
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Cika mengucek matanya dengan perlahan saat suara papanya membangunkan dirinya.
"Cika bangun, Sayang!" ucap Fathan dengan pelan.
Cika berusaha membuka matanya. Ia cemberut karena yang membangunkannya bukan sang mama.
"Loh kenapa cemberut gitu? Gak suka Papa yang bangunkan hmm?" tanya Fathan dengan menaikan satu alisnya.
"Mama mana, Pa? Biasanya juga Mama yang bangunin Cika," ucap Cika yang sudah bangun dan sekarang sudah duduk mengumpulkan nyawanya yang sebelumnya belum sadar.
"Mama di kamar. Mulai sekarang dan seterusnya Papa yang akan bangunin kamu tidur dan mandiin kamu," ucap Fathan dengan tersenyum.
"Loh kok Papa sih? Aku maunya Mama Tri! Cika mau ketemu mama!" ucap Cika dengan cemberut.
"Ceritanya udah gak sayang lagi nih sama Papa? Mama mulu yang dicariin," ujar Fathan dengan cemberut. Ia hanya bercanda kepada Cika karena di dalam hatinya Fathan mereka bahagia karena Tri mampu membuat Cika sangat dekat dengannya bahkan menganggap Tri sebagai ibu kandungnya sendiri.
"Bukan gitu, Papa! Maafin Cika. Tapi Cika mau ketemu Mama," ujar Cika merasa bersalah kepada papanya.
Fathan menahan tawanya, ia merentangkan kedua tangannya. "Ayo Papa gendong ketemu mama. Papa ada kejutan buat Cika," ucap Fathan dengan tersenyum bahagia.
"Kejutan? Cika gak lagi ulang tahun, Pa!" sahut Cika dengan berpikir yang membuat Fathan gemas.
Cup...
Fathan mengecup pipi anaknya dengan gemas. "Cika akan suka nanti. Ayo sekarang ikut Papa ke kamar, mama juga ada di sana sama kakek dan nenek," ucap Fathan dengan lembut.
Cika masuk ke gendongan sang papa dengan benak yang banyak di selimuti pertanyaan. Dari sang papa yang tumben membangunkan dirinya, biasanya Fathan menunggu Cika di meja makan. Terus kejutan yang akan papanya berikan pagi ini karena seingatnya Ia tidak berulang tahun hari ini.
Sedangkan Fathan sengaja merahasiakan kelahiran anak kembarnya kepada Cika. Ia ingin memberikan kejutan kepada anak sulungnya dan ingin melihat reaksi Cika ketika kedua adiknya sudah lahir ke dunia.
Fathan membawa Cika ke kamarnya, samar-samar Cika mulai mendengar suara bayi menangis. Tetapi anak kecil itu masih bingung hingga melihat mamanya sedang menggendong bayi.
"Bayi?" beo Cika menatap papanya meminta penjelasan.
"Dedek kembar Cika," ucap Fathan dengan tersenyum.
"Cika mau turun, Pa!" ucap Cika dengan mata berbinar.
__ADS_1
Fathan menurunkan anaknya dari gendongannya. Cika langsung berlari ke arah mamanya yang berada di atas kasur.
"Hai Kakak Cika? Gimana tidurnya nyenyak?" tanya Tri dengan lembut.
Cika belum menjawab. Ia naik ke atas kasur untuk melihat lebih jelas adik-adiknya.
"Nyenyak Mama!"
"Pelan-pelan, Sayang. Awas kena kaki Mama!" ucap Fathan memperingati sang anak.
Cika mengangguk. "Ma, kapan adek Cika keluar?" tanya Cika dengan bingung.
Tri dan Fathan tertawa. "Jam setengah 4 pagi, Sayang!" jawab Tri dengan lembut.
"Kenapa Cika gak dibangunin? Cika kan mau lihat!" ujar Cika cemberut.
"Mama kan kasihan sama Cika yang udah tidur. Pagi ini udah bisa lihat adek Cika sepuasnya," ujar Tri dengan hangat.
"Ibu sama bapak kemana, Sayang?" tanya Fathan yang tak melihat kehadiran kedua mertuanya di kamarnya.
"Di dapur, Mas. Ibu katanya mau buatkan sup untuk aku," jawab Tri sedikit meringis saat anak pertamanya menghis*p put*ngnya dengan kuat.
