Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Pipin kecewa


__ADS_3

Pipin


Aku merapikan kamar Pram yang berantakan. Gak terlalu berantakan, karena Pram orangnya memang gak suka kalo kamarnya gak rapi.


Aku merapikan tempat tidur dulu, ada beberapa buku di dekat bantal. Tak sengaja aku menemukan beberapa foto Pram dan teman-temannya.


Aku perhatikan foto-foto itu satu persatu. Dari beberapa foto itu, sebagian besar foto seorang perempuan berambut ikal yang lagi tertawa sambil mengayuh sepeda tua. "Siapa perempuan di foto ini?" pikirku. Ada perasaan gak enak yang gak menentu dalam hatiku. Kecewa, dan berbagai macam pertanyaan di kepalaku.


Aku berniat nanti akan menanyakan siapa perempuan itu ke Pram. Cuma aku ragu dan takut, jangan-jangan itu orang spesial buat Pram. Aku takut kecewa, karena sungguh aku sangat mencintai Pram, aku takut kehilangan Pram.


Sementara Pram, sejak pertama kali kenal sampai sekarang belum pernah menyatakan apa-apa. Sikapnya biasa aja, tapi membuatku nyaman di dekatnya.

__ADS_1


Sejak awal Pram masuk kuliah di kampus ini, Pram sudah menjadi pusat perhatianku. Aku kakak senior Pram yang mengojlok mahasiswa dan mahasiswi baru kala itu. Sejak awal bertemu, aku sudah jatuh hati pada Pram. Pria tinggi, kurus jangkung, berkulit putih bersih, mata belok, hidung mancung dan bibirnya seger merah mungkin karena Pram tidak merokok.


Aku melanjutkan merapikan kamar Pram, kualihkan pikiranku dari foto perempuan itu. Buku-buku kutata di tas meja, dan foto-foto kutaruh di atas buku.


Saat aku beranjak akan mengambil sapu, tiba-tiba Pram masuk dengan tergesa-gesa dan menabrak aku. Aku kaget dan gak siap jadi tubuhku oleng seketika dan hampir terjatuh. Tapi Pram dengan sigapnya menopang tubuhku, aku gak jadi jatuh. Wajah Pram dan wajahku sangat dekat dan aku saling tatap dengan Pram. Ada getaran-getaran lembut dan indah yang tiba-tiba datang dalam hatiku. Sekujur tubuhku bergetar.


Namun Pram segera melepaskan tangannya di bahuku. Kemudian Pram langsung menuju kamar mamdi.


Aku berusaha mengontrol pikiran dan hatiku yang berdegup gak karuan.


Aku langsung keluar kamar menuju teras. Aku lanjutkan merapikan pakaian Pram. "Pram... tidakkah kamu merasakan perasaan yang sama seperti yang aku rasakan,' batinku. Aku menghela nafas.

__ADS_1


Tak berapa lama Pram keluar, dan sudah duduk di sebelahku.


Pram hanya duduk diam di sebelahku.


Tak berapa lama aku memberanikan diri bertanya bagaimana sebenarnya perasaan Pram padaku, apakah aku berarti untuknya.


Pram menjawab pertanyaanku tapi aku gak puas dengan jawabannya. Aku kecewa dengan jawaban Pram.


Sebenarnya aku punya pacar. Armando dan aku sudah menjalini hubungan hampir satu tahun. Namun sejak bertemu Pram, tiba-tiba aku gak punya perasaan apa-apa lagi terhadap Armando. Apalagi banyak sikap-sikap Armando yang tidak aku suka, dia suka bersikap kasar dan seenaknya padaku. Aku semakin menjauhi Armando.


Aku berfikir, "Apakah karena aku masih ada hubungan dengan Armando yang buat Pram menjawab seperti itu?" Aku bermain-main dengan pikiranku sendiri.

__ADS_1


Keinginanku untuk bertanya soal foto gadis yang sedang mengayuh sepeda itu pun urung kulakukan. Aku takut kecewa.


Akhirnya aku memilih pulang, dan mengikuti keinginan Pram untuk jalani apa adanya dulu. "Toh di sini, aku selalu dekat dengan Pram. Biarlah waktu yang akan menjawabnya," pikirku.


__ADS_2