Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Cintaku gak salah Ara


__ADS_3

"Ara....mmuuah... Aku sangat menyayangimu." Pram mencium dan menatapku sendu.


"Iya Pram, aku juga sayang ma kamu..." Aku menangis.


"Kenapa kamu menangis Ara, aku ada salah ngomong?"


Aku hanya menggeleng dan air mataku tak bisa kubendung.


"Ara, kalau ada yang tidak kamu suka tolong katakan padaku. Aku gak suka lihat kamu menangis. Aku berniat dari awal pertemuan kita, aku hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia. Ara..."


Aku menatap mata sendu Pram namun aku gak bisa mengeluarkan kata-kata kecuali tangisku.


Pram diam dan melepas pandangannya ke arah lain.


"Ara... ada apa sayang..."


"Pram, aku sangat menyayangimu. Aku tahu kalau kamu sayang banget ma aku, tapi rasa kita ini kenapa harus disatukan sekarang? Aku merasa bersalah pada suamiku. Aku sudah mengkhianatinya. Perasaan bersalah ini menggangguku Pram, namun aku gak bisa hilangkan perasaanku padamu." Aku tertunduk dan mengusap air mataku."


"Sayang...Aku pun merasa seperti itu pada istriku. Perasaan sayangku padamu tetap sama dari dulu sampai sekarang. Apalagi setelah aku tahu perasaanmu padaku juga sama, aku sangat bahagia dan ada rasa sesal di hati kenapa dulu aku tidak memberanikan diriku. Tapi sesal gak ada guna Ara... Jadi sekarang aku menikmati semuanya dengan rasa syukur yang mendalam karena Tuhan sudah mempertemukan kita. Cintaku gak salah Ara... Cinta kita gak salah Ara, Tuhan yang memberikan rasa ini pada kita, jadi kita cukup menjalaninya dan menjaga kesuciannya."

__ADS_1


"Iya Pram... Tapi apa istrimu dan suamiku bisa mengerti? Tidak kan..."


"Ara.. Aku gak akan merusak kebahagianmu dengan suamimu, aku hanya ingin di sisa umurku didekatmu. Biarkanlah Tuhan yang mengatur jalannya. "


Aku mengangguk.


"Mulai sekarang kamu jangan nangis lagi yaa Ar...Aku ingin kamu bahagia dengan pertemuan kita. Iya sayang..."


"Iya Pram...Aku sayang banget ma kamu Pram."


"Iya Ara... Aku juga sangat sayang dan cinta ma kamu. Tetaplah di sampingku Ara...Janji yaa..."


"Iya Pram, aku janji."


"Iya Pram.


Aku merasa lebih tenang sekarang. Tidak bisa dipungkiri aku memang sayang ma Pram. Aku ingin selalu dekat dengannya.


"Ar...Sekarang kamu sudah tenang kan... Aku ingin kamu jangan berfikir macam-macam. Berfikirlah yang baik-baik supaya nanti yang terjadi juga akan baik buat kita."

__ADS_1


"Iya Pram."


"Dan kamu harus ingat Ara. Kecemasan kita tentang masa depan jangan sampai merusak kebahagiaan kita hari ini."


Aku menatap Pram dan mengangguk.


"Ara... Ngomong-ngomong anak kamu yang paling besar masih SMA yaa?"


"Iya Pram. Paling besar namanya Aldi Pram. Tahun ini tamat SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi X. Kemarin lolos lewat jalur undangan."


"Ooh yaa? Hebat sekali anakmu Ar, bisa lolos di perguruan tinggi itu. Apalagi lewat jalur undangan, berarti anakmu termasuk anak yang pintar yaa Ar."


"Yaa Pram. Aku ma Papanya juga gak menyangka Aldi bisa lolos ke perguruan tinggi itu. Aku berharap ini bisa jadi motivasi untuk adik-adiknya." Kataku penuh harap.


Pram menatapku bahagia dna berkata.


"Ara... Kamu memang wanita idaman, kamu bisa mendidik anak-anakmu dengan baik. Yaah... suamimu sangat beruntung mendapatkanmu. Aku tirut berbahagia Ar."


Aku tersipu malu.

__ADS_1


"Kamu terlalu berlebihan memujiku Pram. Aku hanya bisa mendoakan keberhasilan untuk putra putriku Pram."


Pram mengangguk. Kemudian kita membicarakan anak-anak kita masing-masing. Raut wajah bahagia terpancar dari wajah kami yang sedang berbicara tentang kehidupan kami.


__ADS_2