
Berhari-hari aku menjalani keadaan yang sangat sulit setelah perpisahanku dengan Bagus. Sejak peristiwa siang naas itu qku selalu menghindari Bagus. Bagus mencariku ke rumah, namun aku tidak mau menemuinya.
Aku sudah putuskan untuk fokus ke ujian skripsi. Aku berusaha menghilangkan semua kenangan dengan Bagus. Aku mempersiapkan diriku sebaik-baiknya agar ujian berjalan lancar dan mendapat hasil yang bagus.
Tak terasa hari demi hari berlalu, akhirnya hari ujian skripsiku tiba.
"Ara... Kamu sarapan dulu nak, mama buat nasi goreng sama telur kata sapi," mama menyuruhku sarapan dulu.
Aku masih siapkan beberapa catatan kecil untuk persiapan ujian skripsi. Jadi aku belum sempat untuk sarapan.
"Yaa ma... Tunggu sebentar ma, Ara selesaikan ini dulu baru sarapan," jawabku sambil merapikan berkas-berkas yang harus aku bawa.
" Nasi gorengnya enak ma, tapi maaf Ara gak bisa habiskan karena Ara buru-buru ma. Maaf yaa ma..."Aku mencoba menghabiskan setengah piring saja nasi gorengku.
Mama menganggu dan tersenyum.
"Ara, mama berdoa semoga ujian skripsi Ara berjalan lancar dan dikasi kemudahan yaa nak." Mama mengecup keningku memberiku semangat.
Aku tersenyum, dan pamit ma mama.
Sesampainya di kampus,aku langsung masuk ke ruang ujian. Aku mempersiapkan semua berkas-berkas. "Syukurlah, Dosen pengujiku belum datang," batinku.
Ada beberapa teman juga mendapat giliran ujian skripsi hari ini.
Tak berapa lama dosen penguji datang, ujian skripsi dimulai.
"Huh..."Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya... Setelah hampir 2 jam, akhirnya ujianku selesai. Syukurlah aku bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan dengan baik. Sempat gugup tadi, tapi syukurlah semua dosen pengujinya baik banget, aku diarahakan sampai akhirnya aku bisa menjawabnya dengan baik.
"Bagaimana Ar, ujiannya?" Amir bertanya.
Aku tidak melihat kehadiran Amir. Mungkin karena aku habis ujian jadi gak fokus ke sekelilingku.
"Alhamdulillah Mir... semua berjalan lancar.. Ada perbaikan sedikit saja," jawabku sambil tersenyum puas ke Amir
__ADS_1
"Syukurlah... Selamat yaa Ara..." Amir menepuk bahuku.
Aku bahagia... Tapi entah kenapa ada perasaan terharu dan air mataku ingin menetes keluar, Namun aku segera mengontrol emosiku. Aku mengalihkan pandanganku.
"Mir, aku duluan yaa, aku mau langsung ke perpustakaan mumpung masih pagi." aku pamit ke Amir.
"Yaa Ar, hati-hati di jalan yaa... Sudah Ar, semangat yaa."
Aku terharu mendengar Amir menyemangati aku. Aku mengangguk.
"Makasi Mir." jawabku dan berlalu menuruni anak tangga.
Ketika aku akan menuju perpustakaan, tiba-tiba Bagus menarik tanganku
"Ar... Kenapa kamu menghindariku terus hah??? Ada apa Ara??Tolong jelasin aku " Bagus menatapku tajam.
"Lepaskan tanganku, aku gak mau liat kamu lagi," kataku sambil berusaha melepaskan tangan Bagus dari tanganku. Namun tangan Bagus lebih kokoh mencengkeram lenganku.
"Kamu gak bisa seperti ini, kamu tiba-tiba menghindariku dan gak kasi aku penjelasan sedikitpun. Aku salah apa Ar?"
Akhirnya Bagus melepaskan pegangannya.
"At, please, tolong jelasin aku. Ku mohon..Please Ar..." Bagus memohon padaku sambil menatapku. Kemudian tangannya akan mengusap pipiku, tapi aku menepisnya.
"Jangan Gus. Sudah cukup kamu nyakitin aku. Aku sudah tahu semua, jadi kamu gak perlu sembunyikan apa-apa lagi ke aku. Sudah cukup aku menjadi permainanmu," kataku ketus. Aku tidak mau menatap mata Bagus, karena aku sudah tidak tahan, air mataku akan jatuh menetes.
"Ar, tatap mataku. Aku sayang ma kamu, sayang banget Ar... Kenapa kamu berkata seperti itu. Ada apa sebenarnya?
Aku akan melanjutkan langkahku, namun Bagus menarik tanganku lagi.
" Kalo kamu gak kasih aku penjelasan, aku gak mau lepasin tanganmu!!" Bagus mencengkeram lenganku.
Akhirnya air mataku tak kuasa lagi kutahan. Aku menangis. Bagus berusaha memelukku, namun aku menolaknya.
__ADS_1
"Tolong Gus, kamu gak perlu pura-pura lagi sama aku. Aku sudah tahu hubunganmu dengan cewek itu."
"Cewek mana Ar? Siapa maksud kamu??"
"Waktu itu aku melihatmu membonceng seorang cewek. Aku pernah dikasih tahu ma Dewi dulu tapi aku gak percaya. Cewek yang kamu bonceng persis ciri-cirinya dengan yang dikatakan Dewi. Dan kamu ma cewek itu mesra sekali. "
"Kecemburuan mu gak beralasan Ara. Aku sayang ma kamu, itu yang sebenarnya. Seharusnya kamu lebih percaya ke aku daripada ke Dewi."
Aku menatap tajam ke Bagus.
"Dengar Gus yaa, waktu di tempat KKN, aku percaya sekali dengan semua kata-katanu. Dan aku yakin sekali kalau kamu begitu menyayangi aku. Tapi setelah kita KKN berakhir, sikapmu pelan-pelan mulai berubah."
"Itu perasaanmu saja Ar," Bagus membela diri.
"Aku sudah dapat cerita soal kamu dari banyak teman di sini, tapi sudahlah... Aku gak mau nyalahin kamu. Aku yang salah. Aku terlalu cepat memberikan hatiku padamu."
"Ar... tolong dengarkan aku." Bagus melepas cengkeraman tangannya di lenganku.
"Sudahlah Gus... Aku mohon tolong lupakan semuanya. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Kita memang gak cocok Gus, terlalu banyak perbedaan. Aku sadar aku gak cantik seperti perempuan-perempuanmu . Tolong kita lupakan semuanya Gus. aku sudah lelah Gus."
"Kamu gak tahu bagaimana sulitnya hari-hariku Gus, apalagi aku harus persiapkan diri untuk ujian skripsi." Aku menjelaskan lagi.
Bagus menatapku dalam.
"Ar, aku sayang kamu, aku serius. Mang benar aku punya pacar yang lain, tapi hubunganku gak seserius ke kamu. Karena aku sangat menyayangimu...Percayalah Ar."
Aku membuang pandanganku. Aku tidak mau terpedaya lagi.
"Maafkan aku Gus.. Aku gak bila lanjutin hubungan kita. Maaf Gus, aku harus pergi," Kataku dan melangkahkan kaki melanjutkan perjalananku ke perpustakaan..
Bagus akhirnya melepaskan kepergianku. Bagus memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan menunduk.
Aku sudah tidak peduli lagi. Aku tetap melanjutkan langkaku. Aku sudah cukup kamu sakiti Gus," bathinku.
__ADS_1
Aku menarik nafas... Ada rasa lega,akhirnya semua sudah benar-benar berakhir.