Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Menguatkan Mbak Pipin


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak kepergian Pram untuk selama-lamanya. Sejak kepergian Pram, aku larut dalam kesedihan namun aku sadar siapalah aku.


Kemarin aku sudah menelpon mbak Pipin, aku menyemangatinya dan mengingatkan mbak Pipin bahwa masih ada tanggung jawab dan kewajiban mengurus anak-anak. Mbak Pipin harus bangkit dan berusaha untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan.


Aku duduk di halaman teras rumahku. Aku sendiri karena anak-anak sudah berangkat ke sekolah dan suamiku ada proyek yang harus dikerjakan.


Aku duduk ditemani dengan si Gembul kucing kesayangan anakku dan secangkir teh hangat. Kupandangi bunga-bunga yang ada di teras. Mataku tertuju pada bunga putih yang menjuntai seperti kembang api.


Aku mendekati bunga itu, bunga Wijaya Kusuma. Aku bahagia melihatnya berbunga. Tiba-tiba aku teringat Pram.


"Aku rindu kamu Pram." bathinku.


Air mataku tiba-tiba menetes. Ternyata seperti ini rasanya Pram pergi.


Sebelumnya aku dan Pram memang sepakat mengutamakan kebahagian keluarga kami masing-masing. Melihat Pram bahagia dengan keluarga kecilnya sungguh membahagiakanku dan kulihat seperti itu juga Pram.


Pram tampak bahagia bahkan Pram sering mengatakan bahwa dia sangat bahagia melihatku bahagia dengan keluarga kecilku.


Melihatnya tersenyum dan bahagia, aku sangat bahagia. Namun kini, Pram meninggalkanku selama-lamanya. Aku tak dapat lagi melihat senyumnya, aku tak dapat lagi mendengar suaranya.

__ADS_1


Aku menghela nafasku. Ini sudah takdir. Aku tak boleh larut dalam kesedihan. Aku bahagia karena setelah puluhan tahun berpisah, aku dan Pram bertemu lagi dalam kisah yang berbeda. Aku bahagia menjadi orang yang disayangi Pram. Dengan caranya sendiri menyayangiku.


Aku mengambil handphoneku. Aku membuka puisi-puisi yang pernah dikirim Pram padaku.


Satu bait puisi kubaca, air mataku menetes. Aku tak sanggup membacanya sampai selesai.


Handphone ku berdering. Kulihat dari mbak Pipin. Aku langsung menerimanya.


"Yaa Mbakku... Apa kabar? Aku kangen mbak." Kataku.


"Kabar baik Ara. Kamu sendiri gimana kabarmu." Tanya mbak Pipin.


"Aku sehat mbak..."


"Ar... Ini berat buat mbak Ar. Mbak sudah terbiasa bergantung pada Pram. Kami semua bergantung pada Pram. Ar, kamu gak tahu betapa berat beban di punggung Pram." Mbak Pipin menangis.


Aku mendengar cerita mbak Pipin pun ikut menangis. Aku teringat waktu Pram menceritakan bagaimana perjuangannya hidup di kota besar terus demi memenuhi dan memghidupi keluarganya Pram harus berpisah dengan anak dan istrinya.


" Mbak, aku tahu semua ini sangat berat bagi mbak dan anak-anak. Sangat sulit untuk dilewati. Tapi ini semua memang sudah digariskan dan inilah yang terjadi. Mbak harus belajar untuk mengikhlaskannya dan melanjutkan hidup mbak. Anak-anak sangat membutuhkan mbak."

__ADS_1


" Iyaa Ar, aku kuat dan aku yakin anak-anakku juga kuat. Namun banyak penyesalanku Ar. Aku sangat menyesal Ar. Andai Pram bisa hidup lagi aku ingin membahagiakannya, aku ingin memperbaiki sikap-sikapku padanya. Aku mrnyesal Ar."


Aku menghela nafas. Air mataku menetes terus.


"Sudahlah mbak, semua sudah berlalu. Yang terpenting sekarang mbak harus semangat dan melanjutkan tugas dan tanggung jawab mbak. Aku yakin, Pram juga ingin mbak tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Jangan buat Pram tidak tenang di sana mbak."


Mbak Pipin sepertinya sudah tidak memangis lagi.


" Maafin Ara mbak, mungkin kata-kata ku ada yang kurang berkenan. Aku sadar dan bisa rasakan bahwa akupun mungkin tak akan setegar mbak Pipin sekarang kalau aku yang mengalaminya. "


"Iyaa Ar. Makasi yaa, sudah menguatkan mbak."


" Iyaa mbak, aku dah menganggap mbak seperti kakakku sendiri. "


" Iya Ar. Makasi yaah. Udah dulu yaa, mbak mau masak dulu."


" Iyaa mbak, oh iyaa tolong sampaikan salamku ke anak-anak yaa..."


Mbak Pipin mengiyakan, kemudian pembiacaraan telpon kami berakhir.

__ADS_1


__ADS_2