
Pagi-pagi sekali aku ke rumah sakit untuk menjenguk istriku. Karena kemarin Rahma bilang kalau ibunya harus segera dioperasi karena ternyata ada masalah di otak belakangnya.
Sampai di ruamh sakit aku melihat istriku sedang tidur sedangkan Rahma lagi bersih-bersih merapikan kamar tempat ibunya dirawat.
Aku menyapa anakku.
"Eeh Papa..." Rahma menyalamiku.
"Dek... Nanti adek aja yang buka kantor yaa... Mungkin Papa gak ke kantor dulu pagi ini. Papa mau urus ibumu dulu." Kataku sambil mencium kening istriku.
"Iya Pa."
Istriku tidurnya pulas sekali. Aku duduk di dekatnya. Kutatap wajahnya yang kurus dan pucat. Wajah istri yang sudah setia menemaniku selama hampir 22 tahun. Tiba-tiba air mataku ingin menetes. Aku merasa bersalah karena aku belum bisa membahagiakannya. Aku menghela nafas.
Kemudian Rahma pamit untuk buka kantor setelah aku beri arahan apasaja ynag harus dia kerjakan untuk hari ini.
Sekitar jam 9 pagi, dokter pun datang memeriksa istriku. Kemudian aku bertanya-tanya tentang operasi yang disarankan dokter. Setelah mendapat penjelasan dari dokter akhirnya ditetapkan istriku akan dioperasi 1 minggu lagi. Jadi istriku masih harus rawat inap dulu.
Aku mengurus berkas-berkas yang harus disiapkan dan dilengkapi untuk operasi.
__ADS_1
Setelah semua persyaratan lengkap aku serahkan ke petugas di rumah sakit.
"Bu... Semua persyaratan sudah beres, Papa mau keluar sebentar yaa... Ini Papa di sebelah yaa... Papa mau ngerokok bentar." Kataku.
Istriku mengangguk.
Aku duduk di pojokkan dekat ruang inap istriku. Aku mengeluarkan handphone ku kemudian aku menelpon Ara. Namun Ara tak menerima panggilan telponku. Hingga 3 kali panggilan namun Ara tak menerima panggilan telponku.
Aku bengong. Aku kepikiran Ara. Akankah Ara marah padaku karena aku tak menelpon nya dalam 2 hari. Bahkan aku tak mengiriminya pesan.
Hufff.... Aku membuang nafasku. "Ar... Maafin aku... Aku rindu kamu Ar..." Bathinku.
Aku kemudia masuk ke ruangan istriku. Aku duduk di dekatnya...
"Bu... Yang kuat yaaa... Ibu akan dioperasi jadi ibu harus siapkan mental daj serahkan semua pada yang Kuasa... Papa akan selalu nemenin ibu...Semangat yaa sayang..."Kataku.
Istriku menatapku....
" Paa.... Maafin ibu yaaa.... Makasi Papa tetap sayang ma ibu... Maafin ibu yaa Pa..." Tanganku diciumnya. Dan aku mengelus rambut istriku, yang sudah mulai dihiasi dengan rambut putihnya.
__ADS_1
" I love you... " Kataku sambil ketatap matanya.
"Paa.... Ibu gak tahu apa yang akan terjadi. Karena operasi itu besok antara hidup dan mati. Jadi tolong maafin salah-salah ibu yaa... Maafin ibu yang gak pernah perhatian ma Papa selama ini. Maafin ibu yang...."
Belum selesai istriku melanjutkan kata-katanya, aku langsung menutup bibirnya dengan 2 jariku.
" Sudahlah Bu... Ibu gak perku minta maaf. Ibu adalah istri yang sangat baik dan berbakti pada Papa... Papa yang berterima kasih karena ibu sudah menemani Papa selama ini. Papa yang minta maaf karena belum sempat memberikan kebahagian pada ibu. " Kataku.
Istriku menangis.
"Paaa.... Tolong maafin ibu.... Ibu mohon... Ibu sadar begitu banyak kesalahan yang sudah ibu lakukan ke Papa. Ibu bukan istri yang baik Pa..... Maafin ibu yaa..."
Aku tersenyum dan mengeup kening istriku. Kemudian aku mengangguk.
"Makasi Pa.... Jujur yaa Pa... Ibu merasa sangat beruntung mendapatkan Papa. Papa memberikan ibu kebahagiaan yang gak ada bandingnya. Papa membahagiakan ibu dengan cinta Papa. Sekarang ibu sadar mengapa Papa bisa jatuh cinta pada Ara. Karena ibu gak bisa menjaga dna membalas cinta Papa dejgan baik selama ini." Kata istriku sambil menangis.
Aku terharu mendengarnya.
" Maafin Papa yaa Bu... Maafin Papa." Aku tak berani melanjutkan kalimat-kalimatku bahwa sebenarnya Ara telah mengisi hatiku jauh sebelum Aku memilih dia menjadi istriku.
__ADS_1
Aku memilih untuk menyembunyikan perasaanku pada Ara di istriku. Aku tak ingin mengganggu pikiran dan menyakiti perasaannya karena istriku harus sehat jasmani dan mental nya sebelum operasi.