Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Kak Joko mendesak Ara


__ADS_3

Seminar Regional X telah selesai dan berjalan dengan lancar dan sukses tanpa kendala.


Akan diadakan rapat pembubaran panitia sore nanti. Pembubaran panitia akan diadakan di vilanya Sari salah satu teman panitia.


"Ar, nanti aku kamu di rumah yaa.. Jemput kamu." Kak Joko menawarkan diri menjemput aku nanti saat mau pergi ke vilanya Sari.


""Maaf kak, aku sudah terlanjut janjian ma Icha. Nanti katanya Icha mau jemput aku."


"Biar nanti aku yang ngomong ke Icha, kalo aku yang akan menjemputmu," kak Joko memaksa.


"Udahlah kak, kakak di kampus aja urus transportasi teman-teman. Aku biar bareng Icha aja," tolakku.


Aku memang selalu berusaha menghindar atau menolak setiap kak Joko menawarkan sesuatu kepadaku. Aku tidak mau kak Joko kecewa pada akhirnya karena aku tidak punya perasaan apa-apa padanya. Aku hanya menganggapnya sebagai kakak saja.


"Bang Jo... persiapan ke vila nanti dah beres semua?" tanya kak Arif datang dari arah timur.


"Ooh kamu Rif... Yaa beres, tadi aku sudah suruh Amir urus transportasi. Kalo urusan konsumsi, Icha dan teman-temannya yang urus.." Kak Joko menjelaskan pada kak Arif.


Kak Arif mengacungkan jempolnya," Sip..."


"Ar,nanti kamu berangkat bareng siapa? " kak Arif bertanya kepadaku.


"Aku nanti dijemput Icha dari rumah. Sekalian aku bantu Icha urus konsumsi kak," jawabku.


Kak Arif mengangguk. "Tadi kupikir gak ada yang jemput kamu, syukurlah." Kemudian kak Arif tersenyum.


Kak Joko memandang kak Arif dengan pandangan yang gak suka.


"Rif, coba kamu tanyakan Sari , bagaimana kesiapannya di vila. Apa tempatnya sudah beres atau belum."


Kak Arif yang melihat gelagat kak Joko kesal langsung mengerti kalo kak Joko gak suka dengan pertanyaanku tadi ke Ara. Kak Arif tersenyum. "Sudah beres bang.."


Kak Joko berharap agar kak Arif pergi dan membiarkannya hanya berdua ma aku. Aku hanya tersenyum melihat sikap kak Joko.


" Yaa udah.. Aku pergi.. hmm.. Bilang aja kalo bang Jo gak mau diganggu, mau deketin Ara," kak Arif tertawa dan langsung meninggalkan kami.


Kak Joko puas karena kak Arif paham maksudnya, kemudian tertawa.


"Ar, nanti sore aku tunggu di kampus yaa Ar. Nanti ada 3-4 mobil yang akan menjemput kita. Kamu nanti 1 mobil denganku yaa," kata kak Joko.


"Iya kak, kita lihat nanti deh."


Kak Joko gak puas dengan jawabanku.


"Ar... Kenapa si kamu tu, sulit yaa bilang iya..." Kak Joko tampak kecewa.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum. Kemudian menghela nafas. Aku berharap kak Joko bisa mengerti dari sikap-sikapku selama ini bahwasannya aku gak punya perasaan apa-apa padanya. Itu sebabnya aku gak berani memberikan perhatian lebih padanya karena aku tak ingin kak Joko semakin berharap dan akhirnya nanti akan kecewa.


***


Semua mobil sudah siap. Kami semua sudah masuk mobil dan menuju vila milik papanya Sari yang letaknya di dekat pantai. Aku satu mobil dengan kak Joko, kak Arif, Icha dan 3 orang teman yang lain.


Sesampainya di vila, kami semua kagum dengan vila itu. Tempatnya bagus, Vila letaknya skitar 5-6 meter dari pantai.


Setelah teman-teman panitia berkumpul semua, akhirnya acara pembubaran panitia dimulai. Acara dibuat santai.


Setelah acara pembubaran selesai, kami menikmati makanan yang disediakan sambil menikmati pemandangan pantai. Kami duduk di pinggir pantai sambil menunggu datangnya sunset.


"Ar, ne aku bawakan jeruk." Amir menghampiri aku dan Icha yang lagi duduk di pinggir pantai. Amir membawa 4 buah jeruk.


Aku dan Icha mengambilnya masing-masing satu buah.


"Makasi Mir,"jawabku hampir bersamaan dengan Icha.


Amir mengangguk kemudian ikut duduk.


"Oh iya Ar, tadi bang Joko nyariin kamu. Aku heran ma dia kok ngotot sekali deketin kamu padahal kamu jelas-jelas gak nunjukin rasa suka ma dia," kata Amir kesal.


Aku hanya diam. Sementara Icha tertawa melihat Amir kesal.


