
PRAM
Aku pulang cepat karena aku ingat janjiku dengan Sabila. Sesampainya di rumah, aku disambut Sabila yang sudah siap berangkat, begitu juga Pipin istriku.
Pemandangan itu membuatku bahagia, kontan hilang lelah yang tadi kurasa.
Aku memarkir motorku, kemudian menuju pintu rumah. Sabila langsung berlari, kemudian mencium tanganku dan menggandeng tanganku.
"Pa.. Tabila dah hayum kan.. " Sabila memandangku, kemudian aku angkat dan ku gendong.
"Hmmm harum banget anak Papa...Sudah siap yaa sayang..." Kataku sambil mencium pipinya.
Sabila mengangguk.
Pipin menyalami aku, dan mengambil tasku. Ku kecup keningnya.
"Pa... Papa istirahat dulu yaa, ibu sudah buatin papa teh hangat tu." Pipin menggandeng tanganku.
Aku duduk sebentar di ruang tengah, minum teh. Lalu aku mandi dan bersiap pergi.
Selesai mandi, aku langsung mengajak istri dan Sabila anakku pergi.
"Sekarang kita jalan yaaa, dah siap semua kan..."Kataku sambil menggendong Sabila.
Kami pergi menggunakan sepeda motor butut. Di perjalanan Sabila tampak senang sekali begitu juga Pipin istriku. Aku mengajak mereka ke pantai dulu, yang letaknya tidak terlalu jauh.
Sampai di pantai, kita berjalan-jalan sebentar, kemudian mencari tempat untuk duduk. Kalau sore hari, pantai agak ramai.
__ADS_1
Aku membeli jagung dan kacang rebus, dan air mineral. Kami ngobrol ngalur ngidul, maklum karena ada Sabila. Jadi pembicaraan kami selalu melibatkan Sabila, agar Sabila bisa semakin lancar bicaranya. Maklum saat ini Sabila bicaranya masih agak cadel.
Setelah hampir 1 jam di pantai, akhirnya kita pergi. Dan sekarang yang kita tuju adalah toko buku.
Sesampainya di toko buku, aku menggandeng tangan Sabila, mengajaknya mencari buku cerita dan buku gambar.
"Pa... Tabila mo yang ini... Boleh Pa? Sabila memperlihatkan buku dongeng bergambar buaya dan kancil.
"Boleh sayang..." Kataku sambil mengelus pipi anakku dan Sabila refleks langsung memelukku.
"Ibu mau beli buku apa? Pilih aja." Kataku pada Pipin
Pipin menggeleng dan berkata ," Nanti uangnya gak cukup Pa, lain kali aja dah."
Aku menatap istriku.
"Jangan khawatir, papa punya uang ne. Tadi Papa dapet rizki, jadi sekarang ibu bisa pilih buku apa yang mau dibeli.
"Oh gitu, ya sudah... Uangnya kita tabung saja yaa..."
Pipin mengangguk. Kemudian aku menuju kasir dan membayar buku gambar dan cerita yang dipilih Sabila.
Lalu kami pulang ke rumah dan tampaknya Sabila sudah tertidur di atas motor. Aku menggendongnya masuk kamar, dan aku menidurkannya.
Sementara aku dan Pipin tiduran sambil ngobrol mengenai pekerjaanku dan perkembangan Sabila.
Tak terasa karena malam dah larut, akhirnya aku dan istriku tertidur.
__ADS_1
***
ARA
Di tempat berbeda...
"Ara... Gimana Aldi, masih rewel? " Suamiku bertanya.
" Gak Pa... Tadi sudah anteng kok Pa, gak rewel lagi. Mungkin Aldi rewel karena cuaca yang lagi gerah aja Pa."
" Oooh gitu yaa... Anak Papa rupanya minta dibeliin AC yaa." Kata Suamiku sambil mengelus kepala Aldi yang sedang tertidur pulas
"Jangan dulu Pa... Rumah kan masih ngontrak, sebaiknya kita tabung aja uangnya untuk beli rumah. Sedikit demi sedikit kan bisa jadi bukit."
" Iya Dek... Sebaiknya uang kita tabung dulu yaa..." Suamiku mencium keningku.
" Dek... Kamu kenapa? Dari tadi aku liat kamu seperti kurang bersemangat. Ada apa dek??"
Aku hanya menggelengkan kepalaku. Aku gak mau bebani suamiku lagi dengan perasaan dan masalahku.
"Bener? Jangan dipendam sendiri kalau ada masalah yaa... Sebaiknya kamu terbuka Ara."
Mataku berkaca-kaca. Aku sudah gak sanggup menahan air mataku. Aku kasihan melihat suamiku yang pulang kerjanya sudah larut terus setelah itu harus wara wiri lagi antar keluarga bolak balik pulang.
Awalnya Tidak masalah. Namun sejak awal aku pindah ke rumah kontrakan sampai hampir 1,5 tahun umur pernikahanku keluarga suamiku setiap hari datang ke rumah, dan pulangnya malam harus diantar bolak balik pakai motor oleh suami. Aku todak suka itu.
"Ara... Ada apa? "
__ADS_1
Aku tetap menggeleng, dan akhirnya aku berkata," Gak ada bang.. aku hanya lelah aja." Aku terpaksa berbohong.
Aku akan memberitahu suamiku tapi tidak sekarang. ,"Aku harus bersabar, aku akan mencari waktu yang tepat supaya semua baik-baik saja.