Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Jangan Pernah Lelah Mencintaiku


__ADS_3

Mendengar keingin dan mimpi Ara membuatku tersadar, bahwa aku mungkin tak bisa membahagiakannya dan mewujudkan semua mimpinya.


"Pram... Kok gak jawabin aku sih?" kata Ara.


"Sayang... Aku sayang ma kamu Ar... Tapi maafkan aku, karena mungkin aku gak bisa wujudkan semua mimpi dan keinganmu. Aku orang gagal Ar. Aku selalu gagal. Ini baru agak baikan ekonomi keluargaku, namun entah besok. Aku tak tahu." Kataku lirih.


"Sayangku... Kok ngomong gitu sih. Emang aku pernah minta kamu tu jadi orang kaya. Aku gak suka denger kamu ngomong seperti itu. Aku sayang ma kamu, cinta ma kamu dan sangat peduli ma kamu. Aku ingin dengan adanya aku, kamu tambah semangat dan tambah yakin bahwa kamu akan berhasil. Aku ingin aku jadi penyemangatmu." Kata Ara.


Aku menatap Ara. Aku melihat betapa Ara bersemangat menyemangatiku. Aku tersenyum.


"Iyaa sayangku... Ara..."Aku terharu melihat Ara. Aku bahagia melihat Ara mencintaiku dengan caranya.


"Iya Pram..." Ara tersenyum dan menatapku.


"I love you... Jangan pernah lelah mencintaiku..." Kukecup kening Ara lewat handphone ku.


Ara ku tersenyum.


Sesungguhnya aku selalu bahagia di dekat Ara. Akupun sayang dan cinta pada istriku dan aku juga bahagia dengan istriku dengan segala kekurangan dan kelebihannya.


Namun rasa sayang dan cintaku untuk Ara sudah ada sebelum Pipin. Dan aku sangat menyayangi Ara. Bahkan aku sangat egois, aku ingin memiliki Ara seutuhnya.


"Pram...." Ara mamanggilku dan membuyarkan semua pikiranku.

__ADS_1


Aku tersenyum. " Iyaa sayang...Ada apa Ar?"


"Lagi mikirin apa? "Tanya Ara.


"Aku sayang kamu Ar. Sayaaaang banget.... Kamu?"


Ara menatapku. "Aku juga Pram ... Aku sayang ma kamu. I love you... Forever..."


Tiba-tiba Pak Amin memanggilku. Aku kaget dan gugup karena aku ketahuan lagi video call dengan Ara.


"Waduuuh ternyata yang dicari lagi di sini, lagi kangen-kangenan... " Kata Pak Amin sambil tertawa ledekin aku.


"Hmmm gak kok Pak." Jawabku sambil cemberut dan memainkan bibirku.


"Telponan ma siapa Pak Pram. Ma mbak Ara Yaa... "Kata Pak Amin.


"Iya Pak. Nanyain kabarnya aja." Jawabku singkat.


"Pak Pram... Aku boleh ngomong gak?" Kata Pak Amin.


Aku memberikan isyarat boleh dengan bahuku.


"Begini Pak Pram... Sejujurnya aku kagum dengan cinta Pak Pram ke mbak Ara. Cuma hubungan ini cukup berbahaya untuk Pak Pram dan mbak Ara. Tapi aku kasian dengan kalian berdua, dengan cinta kalian berdua. Aku liat bagaimana Pak Pram sayang dan cinta ma mbak Ara, dan sebaliknya bagaimana mbak Ara sayang dan cinta ma Pak Pram. Yàaa itulah cinta Pak... Cinta anugrah terindah dari Tuhan yang tidak bisa kita tahu kapan datang dan perginya." Kata Pak Amin dan duduk di sebelahku sambil menghisap rokoknya.

__ADS_1


Kemudian sebungkus rokok disodorkan kepadaku, dan aku mengambilnya sebatang. Aku membakar dan kemudian menghisapnya.


"Iyaa begitulah Pak. Aku juga sebenarnya bingung dengan keadaan ini. Tapi semua gak pernah aku duga. Saat kemarin ketahuan ma istriku, Yaa aku berusaha untuk melupakan rasaku ke Ara, tapi aku sungguh gak sanggup. Semakin kuhilangkan rasa itu, aku semakin tersiksa. Aku tahu aku salah. Tapi yaah... Aku gak tahu harilus bagaimana."


" Ara pun begitu, sering merasa bersalah namun yaa begitu juga, Ara gak bisa menepis rasa itu... Akhirnya kami sampai pada titik jalani semua yang sudah digariskan Tuhan. Kami ikuti jalan yang dikasi Tuhan dan berdoa semoga semua akan indah pada akhirnya."


Pak Amin hajya mengangguk dan kemudian menepuk bahuku.


Lalu kami berdua membahas hal-hal lain dengan topik yang berbeda.


Bila nanti saatnya t'lah tiba


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian kesana-kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah t'lah tiba


Izinkanku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan diujung waktu

__ADS_1


Sudilah kau temani diriku


__ADS_2