Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Telpon suamiku berdering terus


__ADS_3

Aku sudah menyiapkan makan siang.


Aku melihat suamiku dan Arjun datang bersamaan.


Perasaanku jadi tak enak. Namun aku melihat mereka datang sambil tertawa-tawa.


"Ma... Masak apa Ma? Baunya sedap banget Ma..." Kata suamiku.


Aku menyambut suamiku dan Arjun dengan tersenyum.


"Mama masak kesukaan Papa ma Arjun. Pepes ikan nila ... Sayur bayam ma tempe bacem. Dan ini kesukaan abang Aldi ma adek Arini, ayam kriuk. " Kataku


Arjun tersenyum memandangku. " Trus kalau Azka kesukaannya apa Ma?" Tanya Arjun.


Adekmu Azka suka semuanya, sama seperti Mama." Kataku sambil tertawa kecil.


Arjun dan suamiku ikut tertawa.


"Sekarang tolong Arjun panggil abang ma adik-adikmu yaa." Kata suamiku.


Arjun menggangguk.


Setelah semua kumpul, kami makan siang bersama.

__ADS_1


Sorenya kami memutuskan untuk tidak kemana-mana karena hujan turun dengan lebatnya.


Anak-anak di kamarnya masing-masing sedangkan aku dan suamiku duduk di ruang tengah.


"Ma... Kita masuk kamar yuk... Ada yang akan Papa ceritakan. Kita ngobrolnya di kamar aja yuk." Ajak suamiku.


Aku mengangguk dan masuk ke kamar, diikuti suamiku. Namun suamiku ke ruang kerja dulu, dan kudengar Suamiku sedang menelpon seseorang.


Sampai di kamar, aku duduk di depan cermin menyisir rambut ku. Suamiku mencium rambutku dan tangannya memeluk pinggangku.


"Ma... Papa sayang ma Mama... Maafkan Papa yaa..."


Aku tersenyum. " Gak perlu minta maaf Pa... Papa gak salah, itu hak Papa."


"Syukurlah kalau semua sudah beres." Jawabku singkat.


" Ma...Papa janji kalau Papa tak akan pernah berniat menikah lagi, cukup hanya Mama istriku seorang." Kata suamiku dan kemudian dia memelukku.


"Oh iya Ma... Aku juga mau berterima kasih Ma... Mama sudah mendidik anak-anak dengan baik."Kata suamiku berkaca-kaca.


Aku yang melihatnya langsung bertanya.


" Kenapa Papa bilang begitu... Itu sudah kewajiban kita sebagai orang tua untuk didik anak-anak kita dengan baik."

__ADS_1


Suamiku mengangguk dan tersenyum menatapku.


"Ma... Tahu gak tadi Arjun membuntuti Papa ke rumah Lily..."


"Beneran Pa?" Aku gak percaya mataku melotot.


"Iya Ma... Tapi Arjun gak masuk ke rumah Lily, Arjun menunggu ku di jarak beberapa meter. Aku mau berterima kasih ke Mama, karena Arjun bisa mengontrol emosinya. Walaupun Arjun dalam keadaan marah tapi dia tetap menghormati Papa. Papa jadi terharu sekali Ma. "


"Trus Arjun gimana ?"


"Papa dah ngomong ma Arjun tadi di pantai. Papa dah jelasin semuanya. Dan Papa sangat bersyukur Arjun bisa mengerti dan memaafkan Papa."


"Oooh syukurlah.." Kataku lega. Namun aku bisa merasakan perasaan Arjun, pastilah dia kecewa,aedih dan marah ke Papanya. Tapi syukurlah suamiku sudah menyelesaikannya dengan baik.


"Ma .. Ini semua berkat Mama. Sudah mendudik anak-anak menjadi lebih dewasa dan bisa menahan emosi dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Makasi Ma...."


"Iyaa Pa... Ini berkat Papa juga yang sudah ngajar anak-anak menjadi anak yang baik." Kataku tersenyum.


Saat kami ngobrol-ngobrol tiba-tiba ada suara telpon suami berdering, asalnya dari ruang kerja suamiku. Namun suamiku mengabaikannya. Tapi telpon itu berdering terus.


" Sudah ngobrolnya nanti saja. Telponnya diangkat dulu Pa... Kasian mungkin ada yang lagi sangat perlu dan mendesak." Kataku.


"Iyaa Ma... Tunggu bentar yaa Ma ....

__ADS_1


__ADS_2