarga, aku harus bertanggung jawab pada keluargaku.


"Bu... Maafin Papa yaa, Papa terlambat pulangnya, tadi macet jalur ke sekolah Yusuf. " Kataku setelah mengucapkan salam pada istriku yang sedang duduk di teras.


Istriku tersenyum.


"Gak apa-apa Pa... Ibu sudah buatin Papa teh hangat. Papa kok badannya masih hangat? Papa demam lagi yaa? " kata istriku saat menyalamiku.


Aku tersenyum.


"Papa sehat Bu.... Kita makan dulu yuk... Papa dah laper banget Bu.." Aku tersenyum dan merangkul istriku.


Lalu kami makan siang bertiga saja. Saat akan minum teh hangat, tiba-tiba aku teringat Ara. " Yaa ampun, aku lupa menghubungi Ara. Dia pasti khawatir." bathinku.


Tapi Ara orangnya pengertian dan sabar banget. Dia selalu mengerti dan memahami keadaanku. Mungkin karena ada rasa percaya antara kami.


"Pa... Kok melamun... Papa pikirin apa?" Tanya istriku.


"Papa gak melamun Bu... Papa cuma kepikiran akan sesuatu yang belum beres aja." Kataku.


"Iyaa pasti banyak orderan yang belum beres yaa Pa karna Papa sakit kemarin." Kata istriku.


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Ibu selesai makan, duduk aja. Biar Papa yang beresin ini semua. Yaa..."Kataku smabil membereskan sisa-sisa makanan dan piring kotor yang ada di meja.


Istriku mengangguk.


"Yusuf, ayo bantu Papa Nak... tolong bawa piring-piring ini ke dapur."


Yusuf mengangguk, kemudian membantuku di dapur.


"Nak... Yusuf, anak laki-laki Papa satu-satunya. Suatu saat kalau Papa gak ada, Yusuf yang menggantikan Papa. Yusuf yang bertanggungjawab pada kakak-kakakmu, Sabila dan Rahma." Kataku memberikan nasehat pada Yusuf.


Yusuf memandangku dan mengannguk.


" Jadi mulai sekarang Yusuf dah harus kuat, tegar dan siap siaga dengan apa yang menjadi tanggung jawab Yusuf. Dan Yusuf juga gak boleh lupa, ibu juga jadi tanggung jawab Yusuf. Maaf Nak... Papa sadar Yusuf masih sangat remaja untuk pahami kata-kata Papa ini. Tapi seiring waktu, Papa yakin Yusuf akan paham dan mengerti maksud Papa."


Yusuf cengar-cengir, dan akhirnya kami tertawa.


Aku tersenyum dan bahagia, memiliki anak-anak yang baik-baik dan pintar-pintar.


"Pa... Yusuf mau main layangan dulu yaa... " Kata anakku.


"Iyaa Nak... Tapi jangan lama-lama yaa... Temenin ibumu, karena sebentar lagi Papa harus balik ke kantor." Kataku.


"Wah... Sepertinya Yusuf dari sekarang sudah mulai menggantikan Papa ne..." Kata Yusuf sambil menggaruk keplanya yang tidak gatal.


Aku tertawa, dan kemudian Yusufpun tertawa.


"Baik Papa... Yusuf gak lama. Yusuf mau ke rumah Rudi aja, mau pinjam komik biar bisa Yusuf baca di rumah."

__ADS_1


" Nah ini baru anak Papa... Makasi yaa Nak... Dan hati-hati yaaa .."


"Siap Pa..." Kata Yusuf bersemangat.


Aku lega, ternyata Yusuf bisa paham dan mengerti apa maksud nasehatku tadi di dapur.


Aku kemudian mencari istriku di kamar, namun sebelumnya aku mengirim pesan ke Ara, supaya Ara tidak mengkhawatirkan aku.


"Ara... Aku telpon sore yaa... Aku masih menemani Pipin di rumah, Pipin belum sembuh benar. I love you..."


Sampai di kamar aku langsung memberikan istriku air hangat untuk minum obatnya.


"Bu... Minum obat dulu yaa..."


"Makasi Pa...


Aku tersenyum.


"Bu... Kepalanya sakit gak?"


"Sakit sedikit Pa... Tadi sudah ibu pakaikan minyak gosok."


"Oh gitu yaa... Sini Papa pijetin yaa... Papa pijitin, ibu tidur yaaa... Biar ibu istirahat dulu."


Istriku menurutiku, kemudian memejamkan matanya. Dan aku memijit kepala istriku perlahan, hingga istriku tidur.


Setelah istriku tidur, aku langsung balik ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2