
PRAM
Hubunganku semakin hari semakin dekat dengan Pipin. Pipin selalu ada di saat aku benar-benar membutuhkannya.
Di suatu senja, di tepi pantai...
"Pram, aku bahagia Pram," Pipin memeluk Pram dengan erat.
Pram mengecup kening Pipin. "Yaa Pin, aku juga bahagia... Cinta dan ketulusan mu membuat keraguan hatiku perlahan-lahan hilang. Makasi Pin."
Pipin menatap Pram, dengan perasaan yang berbunga-bunga.
Aku tahu Pipin begitu tulus menyayangiku. Perhatian-perhatiannya membuatku hangat dalam cintanya.
"Pin, pulang yuk... Hari sudah semakin sore. Aku gak mau papamu marah ke kamu lagi."
"Hmm sebentar lagi Pram...Aku masih ingin rindu."
"Please Pin... Kamu kan tahu kalau papamu gak begitu suka ma aku. Aku gak mau cari masalah. Sudah, kita pulang yuk..." kataku sambil bangun dari dudukku. Aku membersihkan pasir yang ada di celana panjangku.
Pipin akhirnya bangun, sambil cemberut. Tampak wajahnya kesal.
Kemudian aku memanggil bapak tukang bakso yang ada di seberang tempatku duduk, kemudian membayar 2 mangkok baksonya.
"Ayo Pin... " Aku menggandeng tangan Pipin.
Pipin akhirnya mengikuti aku dari belakang. Setelah sampai di parkiran, aku berbalik memandang Pipin.
"Pin... Aku ingin kamu semakin dewasa. Jangan bersikap seperti anak kecil. Kamu tahu kan bagaimana papa kamu. Papamu gak suka sama aku, itu bisa aku liat dan gak perlu kamu sembunyikan."
"Kamu salah Pram, papa suka kok sama kamu." Pilin menatapku.
"Pin, kamu gak perlu menyenangkan hatiku, jangankan aku, orang lain aja bisa lihat kok bagaimana sikap papamu ke aku.".
Aku membuang pandanganku jauh ke depan. Aku menyesali diri terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku langsung sadar, aku tidak boleh berfikir seperti ini. Aku menarik nafas dalam-dalam...
"Pram, maafin aku... Aku tahu papa sebenarnya gak suka ma kamu. Tapi yang penting adalah, aku Pram. Aku sangat mencintaimu Pram, aku gak mau pisah ma kamu." Kata Pipin.
"Sudahlah, kita pulang yuk," Pipin mengajakku pulang.
Di tengah perjalanan, Pipin tiba-tiba bertanya.
"Pram, aku boleh tanya gak sama kamu."
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Janji jangan marah yaa.." Kata Pipin.
"Iyaa... Ada apa Pin?"
" Aku mau tahu siapa cewek yang di foto itu Pram, yang pake sepeda kumbang itu?"
Aku terdiam sejenak karena pertanyaan Pipin.
"Ingat, tadi kamu janji gak marah," kata Pipin.
" Ooh itu, foto yang di meja belajarku itu yaa... Namanya Ara... Dia teman sekelasku waktu SMA. Dan foto-foto yang lain itu teman-teman dekatku di SMS, kami Satu geng."
Aku sengaja tidak menceritakan siapa Ara detailnya.
Pipin cuma mendengarkan ceritaku. Aku menceritakan bagaimana keseruan saat aku bersepeda bersama Ara dan gengku.
""Aku jadi pingin kenal ma Ara. Sejak pisah SMA, kamu pernah ketemu dengan teman-temanmu Pram? "
"Gak pernah Pin... kami hilang kontak sejak perpisahan kelas itu."
Aku teringat Ara.... Sebenarnya aku pernah lewati desa tempat tinggal Ara. Itu waktu aku pulang liburan semester kemarin. Cuma aku gak berani mampir. Karena aku ingat kata Rendi, kalo Ara sudah punya tunangan. Akhirnya aku urungkan niatku menemui Ara.
Asyik ngobrol di jalan, gak terasa aku sudah sampai di rumah Pipin.
"Pin, udah yaa, aku pulang dulu," kataku berpamitan.
Pipin mengangguk.
***
Aku tiduran di tempat tidur kosku sambil membaca buku sastra.
Sejak tadi sore setelah mengantar Pipin, aku teringat Ara. "Bagaimana kabar Ara??? Smoga Ara selalu baik-baik saja," harapku.
Aku menarik nafas panjang. Aku bingung tentang hubunganku dengan Pipin.
Aku dan Pipin wisuda tahun ini. Dan pipin mengatakan kalau sebaiknya hubungan kita sudah saatnya dilanjutkan ke pelaminan. Cuma aku masih kurang sreg sama keluarga Pipin. Sepertinya papa Pipin tidak menyukaiku.
Soal pernikahan, aku sejujurnya belum siap. Aku maunya punya pekerjaan dulu baru menikah, namun Pipin maunya segera menikah. Soal pekerjaan nanti setelah nikah akan ada jalan dan rizki.
Aku bingung...
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku dan memberi salam. Sepertinya suara Agus.
Aku membuka pintu kamarku.
__ADS_1
"Pram.. Aku lapar nih, ada mie atau apa gitu untuk ganjal perutku? " kata Agus di depan pintu.
Aku tertawa.. kemudian mempersilahkan Agus masuk.
Agus langsung mencari meja tempat penyimpanan makanan, dan langsung mengambil 1 bungkus mie instan.
"Pram, kamu mau aku buatkan juga atau gak?" Agus menoleh kepadaku.
"Gak usah dah Gus, aku masih kenyang. Tu ada telur juga, kamu rebuslah untuk lauk."
Agus langsung membuat mie instan dan merebus telur
Saat Agus lagi memasak mie, aku mencoba bertanya padanya.
" Gus, bagaimana menurutmu kalau aku menikah dengan Pipin??"
Agus berbalik dan langsung duduk di sebelahku.
"Kamu serius Pram mau menikahi Pipin?"
Aku mengangguk.
"Pipin minta supaya aku segera melamarnya setelah kamii wisuda besok. Aku bingung karena aku belum punya pekerjaan, aku mau kasi makan apa anak orang."
"Kamu sudah omongkan sama Pipin masalahmu ini?"
"Iya sudah."
"Apa jawaban Pipin?" kata Agus antusias.
"Pipin bilang itu gak masalah, pekerjaan bisa dicari setelah menikah. Yang penting kita nikah aja dulu."
"Wow... Pipin sayang banget ma kamu Pram... Sepertinya Pipin takut kamu tinggalin balik ke kampung, makanya kamu setelah wisuda langsung diajak nikah ma Pipin." Kata Agus sambil tertawa..
"Aku lagi serius ne Gus. Bagaimana menurutmu?"
"Menurutku kalau memang Pipin mau terima keadaanmu, yaa lanjut aja ke pelaminan, toh kamu sudah bilang semua keadaan dan masalahmu. Iya kan....Simple Pram."
"Gitu yaa... Tapi kamu tahu kan, orang tua Pipin gak suka ma aku. Trus gimana?"
"Ah kalo itu gampang, kamu bawa lari aja Pipin. Bawa pulang ke kampung, bereskan??"
Aku manggut-manggut.
Akhirnya aku bertekad untuk menikahi Pipin.
__ADS_1