Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 140 (Buket Bunga Mawar)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Delisha mengerjapkan matanya secara perlahan, rasanya tidurnya hari ini sangat nyenyak sekali karena Zayyen memeluknya. Delisha meraba sampingnya sudah tidak ada Zayyen lagi di sana. Sepertinya lelaki itu baru saja meninggalkan kasur karena tempat di sebelahnya masih terasa hangat.


Suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat hati Delisha lega. Ia pikir Zayyen akan meninggalkan dirinya begitu saja tetapi pikirannya salah, Zayyen masih ada di apartemen.


Delisha memandang kamar Zayyen dengan takjub, lelaki itu baru pertama kali membawanya ke sini dan tentu saja Delisha merasa sangat senang. Tetapi walaupun begitu Delisha sudah sangat merindukan Kimmy, kucing kesayangannya yang berada di rumah.


Pandangan Delisha mengedar ke seluruh kamar hingga Delisha menatap buket bunga yang mencuri perhatiannya. Dengan perlahan Delisha berjalan ke arah meja di mana buket bunga itu berada.


"Apa bunga itu untuk Delisha ya? Kok kak Zayyen jadi romantis banget sih?" ujar Delisha dengan terkekeh.


Delisha mengambil buket bunga mawar tersebut dengan perlahan, ia mengirup wangi bunga itu dengan rasa bahagia. Delisha melihat ada kartu ucapan yang terselip di sana, gadis itu mengambilnya dan membukanya dengan perlahan


'Hai cantik, seperti namamu yang sangat cantik. Selamat untuk kelulusan sidang skripsinya Cantika Anastasya Samudra S.Mb.


Gelar itu sangat terlihat cocok bersanding dengan namamu. Aku sebenarnya datang ke kampus untuk menyemangatimu tapi di sana ada Zayden tak mungkin aku menemuimu. Akhirnya aku putuskan untuk memberikan buket bunga cantik ini untukmu. Sekali lagi selamat cantik🄰'


Tes...


Tes...


Air mata Delisha jatuh tanpa gadis itu inginkan. "Ternyata bunga ini bukan untuk Delisha ya? Bunga ini untuk kak Cika," gumam Delisha dengan tersenyum miris dan mata berurai air mata.


Dengan orang lain Zayyen sehangat ini? Sedangkan dengan dirinya?


Delisha tak lagi mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Dengan cepat Delisha meletakkan buket bunga mawar itu lagi di tempatnya. Gadis itu terburu-buru untuk kembali tertidur di kasur dan memejamkan mata saat Zayyen membuka pintu kamar mandi.


Zayyen keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Ia menatap Delisha yang masih tertidur dengan lelapnya, sebelum berpakaian Zayyen menghampiri Delisha terlebih dahulu. Ia mengusap kepala Delisha dengan perlahan, perlakuan Zayyen yang seperti itu membuat Delisha menahan napasnya apalagi ia sempat mengintip Zayyen yang hanya menggunakan handuk, sungguh kekasihnya itu sangat seksi sekali yang membuat Delisha menelan ludahnya gugup.


Zayyen menuju lemarinya, ia mengambil pakaian dan langsung mengenakannya begitu saja, Zayyen tidak takut jika Delisha melihat aksinya tersebut. Sedangkan Delisha, wajah gadis itu memanas dan memerah saat tak sengaja melihat Zayyen sedang berpakaian.


"Tahan Delisha! Anggap saja ini latihan menjadi istri yang baik!" gumam Delisha di dalam hati.


Dengan sejenak ia bisa melupakan rasa sakit di hatinya, Delisha masih mempunyai stok kesabaran yang sangat besar. Entah apa jadinya jika stok tersebut kian menipis dan habis.


Setelah selesai berganti pakaian Zayyen kembali mengampiri Delisha. "Delisha bangun. Ini sudah hampir malam!" ujar Zayyen dengan pelan.

__ADS_1


Delisha berpura-pura menggeliat. Gadis itu perlahan membuka matanya seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur. Zayyen sama sekali tidak curiga dengan Delisha, lelaki itu memang tidak peka dan perhatian kepada Delisha. Apapun yang dilakukan Delisha seakan tak terlihat di matanya.


"Kak Zayyen wangi banget sih? Baru mandi ya? Tambah ganteng calon suami Delisha," ujar Delisha dengan ceria.


"Hmmm... Ayo pulang ini sudah mau malam! Gue gak mau kedua orang tua lo dan ketiga kakak lo berpikir macam-macam," ujar Zayyen dengan tegas.


"Ya... Masa udah mau pulang aja sih, Kak? Baru juga sama-sama," keluh Delisha dengan cemberut.


"Lo lupa udah berapa lama lo tidur di kamar gue? Iler lo aja sampai jatuh ke bantal gue!" ujar Zayyen dengan mendengkus kesal.


"Delisha gak ileran ih! Masa Delisha cuma numpang tidur aja di sini sih? Sekalinya diajak ke sini gak dikasih makan," ujar Delisha yang membuat Zayyen menghela napasnya.


"Gue gak tanggungjawab kalau keluarga lo marah!" ujar Zayyen dengan tajam.


"Mereka gak akan marah! Kan Delisha perginya sama pacar Delisha sendiri," ujar Delisha mengulum senyum manisnya.


