
Aku dan Ara masih telponan.
"Kamu kenapa Pram?"
"Gak ada Ar... Tadi aku hanya ingin melihatmu sebentar. Maafin aku yaa..."
" Iyaa gak pa-pa Pram. Gimana perkembangan bisnisnya? Banyak masuk orderan kah?"
"Iya Ar... Lumayan... Semakin hari semakin banyak yang order. Makasi yaa Ar... Kamu sudah percaya padaku, dan slalu mensupportku."
" He he ... Aku senang melihatmu berhasil. Aku ingin melihatmu sukses Pram. Aku ingin membuka mata orang-orang bahwa kamu bisa sukses. Dan aku ingin melihatmu bahagia Pram."
Aku terharu mendengar penuturan Ara. Aku bisa merasakan ketulusan Ara.
" Makasi Ar... Ara, udah dulu yaa...Lain kali kutelpon ya..."
"Iyaa Pram... Oh iya salam ma Mbak Pipin yaa..."
Aku mengiyakan, kemudian telepon kuakhiri.
Aku memandang foto profil Ara...
"Smoga kamu bahagia slalu Ar..." Bathinku.
__ADS_1
Dan kuolesi dadaku dengan minyak gosok agar sesak nafas yang kurasakan bisa berkurang.
Tak berapa lama Rahma datang.
"Lho Papa kok ke kantor sih. Kan Papa sakit." Kata Rahma sambil menyalami ku.
" Papa tadi ke dokter Dek. Trus pulangnya Papa mampir ke sini bentar. Papa kerjain orderan yang belum adek kerjain."
" Nanti adek kerjain Pa. Sekarang Papa pulang aja yaa, istirahat. Papa pucat lho. Iya Pa yaa..." Rahma memelas.
"Iyaa yaa... Papa pulang. Nanti adek pulangnya jangan terlalu sore yaa... "
"Iyaa Pa... Siap... Papa tenang aja, adek beresin foto ini sebentar, terus adek langsung pulang." Kata Rahma sambil tangannya sibuk di keyboard laptop.
Sampai rumah, istriku menyambutku dengan wajah manisnya dan segelas teh hangat.
"Pa... Kok lama ke dokternya? Rame antrinya yaa Pa?" Kata istriku.
"Gak juga Bu... Tadi selesai dari dokter aku mampir ke kantor sebentar. Aku periksa kerjaan Rahma, dah beres atau belum. Tapi syukurlah Papa lega, Rahma bisa diandalkan." Kuteguh teh hangat buatan istriku.
" Iyaa Pa... Rahma serius lho sekarang bantuin Papa. Ibu senang banget liatnya. Ini juga Yusuf kalau sore ibu suruh temenin Rahma di kantor biar gak sendirian."
Aku tersenyum. Kupandangi wajah istriku yang sekarang tampak berseri-seri dan lebih sehat. Aku bahagia melihatnya.
__ADS_1
" Sekarang Papa istirahat dulu di kamar yaa... Ibu mau masak sayur buat Papa. Biar Papa bisa cepet sehat."
"Iyaa Bu... Bu, maafin salah Papa yaa..." Aku mengenggam tangan istriku. Dan kucium.
Istriku menatapku, kemudian memeluk ku.
"Ibu yang minta maaf Pa... Ibu sering gak perhatiin Papa. Ibu sering marah-marah, dan Papa selalu diam kalau ibu marah. Maafin Ibu juga yaa .."
Aku memeluk istriku. Kukecup keningnya. Tak terasa air mataku akan menetes, namun segera kuhapus.
Aku sangat menyanyangi istriku, sangat mencintainya. Namun aku juga tak bisa membohongi hati kacilku kalau aku juga sangat menyayangi dan mencintai Ara.
Kupeluk erat istriku dan kubelai rambut panjangnya.
" Udah... sekarang Papa istirahat di kamar yaa..." Kata istriku dan melepas pelukannya.
"Iyaa sayangku... Papa ke kamar dulu yaa." Aku mengecup kening istriku kemudian menuju kamar.
Istriku ke dapur memasak untuk makan malam kami.
Di kamar, aku tiba-tiba merasa gelisah. Aku mencoba untuk istirahat. Namun sesak nafas yang kurasakan semakin menjadi. Aku akhirnya duduk bersandar di bantal.
Aku meminum obat sesak yang diberikan dokter dan selang beberapa menit aku merasa baikan.
__ADS_1
Aku akhirnya tertidur dengan posisi duduk bersandar di bantal.