Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Pram sangat perhatian pada Pipin


__ADS_3

PRAM


Aku balik ke kantor setelah pulang mengantar Pipin istriku ke dokter. Saran dokter Pipin jangan terlalu capek dan harus rutin minum obat tensinya. Karena Pipin sudah merasa baikan, jadi aku ijin ke istriku untuk ke balik ke kantor. Karena ada pekerjaan yang diberikan pak Amin yang harus segera diselesaikan.


Sampai di kantor aku langsung mulai bekerja.Dan aku mulai mengerjakan tugas yang diberikan Pak Amin. Namun sekitar pukul 9an ada masuk pesan. Dan ku lihat ada pesan dari Ara.


Akupun langsung membuka pesannya. Dan kulihat Ara mengirimi aku beberapa foto jualannya. Kemudian kami saling membalas pesan chatting.


Awalnya chatting kami masih masalah kerjaan, soal promosi yang aku tawarkan ke Ara untu mendongkrak naik penjualannya. Namun lama-kelamaan chatting kami akhirnya mengurai misteri masa lalu kami.


Saat aku meminta Ara mengirimi aku foto yang aku berikan dulu padanya, aku gak yakin Ara masih menyimpannya. Karena aku berfikir Ara gak mungkin menyimpan fotoku selama 20 tahun. Apalah artinya Aku, itu pikirku.


Namun Ara benar-benar membuktikan kata-katanya bahwa dia masih menyimpan foto itu. Ara mengirimkan gambar foto yang aku berikan dulu padanya sebelum kami berpisah.


Aku hanya heran dan terkejut. Aku memperhatikan foto itu. Aku tak percaya Ara masih menyimpannya.


"Yaa Tuhanku... Ternyata dulu aku salah, aku gak berani mengungkapkan perasaanku pada Ara, padahal ternyata Ara juga merasakan perasaan yang sama padaku. Ada apa di balik pertemuanku dengan Ara sekarang Tuhanku.." Aku berkata dalam hatiku.


Yaaah sesal tak ada guna karena tidak merubah apapun...


Chatting Ara terakhir tadi,


"Ya Pram, makasi. Aku bahagia Pram, dengan kehidupanku sekarang. Dan kuharap kamu juga bahagia Pram."


Aku membaca chatting nya itu dengan perasaan yang bimbang. Aku ingin teriak, karena aku ingin melihatnya bahagia, aku tahu Ara sudah bahagia demikian aku, namun ada keinginan hatiku dari lubuk yang paling dalam, aku ingin bahagia bersama Ara.


Aku berusaha hilangkan perasaan itu, aku tidak ingin menyakiti perasaan Pipin istriku yang selama ini sudah menemaniku dalam suka dan duka.


Namun semakin aku berusaha menghilangkan perasaan ini aku semakin tersiksa.


Aku menyulut rokokku, kuhisap dalam-dalam dan kunikmati rokokku. Perasaan dan pikiranku bermain-main dengan asap rokok yang mengepul dari mulutku.


Aku mencoba menenangkan perasaan dan pikiranku.


Kemudian aku mencoba melanjutkan mengerjakan berkas-berkas yang tadi siang ditugaskan padaku . Aku harus bisa konsentrasi agar semua pekerjaanku cepat selesai.


Aku menyetel musik lagu-lagu Sheila On Seven. Aku memang suka hampir semua lagu-lagu sheila. Tiba-tiba aku mendengar lagu Sheila on Seven yang pas syairnya dengan keadaanku sekarang ini.


Kemudian aku mencari liriknya, dan aku copy liriknya, kemudian aku kirimkan Ara.


Tak terasa malam semakin larut, akhirnya aku memutuskan untuk istirahat tidur si kamar.


Aku mencoba memejamkan mata ku namun bayangan Ara muncul terus. Karena aku belum juga bisa tidur, aku mengambil handphone ku. Aku memandangi foto profil Ara. Kupandangi foto itu, aku memeperhatikan dalam-dalam sorot mata Ara di foto itu. Aku melihat kesedihan di sana.

__ADS_1


"Kamu bohong Ara... Kamu bilang dirimu bahagia tapi kamu sebenarnya tidak bahagia. Kamu hidup dalam keterpaksaan." Kataku dalam hati sambil tetep memandang foto Ara.


"Tapi kamu sungguh baik Ara... Kamu gak mau ungkapkan keadaanmu yang sebenarnya. Aku sangat menyayangimu Ar... Aku bertekad, akan menjagamu, membahagiakanmu dan akan slalu ada untukmu walaupun aku mungkin gak bisa memilikimu. I love you Ara..."Bathinku.


Entah jam berapa, akhirnya aku tertidur.


Pagi-pagi sekali aku dah bangun dan langsung mandi. Sebelum pulang, aku sempatkan menelpon istriku terlebih dahulu.


"Pin... "


"Yaa Pa..."