Sedetik Zayyen terpana dengan senyuman Delisha tetapi lelaki itu pandai mengontrol ekspresi wajahnya.


"Kak ayo makan! Delisha lapar!" rengek Delisha dengan menarik lengan Zayyen perlahan.


"Ayo keluar!" ujar Zayyen pada akhirnya.


"Ribet! Beli aja!" sahut Zayyen dengan datar.


"Gak mau! Mau makan masakan Kakak!" rengek Delisha dengan manja.


Zayyen menghembuskan napasnya dengan kasar. Sebesar apapun Zayyen menolak pasti Delisha akan terus merengek seperti ini. Daripada telinganya sakit karena terus-terusan mendengar rengekan Delisha lebih baik ia menuruti keinginan Delisha.


"Ayo!" ucap Zayyen dengan ketus.


Delisha mengangguk bersemangat tetapi matanya menatap buket bunga itu kembali seakan pertama kali melihatnya. Ekspresi Delisha juga seakan terkejut dan bahagia melihat buket bunga itu.


"Kak Zayyen beliin Delisha buket bunga ya! Delisha suka bunganya," ujar Delisha dengan cepat turun dari kasur dan ingin mengambil buket bunga tersebut.


Zayyen kelagapan. Lelaki itu dengan cepat mengambil bunga itu. "Jangan disentuh," ujar Zayyen dengan cepat.


Wajah Delisha berubah menjadi sendu. Jika tidak sedang berpura-pura tidak mengetahui apapun Delisha sudah menangis di hadapan Zayyen. Sekuat itu seorang Delisha yang dikenal menyebalkan oleh semua orang.


Zayyen bimbang, tak mungkin ia mengatakan secara langsung kepada Delisha jika bunga ini akan diberikan kepada Cika. Hanya saja Zayyen belum sempat untuk bertemu dengan Cika karena Zayden yang terus berada di samping gadis itu. Zayyen juga tak tega melihat wajah sendu Delisha, dengan cepat dan sudah memastikan jika Delisha tak mengetahui ada kartu ucapan yang terselip di sana dan Zayyen mengambilnya dengan segera.


Saat Zayyen mengambil kartu itu Delisha dengan sengaja menundukkan wajahnya. Air matanya sudah jatuh ke lantai kamar Zayyen tetapi dengan cepat Delisha menghilang jejak air matanya dengan kakinya.

__ADS_1


"Ambil!" ujar Zayyen dengan dingin.


Delisha mendongak, ia menatap Zayyen yang ternyata sedang memberikan buket bunga itu untuknya. Delisha tahu tindakannya sangat bodoh tetapi ini semua ia lakukan demi keutuhan hubungannya dengan Zayyen. Delisha tak akan membiarkan Zayyen mendekati Cika ataupun sebaliknya.


Delisha menerimanya dengan senang hati walau ia tahu Zayyen dengan setengah hati memberikan buket bunga ini untuknya. Senyuman Delisha mengembang dengan sempurna saat buket bunga ini sudah menjadi miliknya.


"Kak Cika maafkan Delisha. Kakak sudah punya kak Zayden gak seharusnya kakak mengambil kak Zayyen juga dari Delisha," gumam Delisha di dalam hati.


****


Ikbal terlihat bermain dengan Kimmy di kamar Danish. Kedatangannya ke rumah sahabatnya bermaksud agar bisa bermain dengan Delisha juga. Namun, Ikbal harus menelan pil kepahitan seorang diri karena orang yang ia cari sedang bersama dengan lelaki lain.


"Galau mulu lo!" ujar Danish saat melihat Ikbal diam dengan mengelus kepala Kimmy dengan sayang.


Kucing kesayangan Delisha dan juga Ikbal itu tampak tenang dan terdengar mendengkur memejamkan matanya.


"Hmmm..." gumam Ikbal dengan malas.


"Biasanya Kimmy tidur di mana?" tanya Ikbal basa-basi.


"Pertanyaan lo anet banget sumpah! Ya di kandangnya lah masa iya di kamar gue!" sahut Danish dengan ketus.


"Kimmy gak boleh terlalu dekat dengan Delisha apalagi sampai tidur sama Delisha. Bahaya buat kesehatannya walau kita tahu dia pecinta kucing sejak dulu tapi harus jaga-jaga juga jangan sampai bulu kimmy buat Delisha sesak napas," ujar Daniel.


"Kimmy gak buat Delisha dalam bahaya! Kimmy seakan ngerti kalau Delisha sakit! Jangan terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan Delisha, dia gak suka itu!" ujar Ikbal yang membuat sahabatnya terbengong.


"Cie bos ngerti banget ya tentang bocil satu itu. Uhuy-uhuy," ujar Sandy yang membuat Ikbal mendengkus kesal.


Ikbal tak memperhatikan para sahabatnya yang menggoda dirinya.


Meong...


Meong...


Seakan tahu sesuatu Kimmy langsung berlari dari pangkuan Ikbal dan benar saja di Kimmy sudah mengelus-elus bulunya di kaki Delisha.


"KIMMY!"


"Mami rindu, Nak!"


Dan saat itu juga Ikbal tersenyum melihat bagaimana Delisha sangat bahagia sekali saat bertemu Kimmy. Bagaimana tidak kucing itu adalah kesayangan mereka dan tentu saja dengan harga yang mahal tapi dijamin membuat mereka gemas.

__ADS_1


__ADS_2