
Pagi-pagi sekali aku terbangun karena Rahma membangunkanku.
"Pa... Papa demam... bangun Pa..." Kata Rahma.
Aku membuka mataku perlahan. Badanku terasa sakit semua. Aku mengatur nafasku dan duduk.
"Pa... Badan Papa panas." Kata Rahma sambil memegang tanganku kemudian mengusap dahiku.
Aku hanya mengangguk, aku merasakan semua badanku sakit lagi. Nafasku terasa sesak.
"Dek... Tolong ambilkan Papa air hangat. " Kataku.
Rahma mengangguk dan bergegas mengambilkan aku air ke dapur. Tak lama Rahma muncul dan memberiku segelas air hangat.
" Makasi Dek..."
" Pa... Papa sarapan dulu yaa .. Tadi pagi adek dah beli telur ma tempe goreng di warung Bu de." Kata anakku.
"Papa belum ada keinginan untuk makan Dek... Mulut Papa terasa pahit. Papa mau istirahat sebentar yaa..." Kataku.
"Lho kok Papa mau tidur lagi. Papa harus makan dulu, terus minum obat. Na selese minum obat baru tidur. Itu ynag betul...." Kata Rahma.
Aku tersenyum. Dan kulihat Yusuf sedang memperhatikan aku dari teras.
" Iyaa udah... Papa makan dulu dah. Mana sarapan untuk Papa. " Kataku.
Rahma kemudian mengambilkan aku sepiring nasi dengan lauk telur mata sapi.
__ADS_1
"Makasi Dek....Oh iyaa Ibumu sudah sarapan?" Tanyaku.
"Sudah Pa... Ibu sudah sarapan pakai bubur aja. Oh iya Pa, tadi adek ambil duit di dompet Papa untuk beli telur ma tempe." Kata Rahma.
"Oh iya Dek... Gak apa-apa. Terus Yusuf kok belum siap-siap sekolah?" Tanyaku pada Rahma.
"Hari ini kan hari minggu Pa... Yusuf libur."
"Ooh iyaa yaa... Papa lupa..."Kataku sambil menikmati sarapanku yang terasa pahit di mulutku.
Kemudian aku memanggil Yusuf untuk duduk di dekatku. Yusuf menghampiriku.
"Papa aakit lagi yaa..." Kata Yusuf dengan wajah cemas.
Aku tersenyum memandangnya... Anakku sudah besar beranjak remaja. Wajahnya lebih ngambil ke ibunya, dengan alis yang tebal membuatnya tampak tampan.
"Iya Pa.... "
"Nak, bisa tolong ambilkan Papa obat yang ada di dalam tas Papa tu." Kataku sambil menunjuk tas hitam yang ada di dekat TV.
Kemudian Yusuf mengambilkan tasku.
"Pa... Yusuf ambilkan air hangat yaa..." Kata Yusuf.
"Iyaa Nak... Makasih yaa..."
Aku meminum obat sisa dari resep dokter kemarin.
__ADS_1
Rahma dan Yusuf memandangiku.
"Kok liatin Papa seperti itu...Papa cakep yaa walaupun baru bangun." Aku tertawa.
"Wuuiiii Papa ne... GR... hmmm." Kata RahmaĆ .
Beda dengan Yusuf, Yusuf reaksinya cuma tersenyum kemudian diam.
"Kamu kenapa Yusuf? Kok diam... Papa walaupun baru bangun tetep gagah kan..." Kataku cengar-cengir.
"Iya Papa... Papa gagah dalam keadaan apapun." Yusuf langsung memelukku dan menangis.
"Lho... ada apa Yusuf? Kok malah nangis sih..Apa kata Papa, laki-laki tu harus kuat!!! " Kataku dan mengelus kepala anakku yang masih dalam pelukanku.
"Iyaa Pa.... Yusuf sayang banget ma Papa. Yusuf selalu bangga dengan Papa." Kata Yusuf dan menghapus air matanya.
Aku mengelus punggung anakku. "Papa juga sayang banget ma Yusuf .. Papa bangga dengan anak Papa ini..."
" Hmmm Adek jadi sedih ne.... Adek jadi ikut nangis." Kata Rahma menangis.
Aku terharu melihat kedua anakku menangis.. Aku kemudian memeluk mereka.
"Sudah..... Sekarang berhenti dah nangisnya.... Ntar ibumu sedih dipikir ada apa.... Anak-anak Papa semua harus kuat, harus tegar dan gak cengeng. Dah jangan nangis. Hapus air mata kalian..." Kataku dan menghapus air mata Yusuf dan Rahma bergantian.
"Adek sayang Papa... "Kata Rahma memelukku.
Aku tersenyum. Rasa sakit tubuhku terasa berkurang melihat wajah-wajah bahagia anak-anakku.
__ADS_1
Baru kali ini aku mendengar langsung anak-anakku mengungkapkan rasa sayang mereka kepadaku. Aku bahagia mendengarnya...