
Seharian aku menunggu kabar dari Pram, namun tak satupun masuk pesan dari Pram.
Aku ke toko diantar suami, karena aku kurang enak badan. Suamiku menjemputku.
"Ma... Aku dah di depan toko, aku gak turun." Kata suamiku di telepon.
"Iyaa Pa... Lagi sebentar mama keluar. Ini masih beres-beres ma Siti." Kataku.
" Siti... Udah yang itu dibereain besok aja. Kasian bapak dah nunggu ibu di luar." Kataku pada Siti.
"Baik Bu...." Kata Siti, yang kemudian menyelesaikan beres-beresnya. Tak sampai 5 menit semua sudah beres, aku dan Siti kelur dari toko.
",Bu, Siti pamit yaa..." Kata Siti menyalamiku dan kemudian menyalami suamiku.
"Hati-hati yaa Siti." Sitipun berlalu.
" Ma... Gimana masih gak enak badan?" Tanya suamiku.
Aku mengangguk.
"Kalau begitu, nanti malam kita ke dokter yaa." Kata Suamiku.
"Iya Pa..." Kataku lemah.
Suamiku melirik ke arahku.
"Ada apa Ma? Kok sepertinya lemes banget." Kata suamiku sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Gak ada apa-apa Pa... Mama cuma agak lemes aja."
__ADS_1
Suamiku menghela nafas.
Aku diam saja. Sejujurnya aku kepikiran ma Pram. Dari pagi sampai sekarang gak ada kabarnya.
"Ma... Kita ke pantai, mau?" Tanya suamiku.
"Maaf Pa, lain kali aja yaa Pa ... Mama lagi pingin cepet-cepet sampai rumah, dan tidur."
"oooh gitu... Iya udah kita putar balik pulang yaa Ma." kata suamiku.
Aku mengangguk.
Sampai rumah aku minta dibuatkan teh hangat oleh Azka.
Teh ditaruh Azka di meja dekat tempat tidurku.
" Maa.... Kenapa? Sakit yaa?" Tanya Azka.
"Maa... Papa mau pergi bentar , Mama gak apa-apa kan papa tinggal? Tanya Suamiku.
Aku memgangguk dan tersenyum.
Tinggallah aku dan Azka.
"Ma, Nanti malam mama ke dokter aja Ma... Mama keliatan pucat lho. Keliaran lemeass banget." Kata Azka sambil memijit kakiku.
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Azka... Mama lagi kurang enak badan, bisa nanti Azka bantu adek Arini kerjakan PR nya yaa." Aku mengelus rambut Azka.
__ADS_1
" Iyaa Ma... Nanti Azka yang nemenin Arini kerjakan PR nya. Jadi mama istirahat aja dah. "Azka tersenyum.
"Makasi yaa Nak. Mama mau tidur dulu bentar yaa..."
"Iyaa Ma... sekarnag Mama istirahat aja dah yaa... Azka ke kamar dulu yaa .. Mau ngajarin Arini dulu yaam..." Arini beranjak pergi dari kamarku.
"Itaa sayang... Tapi tolong ngajarin adeknya jangan pake marah-marah yaa sayang..."
"Iyaa Ma... "
Malampun tiba, tak terasa aku ketiduran... Aku terbangun dan langsung melihat handphone ku. Pertama yang kulihat adalah handphone ku. Ternyata tak ada pesan dari Pram.
Aku semakin khawatir. Karena tak biasanya Pram tak menghubungiku daei pagi sampai malam.
Aku akhirnya menangis. "Aku khawatir Pram." Bathinku.
Aku hanya bisa mendoakanmu... andai..aku tak melanjutkan angan-anganku.Hmmm.....
Selesai makan malam, aku ke dokter. Dokter menyarankan supaya aku perbanyak istirahatnya.
"Iya yaa..."
Selesai dari dokter, kami langsung pulang ke rumah.
" Maa... menurut Papa, sebaiknya mama gak jualan dulu, biar Mama bener-bener sehat dulu yaa... "
"Mama juga maunya begitu, tapi gimana doang pelanggannya Pa .. Kasian ntar kabur semua pelanggan Mama." Kataku.
"Nanti kalo ada pelanggan yang urgen naru Mama yang urus."
__ADS_1
"Iya Pa..." Kataku singkat.