
PRAM
Aku tidak tega melihat Pipin menangis. Aku memeluknya dan menenangkannya.
Telpon sudah diputuskan mama Pipin.
"Pin... Kamu sudah berhenti nangisnya..." Kataku.
Pipin berusaha menenangkan emosinya dna menghapus air matanya.
"Pram... Maafin aku yaa.. Aku sudah buat kamu dalam masalah." Ucap Pipin sambil masih menangis.
Aku menghapus air mata Pipin dan tersenyum.
"Pin... Sudah jangan pikir macam-macam yaa.. Sekarang kamu tenangkan diri dan kontrol emosimu. Yaa..."
Pipin memelukku. " Pram.. Aku sangat mencintaimu..."
"Ya Pin, aku juga mencintaimu..." kataku.
Kemudian aku dan Pipin meninggalkan wartel.
"Pin, kita pulang aja yaa.." kataku.
Pipin mengangguk.
***
__ADS_1
Keesokan harinya Pipin menelpon keluarganya lagi. Dan kebetulan mamanya yang menerima telponnya.
Pipin dan mamanya saling melepas rindu melalui telpon. Aku melihat Pipin menangis.
Tak berapa lama, Pipin memanggilku.
"Pram, mama mau bicara.." Pipin memberikan gagang telponnya kepadaku.
"Selamat pagi ma... Ini Pram ma.." kataku mengawali pembicaraan di telpon.
"Nak Pram.. Maafin papanya Pipin yaa... Sebenarnya papanya Pipin akan menuntut kamu Pram, tapi mama membujuknya." Mama diam sesaat.
" Syukurlah papanya pipin akhirnya memberikan restu untuk pernikahan kalian dengan syarat Pram harus bisa membahagiakan Pipin lahir dan bathin. Kamu bisa penuhi syarat itu kan Pram???" tanya mama.
Aku terdiam, Pipin menyenggol tanganku.
Aku mendengar mama menghela nafas
"Yaa nak Pram... Yang penting nak Pram berusaha untuk cari pekerjaan yaa.." kata mama Pipin.
"Ooh kalau itu harus ma... Pram akan berusaha mencari pekerjaan untuk bisa menghidupi Pipin." Jawabku optimis.
"Syukurlah nak, mama senang mendengarnya. Dalam 2 hari ini kalau tidak ada halangan papa ma mama dan kakaknya Pipin akan ke sana untuk membicarakan soal pernikahanmu."
"Oh iya ma.. Nanti Pram beritahu keluarga Pram di sini. Makasi ma untuk semuanya..." kataku.
Setelah itu Pipin berbicara lagi dengan mamanya. Aku melihat Pipin sudah tidak menangis lagi, ada terlihat kebahagian dari sorot matanya.
__ADS_1
Sekarang aku bisa bernafas lega, akhirnya aku mendapat restu dari kedua orang tua Pipin.
Keesokan harinya sekitar jam 12 siang aku menjemput papa, mama dan kakak Pipin di bandara.
"Pa.. Ma.. Selamat datang... " Aku mencium punggung tangan papa dan mama Pipin secara bergantian. Tampak wajah marah papa Pipin masih terlihat..
"Mas Andre.... " Aku pun bersalaman dengan kakak Pipin. Mas Andre tersenyum.
Kemudian kami menuju rumahku.
Orang tuaku menyambut keluarga Pipin alakadarnya.
"Selamat datang di gubuk kami , silahkan masuk pak," kata papaku sambil tersenyum bersahabat dan mempersilahkan duduk. Papa Pipin membalas senyum papaku walaupun tampak dipaksakan, kemudian duduk.
"Saya minta maaf atas kelakuan Pram anak saya. Dan anak saya Pram ingin menikahi putri bapak. Bagaimana pak??? Saya berharap kiranya bapak memberikan restu atas niat baik anak kami." Kata papaku.
Papa Pipin diam , kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Yaa... Pram dan pIpin sudah menjelaskan niat mereka di telpon. Yaa saya berharap , nak Pram bisa menjaga Pipin dengan baik. " Papa Pipin memandangku tajam.
Papaku lega mendengar jawaban papa Pipin.
"Syukurlah kalau begitu. Saya senang pak, dan terimakasih bapak sudah mengijinkan putrinya menikah dengan anak saya Pram.
Kemudian mereka membicarakan tentang penentuan kapan waktu terbaik tanggal pernikahan. Lama-kelamaan suasana yang tadinya tegang dan kaku bisa berubah menjadi lebih hangat dan rileks.
Aku lega pertemuan keluargaku dan keluarga Pipin berjalan lancar. Tinggal menunggu hari H pernikahan.
__ADS_1