"Kamu jangan masak dulu yaa. Nanti Papa beliin makanan untuk sarapan. Papa gak mau ibu sakit, yaa... Dengerin Papa yaa... Ne Papa dah siap-siap mau pulang. Tolong suruh Yusuf siap-siap yaa Bu..." Kataku dan mengakhiri telpon setelah Pipin mengatakan iya menuruti apa yang aku perintahkan.


Aku keluar kantor dan pamitan di Andre, lalu aku hidupkan motor bututku dan melaju pulang.


Sebelum sampai rumah, aku membeli makanan untuk sarapan keluargaku di rumah.


Sesampainya di rumah, aku langsung disambut Rahma.


"Nak, gimana keadaan ibumu? dah baikan." Kataku sambil melepas Helm ku. Dan Rahma menyalami aku.


"Ibu dah baikan Pa... Tadi sudah bisa ke dapur." Kata Rahma.


"Ya Pa.." Kata Sabila datang menghampiriku dan menyalami aku.


Yusuf juga menghampiriku dan menyalamiku.


"Sabila, Rahma... Yusuf... Denger Papa... Kalau Ibu lagi sakit, tolong bantu Ibu apa yang bisa kamu bantu. Jangan ini Ibu dah sakit eee masih dikasi kerja! Anak-anak Papa harus bisa bantu Ibu mulai sekarang. Jangan biarkan Ibu kerjakan semua kerjaan rumah sendiri. Kalian harus bantu Ibu. Apalagi Ibumu sekarang lagi sakit!


" Semua denger Papa ngomong kan..."


Semua anak-anakku menunduk dan kemudian mengangguk.


Kemudian aku memberikan makanan yang aku beli tadi ke Sabila. Dan Sabila menyiapkannya di meja dibantu Rahma.


"Sudah, sekarang semua sarapan dulu yaa nak... Papa mau liat ibu mu dulu." Kataku sambil mengelus rambut Sabila dan Rahma.


Aku kemudian masuk ke kamar mencari istriku. Aku melihat istriku sedang tiduran. Kemudian aku mencium kepalanya, dan duduk di sebelahnya.


Istriku terbangun, dan tersenyum.


"Baru pulang Pa? "Tanya istriku.

__ADS_1


"Iya Bu... Gimana keadaan Ibu, dah baikan?"


"Masih pusing-pusing dikit kok Pa."


"Ya udah, ibu jangan ngajar dulu. Ibu telpon aja ke sekolah kalau ibu ijin hari ini gak bisa masuk sekolah."


"Iya Pa, tadi ibu dah ijin ma ibu kepala sekolahnya."


"Iya udah, sekarang Ibu sarapan dulu yaa...Untuk ibu, tadi Papa dah beliin bubur ayam kesukaan Ibu."


Istriku mengangguk, dan kemudian mencium tanganku.


Aku mengambil bubur ayam yang tadi aku beli. Aku pindahkan ke mangkok, kemudian aku masuk dan menyuapi istriku.


"Pa... Makasi yaa Pa... Dari dulu sampai sekarang Papa selalu perhatiin Ibu." Kata istriku sambil menatap mataku.


"Maafin Papa yaa Bu... Papa belum bisa bahagian Ibu. Dari dulu sampai sekarang, ibu harus hidup menderita hidup serba kekurangan." Aku menatap istriku.


Mata kami saling bertemu. Aku ingin menangis, namun ku tahan. Aku sadar aku termasuk laki-laki yang cengeng, cepat tersentuh.


"Pa...Ibu bahagia dengan semua ini Pa. Ibu bahagia Papa selalu ada untuk Ibu, memang keadaan ekonomi kita belum longgar tapi kasih sayang Papa dan kesetiaan Papa selama ini sudah cukup buat Ibu bahagia. Makasi yaa Pa." Kata istriku sambil menggenggam erat tanganku.


Aku mengecup kening istriku. "Papa sayang ma ibu... Cepet sehat yaa Bu..."


Selama hampir 22 tahun aku menikah, kami gak pernah ribut. Dan gak pernah ada masalah soal orang ketiga. Aku termasuk laki-laki yang susah untuk menyukai perempuan apalagi jatuh cinta.


Yang ada di kepalaku hanya ingin sukses dan membahagiakan anak istriku. Hanya itu.


Setelah selesai menyuapi istriku, aku bersiap mengantar Yusuf sekolah.


Setelah Yusuf siap, kami pun berangkat. Motorku melaju menuju sekolah Yusuf.


Sampai di sekolah, aku langsung berpesan.


"Yusuf, nanti kalo ada apa-apa telponnya ke Papa aja yaa, jangan telpon ke ibu mu. Supaya ibu mu bisa istirahat dengan baik."


Dan Yusuf pun mengangguk.


Aku kemudian pulang dulu, melihat istriku.


Sesampainya di rumah, aku beres-beres rumah dulu sebentar. Kemudian Pipin menyuruhku berangkat ke kantor. Dan akupun berangkat ke kantor.


"

__ADS_1


__ADS_2