Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 84 (Tidur Panjang)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Fathan menepuk pundak Zidan dengan pelan. Saat ini keduanya sedang melihat Tiara di ruang ICU.


"Gue gak tahu kalau ucapan Tiara yang bilang capek ke gue dan pengin istirahat panjang ternyata seperti ini, gue tahu dia bener-bener lelah selama ini karena takdir yang begitu kejam pada wanita baik dan cantik seperti Tiara tapi apa gue salah meminta dia bertahan sekali lagi? Gue belum sempat membahagiakan dia! G-gue belum menjadi pria yang baik buat dia! Tapi kenapa Tiara mau pergi dari sisi gue? Fathan, gue gak salah kan meminta Tiara bertahan sekali lagi?" tanya Zidan dengan sendu menatap wajah Tiara yang sangat pucat dengan tubuh banyak alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya. Zidan tidak tega, tapi Zidan tidak ingin kehilangan Tiara. Ia ingin selalu bersama raga Tiara hingga raga itu kembali bernyawa.


"Lo gak salah, tapi lo harus melihat Tiara. Dia tersiksa dengan apa yang lo paksakan sekarang. Gue gak nyuruh lo lepas alat-alat medis itu, tapi suatu saat jika Tiara memang benar-benar lelah, tolong lepaskan dia. Tiara mungkin lebih bahagia di sana daripada di dunia ini," ucap Fathan dengan pelan.


Zidan terdiam. Hatinya sama sekali tidak terima jika Tiara pergi, sungguh sakit rasanya jika harus kehilangan Tiara dua kali dalam hidupnya dan yang kedua ini sangat menyesakkan hatinya.


Zidan memegang tangan kiri Tiara dengan pelan seakan takut tangan itu akan remuk seperti tangan kanan Tiara yang kini sudah dikuburkan oleh Zidan. Bahkan saat menguburkan tangan Tiara, Sesak sekali dadanya. Tangan yang dulu sering membelai pipinya kini sudah hancur dan harus diamputasi bahkam sudah menyatu dengan tanah.


"Ay, untuk saat ini Mas memperbolehkan kamu tidur panjang. Tapi, setelah kamu merasa kembali membaik tolong bangun ya, Ay. Demi aku, Zayyen, Zayden, ayah, dan ibu. Kamu mau kan, Ay?" gumam Zidan dengan mata yang berkaca-kaca.


Fathan seakan merasakan apa yang sahabatnya rasakan, ia mungkin sama gilanya seperti Zidan jika Tri seperti Tiara.


"Biarkan Tiara istirahat. Sekarang lo harus bawa Zayyen ke dokter Ando, psikisnya sedang tidak baik-baik saja, dia butuh psikiater. Dia udah cerita ke lo kan soal Barra? Dan gue lihat CCTV parkiran depan Barra ada di mobil Tiara sebelum Tiara pergi jemput Zayyen dan Zayden. Sekarang Barra gak masuk kerja, pasti dia sedang bersembunyi. Rem mobil Tiara disabotase dan saat Tiara mengejar Barra yang membawa Zayyen, Tiara sudah tidak bisa mengendalikan mobilnya. Itu artinya Barra terlibat dalam hal ini. Sekarang kita tuntaskan masalah Barra, dia harus mempertanggungjawabkan semuanya, mungkin dengan ketangkapnya Barra ada kabar baik dari Tiara," ucap Fathan dengan bijak.


Seperti mendapatkan pencerahan. Zidan langsung tersadar, ia bangun dari duduknya.


Cup...


Zidan mengecup kening Tiara dengan pelan. "Mas akan mencari Barra sampai ke ujung dunia pun, Ay. Kali ini Mas gak akan pernah melepaskan lelaki brengs*k itu, kamu yang tenang di sini ya, Ay. Mas pergi dulu nanti Mas akan ke sini lagi," ucap Zidan dengan lembut.

__ADS_1


Zidan dan Fathan keluar dari ruang ICU. Di kursi tunggu sudah ada kedua orang tuanya, kedua anaknya dan juga Tri, Cika yang ada di sana.


Zidan menghampiri Zayyen yang terlihat pucat.


"Zayden sama nenek dulu ya. Kalau mau jenguk mama, Zayden gak boleh nangis. Papa mau bawa kakak kamu ke dokter dulu," ucap Zidan dengan lembut.


"Aku gak sakit! Aku mau temani Mama di dalam!" ucap Zayyen dengan sendu.


"Zayyen lihat mama kesakitan, Pa! Papa Barra jahat dia mau bunuh Mama!" gumam Zayyen dengan gemetar.


