Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Terhalang restu orang tua


__ADS_3

Aku dan Pipin sudah diwisuda. Aku bahagia dengan gelar yang aku dapat sekarang. Aku berfikir akan lebih mudah bagiku untuk mencari pekerjaan dengan ijazahku sekarang ini.


Sebenarnya Pipin bisa wisuda tahun lalu, tapi Pipin memilih wisuda tahun ini supaya bisa bareng ma aku.


Aku tahu dan bisa merasakan betapa besar rasa sayang Pipin kepadaku. Pipin tidak mau jauh dariku, sampai wisuda pun harus tetap bersamaku.


Aku berfikir mungkin memang Pipin adalah jodohku. Aku melihat kebahagiaan terpancar di mata Pipin.


Aku tidak didampingi oleh kedua orang tuaku. Sementara Pipin didampingi oleh kedua orang tuanya.


Setelah acara wisuda selesai, Pipin mencariku untuk berfoto. Aku foto dengan Pipin. Kemudian Pipin mengajakku menemui orang tuanya.


"Pram, kamu gak mau menemui orang tuaku?" tanya Pipin.


Aku menarik nafas panjang." Hmmm....."


"Pram, please... "


Akhirnya aku mengikuti keinginan Pipin. Sesungguhnya aku agak gugup untuk bertemu dengan kedua orang tua Pipin. Aku tahu mereka tidak menyukaiku.


"Mat siang Om, Tante..." Sapaku sambil mencium kedua tangan mereka.


Namun apa yang aku khawatirkan terjadi. Wajah kedua orang tua Pipin sudah gak enak kulihat.


"Ma... Paa.." Pipin menyenggol tangan papanya.


"Siang..." jawab papa Pipin singkat sambil menyambut tanganku. Bergantian bersalaman dengan tangan mamanya Pipin.


Aku melihat tatapan kedua orang tua. Aku menunduk.


"Pin, kita langsung pulang setelah kamu foto dengan teman-temanmu," kata papa Pipin.


"Tapi pa, Pipin ada acara kumpul sama teman-teman sebentar. Sekitar jam 4 Pipin sudah pulang kok," pinta Pipin.

__ADS_1


"Sudah kumpul-kumpulnya lain kali aja, sekarang kamu ikut pulang ma papa."


"Please Pa.. ma .. Kali ini aja." Pipin memandang papa dan mamanya bergantian.


Mama Pipin membujuk papanya Pipin,, akhirnya papa Pipin mengijinkan. Aku maaih tertunduk.


"Ya sudah, tapi inget kamu pulang gak boleh lebih dari jam 4." Kata Papanya Pipin.


"Makasi Pa, ma..." Kemudian Pipin mencium tangan kedua orang tuanya.


"Permisi Om, tante... " kataku kemudian mencium tangan kedua orang tua Pipin bergantian.


Kemudian kedua orang tua Pipin pulang.


Teman-teman satu angkatan denganku mengadakan acara selamatan, aku dan Pipin datang cuma sebentar saja. Kemudian Pipin minta ditemani ke sebuah cafe yang letaknya dekat dengan kampus.


"Pram.. maafin sikap orangtuaku yaa. Papa ma Mama belum mengenal kamu, aku yakin sikap mereka akan berubah Pram. Maafin papa ma mama yaa..."


Sejak bertemu ma kedua orang tua Pipin tadi, aku agak diam malas bicara ma Pipin. Aku merasa hubunganku dengan Pipin tidak akan mendapat restu dari kedua orang tua Pipin.


"Gak Pram, aku gak mau pisah ma kamu, aku sayang ma kamu... Please tolong jangan tinggalkan aku." Pipin mulai menangis.


"Maaf Pin, aku gak mungkin berani melamarmu kalo aku hanya pengangguran Pin. Please... tolong mengerti Pin. Aku sayang kamu Pin... ini semua untuk masa depan kita." kataku meyakinkan Pipin.


"Aku gak mau Pram..." Pipin semakin menangis.


Aku menggenggam tangan Pipin dan kucium tangannya.


"Pin, maafin aku. Aku sudah pikirkan baik-baik. Seminggu lagi aku akan pulang ke kampung. Aku akan mencari pekerjaan di sana. Besok kalau aku sudah sukses, aku akan menjemputmu. Aku janji."


Pipin hanya menggeleng dan menggenggam erat tanganku.


"Pin, kamu dengerin aku dong.. Aku serius. Sudah tolong jangan nangis terus. Kamu liat tadi kan bagaimana sikap kedua orang tuamu kepadaku. Aku gak mungkin melamar kamu kalau sikap kedua orang tuamu seperti itu."

__ADS_1


AkAku menghela nafas panjang, dan membuang pandanganku jauh ke depan.


Beberapa saat kami berdua diam seribu basa. Masih kudengar isak tangis Pipin.


Kedua orang tua Pipin tidak menyetujui hubunganku dengan Pipin karena aku belum punya pekerjaan, ditambah lagi aku berasal dari keluarga yang kurang mampu. Aku memaklumi keinginan orang tua Pipin. Orang tua sudah pasti ingin melihat anaknya hidup bahagia tercukupi materinya.


Aku merasa patah semangat untuk mempertahankan hubunganku dengan Pipin..


"Pram... Aku ikut ma kamu pulang ke kampungmu yaa? Aku gak sanggup pisah ma kamu Pram... Aku bahagia bersamamu, materi tidak menjamin kebahagian seseorang. Please Pram,, aku ikut yaa..."


Aku menatap Pipin yang matanya masih bengkak, sembab.


Kupandangi Pipin dengan baik.


"Begini aja Pin, sekarang kita pulang yaa... Dan tolong kamu pikirkan baik-baik apa yang kamu katakan barusan."


"Aku yakin Kak... Aku akan ikut kemanapun kamu pergi.,"


"Pin... kamu gak bisa seperti itu. Kamu denger kan?


"Aku janji akan menjemputmu. Ya Pin... kamu pikirkan baik-baik dulu. Kalau tekadmu sudah bulat, silahkan kamu ikut denganku." Aku membujuk Pipin.


"Akhirnya Pipin setuju. " Baiklah akan aku pikirkan baik-baik."


Setelah Pipin mulai ceria lagi lagi, kami siap-siap untuk pulang.


"Pin, nanti aku gak masuk yaa. Aku cukup menunggu dari pintu geerbangnu


Pipin mengangguk.


Tak berapa lama, kami sudah sampai di rumah Pipin. Aku pamitan ke Pipin.


Aku melanjutkan pulang ke kos-kosanku. Aku berusaha menenangkan pikiran-pikiranku. Tak berapa lama skhirnya aku tertidur.

__ADS_1


.


__ADS_2