Kak Arif tampak menghampiri kami dan kemudian duduk bersama kami. Kak Arif duduk di depanku, dan mengambil jeruk yang ada di depan kami.


"Untuk aku yaa," pinta kak Arif.


Amir mengiyakan.


Kak Arif memandangku sambil memakan jeruknya.


" Ara ... di sana banyak kue lho, kok kamu gak ambil? Eeh dah makan belum?" tanya kak Arif.


"Sudah kak, Aku dan Icha sudah kenyang dari tadi. Itu sebabnya kami selonjoran di sini," jawabku sambil tersenyum.


"Ooh aku pikir belum, syukurlah."


Tak berapa lama kak Joko menepuk pundakku dari belakang.


" Ar... ternyata kamu di sini yaa. Dari tadi aku nyari kamu." Kak Joko mengambil posisi di dekat kak Arif, duduk di depanku.


"Hmm... bakalan kita disuruh pergi dah nih, " Amir memanyunkan bibirnya.


Kak Joko dan langsung tertawa melihat sikap Amir.

__ADS_1


"He he... kamu tahu aja Mir. Kan kamu tahu dari tadi aku nyari Ara," jawab kak Joko sambil melirik aku.


Aku menarik nafas dalam kemudian tersenyum.


"Yaa udah, kita pergi aja yuk bang Arif, Cha... bang Joko mau keluarin jurus mautnya ke Ara..." kata Amir sambil beranjak pergi. Kak Arif dan Icha mengikuti Amir.


Tinggallah aku berdua dengan kak Joko. Sebenarnya kadang aku risih ma sikap ka Joko. Aku sudah berniat sari rumah, andai kak Joko menanyakan perasaanku lagi, aku akan menolaknya baik-baik.


Kak Joko, sekarang duduk di sebelahku.


"Ara liat tu sunset nya sudah terlihat, indah sekali yaa," kata kak Joko kagum sambil memandang ke arah sunset yang baru saja muncul menampakkan keindahannya.


Aku menikmati indahnya pemandangan sunset... Aku berdecak kagum "Sungguh indah... " gumamku.


Kak Joko menoleh kepada ku. "Ar... kamu tampak cantik dan anggun banget lho kena cahaya sunset itu.. Ar, aku serius menyukaimu. Kami belum juga memberiku jawaban sampai saat ini."


Pandanganku tetap ke arah sunset. Diam sejenak, aku memilih jawaban apa yang tepat agar kak Joko tidak kecewa.


"Apapun jawabanmu Ar, aku terima. Aku serius."


Kak Joko kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sunset lagi.


"Kak... makasi sudah perhatian ama Ara selama ini. Tapi... Ara minta maaf karena sampai saat ini Ara belum berfikir untuk dekat dengan seseorang. Ara masih fokus ke kuliah Ara. Kak Joko tahu kan, bagaimana kondisi Ara, kedua orang tua Ara sangat berharap Ara bisa cepat menyelesaikan kuliah agar Ara bisa membantu perekonomian keluarga. Jadi maafin Ara kak, Ara gak bisa menerima perasaan kakak."


Kak Joko menghela nafas, dan menggaruk kepalanya dengan kedua tangannya.


"Ar, aku ngerti itu Ar. Aku gak akan nyakitin kamu, aku akan menjagamu dan mensuportmu agak kamu bisa cepat selesai kuliah." Kata kak Joko sambil memandangku dari samping.


"Tapi kak, aku gak bisa kak. Aku menganggap kak Joko seperti kakakku. Aku gak punya perasaan lebih selain itu kak. Tolong kak Joko mengerti dan maklumi Ara," pintaku dan kemudian aku tertunduk. Aku berharap kak Joko mengerti.


"Hmmm... kamu gak mau mencobanya Ar. Please.." pinta kak Joko.


Aku menggeleng. " Kak, tolong maafin Ara, Ara gak bisa. Kak Joko ngertiin perasaan Ara yaa," aku memelas meminta pengertian kak Joko.


"Atau kamu sudah punya pacar Ar? Terus terang ma aku..."


"Gak ada kak, kakak boleh tanya ke teman-teman. Tanya ke Amir dah kalo kakak gak percaya, Ara memang belum berfikir ke arah itu. "


Kak Joko menarik nafas dalam, ada kekecewaan di situ.


" Baiklah Ar... aku mengerti. Cinta memang gak bisa dipaksakan. Padahal ada beberapa cewek deketin aku dan kasi perhatian ke aku, tapi perasaanku hanya ke kamu. Aku gak tahu kenapa."


" Yaa kak, Ara tahu itu. Maafin Ara kak, Ara gak bisa terima cinta kakak." Jawabku sambil kembali memandang sunset di depanku yang hampir hilang.


Aku lega, aku sudah mengatakan yang sebenarnya ke kak Joko. Aku berharap semoga kak Joko bisa mengerti dan memaklumi aku.

__ADS_1


__ADS_2