"Tangan Mama hancur, Pa! tubuh mama banyak darah. Zayyen takut mama meninggal, Zayyen gak akan maafkan diri Zayyen kalau mama pergi. Zayyen belum bilang ke mama kalau Zayyen sayang mama dengan tulus. Zayyen jahat ke mama sampai mama mau pergi ninggalin Zayyen," ucap Zayyen dengan histeris.


"Cepat bawa Zayyen ke dokter Ando, Zid! Masalah Barra biar gue yang urus sama om Felix," ucap Fathan dengan tegas. Ia tidak mau mental Zayyen terganggu dan akan mengakibatkan Zayyen terus mengalami trauma yang akan mengganggu tumbuh kembang Zayyen nantinya.


Zidan mengangguk, ia menggendong Zayyen dengan mengelus punggung Zayyen yang terus terisak. Sesak sekali rasanya melihat Zayyen seperti ini, trauma anaknya lebih dalam dan Zidan harus dipaksa kuat oleh keadaan.


***


Tekanan darah Tri sangat rendah yang mengakibatkan Fathan harus menginfus istrinya karena tubuh Tri sangat lemas bahkan tak mampu berjalan.


"Kamu bandel sekali Sayang. Sudah Mas katakan jangan melihat Tiara nanti kamu bisa syok dan lemas. Benar saja kan sekarang kamu tidak bisa apa-apa," omel Fathan dengan raut wajah yang sangat khawatir.


"Aku penasaran, Mas. Baru kemarin aku melihat menjemput Zayyen dan Zayden dan sekarang Tiara terbaring lemah di ruang ICU dengan tubuh yang sangat mengenaskan sekali, tangannya diamputasi, kepalanya harus di operasi, belum lagi luka-luka lebam yang ada di tumbuhnya, aku kasihan Mas. Aku membayangkan diriku sendiri yang seperti itu mungkin aku sudah tidak sanggup," ucap Tri dengan menangis.


"Berhenti membayangkan sesuatu yang akan membuat kamu seperti ini, Sayang! Mas tidak suka!" ucap Fathan dengan nada naik satu oktaf.


"Papa jangan marahi mama!" Protes Cika tidak terima.

__ADS_1


Fathan menghela napasnya. "Papa gak marah sama mama. Cuma mama kamu ini bandel banget, bukannya papa gak kasihan sama tante Tiara cuma keadaan mama itu lemah kalau lihat yang seperti itu," ucap Fathan masih terlihat kesal.


Tri meringis saat kedua anaknya menendang saat tangan Fathan mengelus perutnya.


"Dek, kalian kalau udah lahir jangan bandel kayak mama kalian ya," ucap Fathan dengan lembut.


Kedua anaknya mungkin memang anak papa sekali, setiap Fathan berbicara selalu merespon dengan tendangan yang sangat kuat.


"Kamu baru boleh pulang kalau infus ini sudah habis!" ucap Fathan dengan tegas.


Tri mengerucutkan bibirnya. Semenjak usia kehamilan Tri terus bertambah Keposesifan Fathan sangat tidak bisa ditorelir. Apa yang Fathan katakan maka harus ia lakukan, demi kebaikan kata suaminya itu dan terkadang membuat Tri kesal bahkan ngambek tidak jelas kepada suaminya.


Kali ini Fathan tidak peduli jika Tri ngambek kepadanya, melihat tubuh Tri hampir jatuh dengan keadaan hamil membuat Fathan hampir jantungan kalau tadi ia tidak sigap merangkul istrinya. Fathan saja lemas melihat keadaan Tiara apalagi Tri yang sedang hamil dan sangat sensitif.


"Apa? Mau bilang ngambek sama, Mas? Silahkan aja kali ini Mas biarin. Kamu gak tahu rasanya jantung Mas mau copot lihat kamu mau jatuh tadi," ucap Fathan dengan galak.


Tri yang ingin ngambek menjadi menarik-narik lengan kemeja dokter suaminya. Hal itu membuat Cika tertawa, ternyata lucu melihat kedua orang tuanya sedang marahan gemas seperti ini.


"Jangan marah! Ya ya... Nanti malam aku service deh," ucap Tri mengerjapkan matanya.


Fathan menelan ludah tetapi kali ini ia harus teguh dalam pendiriannya agar Tri tidak melakukan kesalahan lagi.


"Service itu apa, Ma? Kenapa harus malam-malam?" tanya Cika dengan polosnya.


Fathan mendelik. "Kali ini kamu yang tanggungjawab, Yang! Mas gak mau jelasin ke Cika. Tapi nanti malam Mas tunggu service dari kamu," ujar Fathan yang membuat Tri kelagapan sendiri.


"Aduh...elus perut Mama dong, Sayang. Mama capek banget habis di marahi sama papa, lama-lama papa galak. Gimana kalau Mama cari papa baru aja buat kamu dan adek kembar?" ucap Tri dengan pelan.

__ADS_1


"YANGGG!"


__ADS_2