
Selesai makan malam aku duduk di teras dengan istriku. Aku lihat istriku sudah gak cemberut lagi.
"Pa... Gimana bisnisnya? Kata Adek katanya Papa kekurangan duit untuk tutup orderan pak siapa tu yaa kata adek, ibu lupa." Kata Pipin istriku.
"Iyaa Bu... ada orderan pak Rudi, belum Papa beliin bahannya. Tapi syukurlah tadi Papa ngomong ke Koko yang punya toko bahan, Papa dikasi kelonggaran untuk pembayarannya." Kataku bersemangat.
"Syukurlah Pa...Pa...Ibu mau tanya, ini sebenarnya Papa kerjasama dengan siapa yaa? "
"Maksud ibu?" Aku bingung menjawab pertanyaan istriku.
"Maksud ibu, usaha yang Papa kerjakan ini, siapa yang kasi Papa modal?" kata istriku.
"Ooh maksud ibu, Papa kerjasama dengan siapa, gitu yaa..."
Istriku mengangguk.
"Papa kerjasama dengan si Hasan. Ibu masih inget dengan Hasan kan? Pemuda asal Padang yang berhasil bisnisnya dengan omzet 1 M -an tu lho Bu... Yang pernah Papa ceritain dulu." Kataku berbohong.
"Ooh dia to... Iyaa ibu inget kok Pa. Smoga usaha ini berjalan lancar dan cepet berkembang yaa Pa..."
" Iyaa Bu... Ibu bantu doa aja yaa.... Biar usaha ini cepet kelihatan hasilnya yaa Pa."
__ADS_1
Aku mengangguk optimis..
" Makanya Papa jangan macam-macam. Papa kerjanya jangan pikirin Ara melulu. Biar beres kerjaannya."
"Hmmm... " Aku menarik nafa panjang. Aku males menimpali kata-kata istriku, bakal panjnag jadinya klaau aku menjawab.
"Bu... Papa mau ngerokok duku bentar. Papa ke depan dulu yaa..." Kataku smabil mengambil rokokku.
"Baru diingetin begitu aja dah marah, kesel. Hmmm" Kata Istriku.
"Hmm udah dah... Please aku males ribut Pin. Aku capek. Aku ke depna dulu."
Aku langsung jlaan meninggalkan istriku yang cemberut. Aku sebenarnya tidak suka kalau suasana lagi bagus trus tiba-tiba istriku singgung Ara. Pasti bakalan ribut dah. Solanya sikomentari salah, gak dikomentari juga tetap salah. Jadi aku memilih untuk menghindar dan pergi supaya gak ribut.
"Pa... Pulangnya cepet yaa... gak usah lama-lma di luar." Kata istriku.
" Iya bu... Papa sebentar aja kok." Kataku bersiap-siap untuk pergi.
Sementara di lain tempat, Ara dan Muhlas suaminya sedang duduk di tepi pantai. pulang dari toko, Muhlas mengajak Ara mampir ke pantai sebentar sepulangnya dari toko.
Muhlas memandang Ara. Kemudian menggenggam tangan Ara.
__ADS_1
"Ma... Papa sayang banget ma Mama... Tetep sayangi Papa yaa..."Muhlas mencium tangan Ara.
Ara hanya tersenyum.
"Ma... Inget yaa, Papa sudah janji hanya Mama istriku seorang." Kata Muhlas sambil mamandang wajah istrinya.
"Iyaa Pa... "
"Mama juga janji yaa... Gak akan tinggalin Papa. " Kata Muhlas
Ara tersenyum.
"Mama gak berani janji Pa... Karena hati manusia berubah-ubah. Dan Papa juga gak perlu berjanji, jalani saja Pa..."
"Iya Pa...Maafin Papa yaaa Bu..Gak seharusnya Papa nyakitn perasaan Mama."
"Iya Pa...Gak apa-apa... Mama dah ikhlas Pa. Sejak Mama tahu keadaan Mama, semua sudah Mama ikhlaskan. "
Ara hanya tersenyum dengan tatapan lurus ke depan memandang ombak yang berdebur di pinggir pantai.
Sebenarnya ada perasaan sedih yang mendalam dalam diri Ara. Ara masih tidak percaya kalau suaminya akan menikah lagi hanya karena kekurangan yang dia miliki sebagai istri.
__ADS_1
"Kamu gak tulus menyayangiku. Aku sayangkan itu Muhlas..." Bathin Ara.