
Hari sudah mulai gelap, karena mendung jadi langitpun tampak lebih gelap. Aku mengendarai motorku agak pelan, karena jalan yang licin dan ada kardus besar di belakangku.
Lampu-lampu jalan sudah mulai menyala. Hembusan angin sejuk menenangkan pikiranku. Aku menikmati pemandangan indah senja ini.
Posisiku sudah dekat dengan kantor. Sampai kantor, kulihat Rahma sedang beres-beres bersiap untuk pulang. Rahma yang melihat kedatanganku langsung menjemputku.
"Pa... Syukurlah akhirnya Papa sampai juga. Adek tadi khawatir Pa. Habis tadi di sini hujannya lebat banget Pa." Kata Rahma.
"Iya Dek, tadi Papa berteduh dulu. Jadi Papa baliknya hampir malem nih." Aku tersenyum.
Saat aku akan menurunkan kardus yang berisi orderan pelanggan, tiba-tiba aku merasa dadaku sakit. Aku memegang dadaku dan duduk.
"Kenapa Pa...Pa...Papa..."
Aku hanya memegang dadaku dan menahan sakit yang teramat sangat. Aku tak mampu berkata-kata.
"Pa.... Papa....Papa kenapa?" Tanya Rahma yang mulai tampak panik.
Aku hanya menggeleng dan mencoba mengatur nafasku yang terasa semakin sesak.
"Pa... Kita ke rumah sakit yaa Pa...."
Aku hanya mengangguk dan tersenyum, kuusap pipi anakku untuk menenangkannya. Namun Rahma tampak sangat panik.
Rahma langsung berteriak minta tolong... Dan kulihat bapak yang punya kantor yang aku sewa keluar.
"Kenapa ini Nak ? Papanya kenapa?"
__ADS_1
Rahma menangis.
" Pak, tolong telponkan taxi Pak. Aku akan bawa Papa ke rumah sakit. Papa tiba-tiba sakit dadanya." Kata Rahma.
" Oh iyaa Nak... Tunggu, bapak telponkan taxi dulu yaa.."
Aku masih sadar namun aku tak mampu berkata apa-apa, aku merasa lemah sekali. Dadaku masih terasa sakit.
Aku melihat Rahma menangis. Aku tidur di pangkuan Rahma. Aku sedih melihat anakku menangis sampai sesegukan. Aku menatap anakku dengan pandangan lirih. Aku tersenyum. Aku ingin mengusap air matanya namun tanganku sudah tak mampu aku gerakkan.
Aku pasrah dan akhirnya aku tak sadarkan diri.
PIPIN
Aku dan Sabila sedang menyiapkan makan malam. Aku masak rendang kesukaan suamiku. Dari tadi siang, aku tak tahu mengapa perasaanku tak tenang, aku memikirkan suamiku.
" Bu... Papa nanti makan malamnya bakal lahap sekali yaa Bu. Ini kan masakan favorit Papa." Kata Sabila sambil menata meja makan.
"Iya Kak... Itu pasti Kak. Papa kan doyan banget ma rendang buatan ibu." Kataku
"Iyaa Bu... Rendang buatan ibu memang enak banget. Aku juga suka banget Bu."
Aku tersenyum. Aku membayangkan suamiku bakal makan banyak dan anak-anak juga bakal lahap makan malamnya nanti.
Tiba-tiba handphoneku berdering.
"Yusuf, tolong ambilkan handphone ibu Nak. Itu mungkin telepon dari Papamu." Kataku.
__ADS_1
"Iyaa Bu." Yusuf bangun dari duduknya. Yusuf sedang menonton Tv sambil mengerjakan PR nya.
"Ini Bu...Ini telpon dari Kak Rahma Bu." Kata Yusuf.
"Oh iyaa Nak..." Aku mengambil handphone ku setelah kucuci tanganku dulu.
"Dek... Ada apa Dek, kok belum pulang?" Tanyaku.
Namun aku tak mendengar jawaban dari Rahma, aku mendengar Rahma menangis sesegukan.
"Dek, kamu kenapa? Dek?" Tanyaku.
Sabila memandang ku, kemudian berkata.
"Bu... Sini biar aku yang ngomong." Kata Sabila.
Aku duduk lemes. Sabila mengambilkan aku air putih.
" Bu... minum dulu yaa..." Aku mengangguk.
" Dek, ini kakak. Ada apa Dek? Kok kamu nangis. " Tanya Sabila.
" Papa Kak... Papa... Hu hu hu..." Rahma mengangis.
"Papa kenapa Dek? Dek?"
Rahma menangis keras. Aku mendengarnya menangis karena Sabila menghidupkan speaker handphone nya.
__ADS_1
Perasaanku semakin tak karuan. "Ada apa dengan suamiku? Yaa Tuhanku, lindungi suamiku." Aku berdoa dalam hatiku.