
Aku menunggu Ara menghubungiku balik. Tapi hingga saat ini Ara tak menghubungiku. Aku menjadi tak tenang.
"Pa... Ada apa, Pa? Kok Papa seperti gak tenang gitu." Kata Rahma.
Aku hanya menggeleng dan menatap istriku yang sedang tidur. Tampak wajahnya pucat dan kurus. Istriku sekarang hampir setiap hari sering merasakan sakit kepala hebat disertai dengan kepala sering terasa berputar.
Aku sudah tak tahu bagaimana kelanjutan rencana operasi istriku. Karena aampai sekarang belum ada tanda-tanda istriku akan dioperasi.
Ini adalah hari ke enam Istriku dirawat di rumah sakit. Dan istriku beberapa hari terakhir ini minta pulang terus.
"Bu...Sabar yaa... "Kataku menyamangati istriku.
"Iyaa Pa...Tapi lama sekali Pa. Bagaimana ibu gak bosan dan sakit kepala ibu gak kunjung hilang." Kata istriku.
"Sudahlah Bu... bersabarlah."
"Iyaa Pa..."
Hari ini aku merasa kurang sehat. Badanku terasa remuk semua.
"Pa... Kok ngelamun?" Kata istriku.
Aku tersenyum, kupandangi istriku.
Istriku meraih tanganku.Istriku langsung bangun dari posisi tidurnya.
"Pa.... Badan Papa panas sekali. Papa lagi sakit yaa?" Tanya istriku dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Aah gak... Papa mungkin kurang istirahat aja. Bu.." Kataku dan menghela nafasku.
"Papa kalau lagi gak enak badan sebaiknya Papa pulang aja dulu istirahat." Kata Rahma.
"Iyaa Dek... kepala Papa juga gak enak rasanya nih " Kataku.
"Iyaa Pa... Papa capek Pa. Papa istirahat aja dulu di rumah." Kata istriku.
Aku mengangguk.
"Tapi ibu gak Papa dijagain adek dulu yaa..." Kupandangi istri dan anakku bergantian.
""Iyaa gak pa-pa. Biar Rahma yang temenin ibu dulu." Kata istriku.
"Ooh gitu... Iya udah.. kalau gitu Papa pulang dulu yaa... Nanti Papa minta tolong Yusuf yang nemenin Rahma jagain ibu yaa..." Kataku.
"Pa... Tangan Papa panas sekali. Papa demamnya tinggi banget " Kata Rahma.
"Hmmm gak kok Dek... Papa dah biasa demam seperti ini. Udah yaa... Adek, baik-baik jaga ibu yaa, Papa pulang dulu." Kataku dan kemudian keluar dari ruangan istriku dirawat.
Aku berjalan agak sempoyongan. Aku heran kenapa aku merasa aeperti ini. Badanku sakit semua, dan memang aku merasa badanku demam, dan demamnya tinggi banget gak seperti biasanya. Dan mulutku penuh aariawan, terasa perih.
Aku berjalan perlahan dan mencari tempat duduk agak aku tidak jatuh.
Aku duduk sebantar dan kuatur nafasku. Aku merasa agak sesak. Tiba-tiba ada terdengar notifikasi pesan masuk. Aku mengambil nafar perlahan.
Kubuka pesannya, ternyata dari Ara.
__ADS_1
"Pram... Maafkan aku, kemari aku gak bisa hubungi kamu karena suamiku sekarang selalau menemani aku. Maafkan aku yaa sayang..."
"Gimana keadaanmu, sehat kah?"
Dan aku langsung membalas pesannya.
"Iyaa Ar...Gak pa-pa...Ara, aku boleh telepon?" Kataku.
"Iyaa boleh lah... kutelpon yaa..."Kata Ara dan langsung ada panggilan video masuk.
Aku bahagia banget bisa melihat Araku, cintaku. Sehari aku tak tahu kabar Ara, aku rindu wajah teduhnya.
"Kamu sehat Pram?" Tanya Ara.
"Iyaa aku sehat Ar ... Kamu gimana keadaanmu sayang... Sehat kan?" Kataku sambil menarik nafas perlahan.
"Pram... Kamu lagi sakit yaa" Kaku seperti susah bernafas." Kata Ara.
Aku tersenyum memndang kekasihku.
"Iyaa aku lagi gak enak badan, tapi ntar kalau aku minumin obat paling dah enakan." Kataku.
"Mungkin kamu kecapekn Pram... Tapi sebaiknya kamu ke dokter Pram. Karena sekarang lagi heboh ribut ma virus itu Pram Nanti kmau ke dokter yaa..." Kata Aea.
"Aaah... Jangan terlalu terbawa ma pemberitaan-pemberitaan seperti itu. Aku yakin ini demam biasa kok sayang...Nanti sore juga baikan." Kataku untuk menenagkan Ara karena kulihat Ara tampak cemas.
Aku melihat Ara sehat sudah membahagiakan aku. Aku ingin semua orang yang aku sayangi sehat dan baik-baik saja.
__ADS_1