
Pram
Malamnya aku duduk di teras kos. Aku mengingat pertanyaan Pipin tadi siang. Aku sejujurnya bingung menjawab apa. Karena aku memang belum berani menentukan sikapku.
"Smoga Pipin gak marah dan bisa memaklumi aku," batinku.
Aku menghela nafas dalam.
"Hai Pram, kamu ngapain? Tumben kamu duduk di teras malam-malam." Edo menyapaku, membuyarkan semua pikiranku.
Kemudian Edo datang dan duduk di sebelahku.
"Aku lagi kangen rumah Do, " jawabku singkat.
"Kangen rumah atau kangen rumah ne?" Edo menggodaku.
Aku hanya tersenyum. Aku tahu arah pertanyaan Edo.
Kemudian Edo membakar sebatang rokoknya dan menghisapnya, lalu mengepulkan asapnya.
__ADS_1
"Tadi aku melihat Pipin ke sini, bersih-bersihin kamarmu yaa Pram? " tanya Edo.
Aku mengangguk. "Yaa... biasa Pipin merapikan kamarku dan sekalian membawakan aku makanan dan minuman, " jawabku.
"Wuih enak dong, kamar dirapikan dan dibawakan makanan pula. Kamu beruntung Pram."
Aku tersenyum. " Yaa Do, syukurlah ada yang perhatian maklum di daerah rantau. Kadang uang kiriman dah menipis ee ada yang bawa makanan, aku gak jadi kelaparan kan." Aku berkelakar.
Edo tertawa, kemudian menghisap rokoknya dan mengepulkan asapnya lagi.
"Nah itu maksudku Pram, syukur aja ada Pipin yang kasi kamu perhatian, kalo Ara kan jauh."
Aku kembali terdiam. Aku mencerna kata-kata Edo barusan. "Bener juga apa yang dikatakan Edo barusan," batinku
"Aku masuk dulu yaa Do, aku harus bangun pagi besok karena ada kuliah. Takut besok ketiduran lagi di jam kuliah," aku pamit mau tidur ke Edo.
"Oke Bro, lanjut..."
Kemudian aku masuk kamar. Aku melihat foto-foto yang tadi berantakan ada di atas buku-buku yang sudah dirapikan Pipin. "Sepertinya pipin tadi melihat foto-foto ini," pikirku.
__ADS_1
Aku melihat-lihat lagi foto-foto itu. Aku memandangi foto teman-temanku. Empat sekawan.
Aku terkenang keseruan-keseruan Empat sekawan dulu.
Aku inget waktu itu, saat pelajaran kosong. Saat itu Empat sekawan lagi duduk di ujung kelas. Empat sekawan itu, aku, Rendi, Budi dan Ardi.
"Teman-teman, aku ada permainan... Begini, sekarang kita tulis di secarik kertas siapa di kelas ini yang pantas menjadi ibu dari anak-anak kita. Kemudian di hitungan ketiga kita taruh jawaban kita di atas jidat kita," kata Rendi menerangkan permainan yang dimaksud kepada empat sekawan.
Aku mengangguk, kemudian Ardi dan Budi juga mengangguk tanda setuju.
Aku dan tim Empat sekawan langsung mencari kertas. Kemudian kami menulis nama perempuan yang kami inginkan. Aku langsung menulis nama Ara di secarik kertas.
Kemudian Rendi menghitung sampai tiga, pada saat hitungan ketiga aku langsung menaruh kertas jawaban ku di jidat. Tapi teman-temanku bermain curang, mereka masih tetap memegang jawabannya.
Dan saat mereka melihat jawabanku semua langsung menertawakan aku. Aku ikut tertawa, kemudian aku menyuruh teman-teman empat sekawan untuk menaruh jawaban mereka di atas jidat.
Ardi, Rendi dan Budi Kemudian menaruh kertas jawabannya di atas jidat. Dan sungguh aku kaget bukan main ternyata kami berempat mempunyai jawaban yang sama.
Aku dan teman-teman empat sekawan langsung tertawa. Aku paling girang. "Aku yang paling pertama menaruh jawabanku di atas jidatku, berarti aku yang menang"kataku.
__ADS_1
Teman-temanku langsung tertawa dan mengangguk sambil terus tertawa. Kami tidak menyangka kalau jawaban kami berempat akan sama. Kami menyukai orang yang sama. Ara, gadis sederhana, manis dan lembut yang menjadi jawaban kami.
Aku terkenang peristiwa itu. Kemudian aku mengambil foto Ara, "Ar, aku rindu senyumanmu," batinku.