Sedangkan Cika masih takjub dengan kedua adiknya. Cika mencium pipi adik perempuannya dengan gemas, adiknya sangat terlihat tenang tidur sedangkan yang adik lelakinya masih asik menyusu kepada mamanya.
"Ikut!" ucap Cika dengan bahagia.
Fathan mengambil anak lelakinya yang sudah selesai menyusu kepada Tri. Dengan telaten Fathan melepaskan gedong anaknya, anak lelaki itu terlihat menahan sesuatu hingga suara kentut terdengar bersama dengan pup yang keluar.
"Ihh adek pup!" ucap Cika menutup hidungnya. Fathan terkekeh, ia sudah biasa mengurus bayi bahkan ratusan bayi sudah ia urus melihat yang seperti ini Fathan sudah terbiasa.
"Biar aku aja yang bersihkan pup baby boy Mas!" ucap Tri.
"Biar Mas aja, Sayang. Kamu istirahat aja setelah Mas memandikan anak-anak kita, nanti Mas akan memandikan kamu," ucap Fathan dengan lembut. Tak ada raut jijik pun di wajah Fathan saat melihat kotoran anaknya.
"Kak Cika tolong bantu Papa ya. Ambilkan tisu basah di lemari itu buat bersihkan pup adek," ucap Fathan dengan lembut.
"Oke, pa!" sahut Cika.
Tri mencoba membantu suaminya tetapi anak perempuannya menangis yang membuat Tri harus menggendongnya. "Cup..cup..sayang. Haus ya!" ucap Tri dengan lembut.
Fathan tersenyum. "Bentar ya Sayang. Papa mandiin kakak kamu dulu," ujar Fathan dengan lembut.
Cika memperhatikan kedua adiknya. "Cika juga mau mandi!" ucap Cika.
__ADS_1
Fathan melihat ke arah Cika. "Iya, Sayang. Sekalian mandi sama adek ya," ucap Fathan dengan lembut. Ia tahu Cika ada sedikit iri dengan kedua adiknya, dan sebisa mungkin Fathan maupun Tri tidak membuat Cika berpikir jika ia dan Tri hanya menyayangi kedua adiknya.
Cika mengangguk. Ia mengikuti langkah papanya ke dalam kamar mandi, Tri melihat anaknya. Cika juga berbalik dan berlari ke arah Tri.
"Ma!" panggil Cika dengan menunduk. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan tetapi takut mamanya akan marah.
"Iya, Sayang. Cika kenapa? Mau apa hmm?" tanya Tri dengan lembut.
"M-mama akan tetap sayang Cika, kan? Adek kembar udah lahir, mereka anak kandung mama sedangkan Cika..."
Tri terenyuh. "Sini peluk Mama!" ucap Tri dengan lembut.
Cika nurut. Ia memeluk Tri dengan erat walau terhalang adiknya yang sedang menyusu. "Bagi Mama kamu adalah anak kandung Mama. Anak pertama Mama dan papa, jangan pernah berbicara itu lagi kepada Mama karena Mama gak suka. Mama sayang Cika sama seperti mama sayang adek kembar. Kamu paham, kan?" ujar Tri dengan lembut.
Cika mengangguk. "Maafin Cika, Ma!" gumam Cika dengan lirih.
Fathan mengintip dari balik pintu. Ia tersenyum karena melihat ketulusan Tri kepada anaknya bersama dengan Tika. "Aku gak salah pilih kamu, Hanum!" gumam Fathan dengan pelan.
"Sekarang Cika mandi sama Papa ya. Nanti kalau keadaan Mama sudah sehat Mama yang akan mandiin Cika lagi," ucap Tri dengan lembut.
"Sebentar lagi nenek Yesha sama kekek Handoko datang. Om Akbar sama tante Fiona juga, jadi Cika harus terlihat cantik. Masa masih bau iler sih," ucap Tri menoel hidung anaknya dengan pelan
"Iya, Mama!" Cika tersenyum menatap Tri.
Cup...
"I love you Mama!" ucap Cika setelah mencium kening mamanya.
"I love you too, Sayang!"
*****
Yang gak sabar lihat Tiara sadar?
Tiara masih mampu bertahan atau gak ya?
Yang gak sabar Fiona hamil anak kecebong mas Akbar mana suaranya?
Bonus foto si kembar
Nevan Fabian Samudra & Nessa Falesia Samudra
__ADS_1