Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 179 (Mendandani Ayuna)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Nessa menatap Ayuna yang sudah cantik di hadapannya karena Nessa sudah memandikan anak Andra dan bahkan mendandaninya dengan make up yang ia punya, rasanya sangat menyenangkan bisa mengasah dirinya untuk merias orang dan Ayuna yang menjadi bahan percobaannya.


"Pakai lipstik ini, Bun!" ujar Ayuna mengambil lipstik milik Nessa yang berada di atas meja rias milik gadis itu.


"Benar! Sini lipstiknya, Yuna!" ujar Nessa dengan tersenyum.


"Ini, Bun!" ucap Ayuna memberikan lipstik tersebut.


Ayuna yang memang suka berdandan bahkan ia sering main salon-salonan pun hanya pasrah dan diam saat Nessa mendandaninya.


"Diam ya! Bibirnya agak di majukan, Sayang! Biar lipstiknya menempel dengan sempurna!" ujar Nessa dengan senang.


Ayuna pun mengangguk dengan senang. Ia memajukan bibirnya sesuai yang diperintahkan Nessa.


"Nah cantik sempurna!" ujar Nessa dengan bangga bisa mendadani Ayuna dengan sangat cantik.


"Sayang, Pak Andra sudah jemput Ayuna. Kenapa kalian lama sekali?" tanya Tri kepada anaknya dengan memasuki kamar Nessa yang terbuka.


"Astaga, Nessa! Kenapa Ayuna di dandani seperti ini hmm? Dia masih terlalu kecil menggunakan make up yang kamu punya," ujar Tri menggelengkan kepalanya saat melihat Ayuna yang sudah cantik menggunakan make up.


"Nenek jangan marah sama Bunda! Ayuna juga kan mau cantik kayak Bunda!" ujar Ayuna yang membuat Tri terkekeh karena mengingat Cika sewaktu kecil.


"Nenek gak marah, Ayuna! Sekarang ayo turun ayah kamu sudah menjemput kamu!" ujar Tri dengan gemas.


Nessa menyengir kuda saat mamanya menatap tajam ke arahnya. "Hehe Nessa hanya mengasah bakat Nessa yang terpendam, Ma! Ayuna juga jadi cantik kok! Mama jangan marah!" ujar Nessa memeluk lengan mamanya.


Tri menghela napasnya dengan perlahan. "Mama gak marah cuma Mama mengingatkan kamu kalau pak Andra marah bagaimana melihat anak gadis kecilnya kamu buat mainan seperti ini," ujar Tri menggelengkan kepalanya.


Nessa cemberut. "Nayla gak mau jadi bahan percobaan, Ma! Jadi, Ayuna saja!" ujar Nessa.


"Gimana Ayuna make up ala bunda Nessa cantik gak?" tanya Nessa yang diangguki dengan polos oleh Ayuna.


"Tuh kan Ayuna aja suka Ma!" ujjar Nessa membela diri.


Tri menggelengkan kepalanya. "Terserah kamu, Sayang! Kalau pak Andra marah Mama gak mau bela kamu," ujar Tri dengan pasrah yang membuat Nessa meringis dan juga takut jika Andra akan marah kepada dirinya.


"Yuna, nanti kalau ayah kamu marah tolong bela Bunda ya!" bisik Nessa di telinga Ayuna.


"Siap, Bunda!" ujar Ayuna dengan mengacungkan jempolnya di hadapan Nessa yang membuat gadis itu sedikit lega karena ada Ayuna yang akan membelanya.

__ADS_1


Nessa, Tri, dan Ayuna turun bersama karena Andra sudah menunggu Ayuna sejak 15 menit yang lalu.


Sedangkan Andra mencuri-curi pandang ke arah Cika yang sejak tadi diam di meja makan dengan mengaduk-aduk makanannya. Ia ingin sekali bertanya tetapi rasanya tidak sopan apalagi ada Fathan dan kedua adik Cika yang berada di dekatnya, diajak sarapan bersama saja membuat Andra senang karena bisa melihat Cika di hadapannya setelah gadis itu lulus Andra tak pernah lagi melihat Cika. Rasa rindunya sedikit terobati sekarang.


"Ayah!" panggil Ayuna yang membuat mata Andra teralihkan menatap Ayuna sekarang.


"Uhuk...uhuk...."


Andra langsung tersedak saat melihat wajah anaknya. Nayla langsung memberikan minum kepada calon kakak iparnya, ya setelah Ayuna menginap di sini entah mengapa Nayla merasa jika Andra akan menjadi calon kakak iparnya walau usia Andra sudah matang dan jauh dengan Nessa.


"Ayuna, kamu..." Andra tidak bisa berkata-kata saat ini melihat anaknya sudah di dandani bak model oleh Nessa.


Ayuna memutar tubuhnya di hadapan semua orang. "Ayuna cantik, kan?" tanya Ayuna dengan mengerjapkan matanya yang membuat semua orang terkikik gemas tetapi tidak dengan Andra yang masih syok dengan wajah anaknya. Cantik sih tapi belum saatnya sang anak memakai make up orang dewasa.


"Ih Ayah kenapa gak bilang Ayuna cantik? Ayah mau marah sama Bunda ya? Jangan Ayah, Ayuna suka seperti ini!" ujar Ayuna yang melihat keterdiaman sang ayah.


Andra menatap Nessa dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Salahkan dia yang menitipkan Ayuna pada gadis muda seperti Nessa, jadi anaknya menjadi bahan percobaan seperti ini.


"Awas saja kalau Ayah marah! Ayuna akan balik marah ke Ayah dan Ayuna gak mau pulang!" ujar Ayuna dengan cemberut yang membuat Andra kelagapan menatap sang anak yang sekarang lebih membela Nessa dari pada dirinya.


Nessa tersenyum puas karena Ayuna lebih memilih dirinya. Andra mendelik kesal ke arah Nessa tetapi setelah itu ia berusaha menetralkan ekspresinya di hadapan kedua oren tua Nessa, Cika, Nevan, dan Nayla. Kenapa Nessa terlihat menyebalkan sekali sekarang?


"Ayah gak marah hanya sedikit syok saja, Sayang!" ujar Andra mengalah. Setelah mempunyai kesempatan berdua dengan Nessa maka Andra akan memarahi gadis ini. Lihat saja nanti! Dasar menyebalkan! Pengaruh apa yang Nessa lakukan hingga membuat anaknya lebih menurut kepada Nessa?


"Cika berangkat kerja dulu!" pamit Cika yang membuat semua orang menatap ke arah Cika. Semenjak kepergian Zayden, Cika sama sekali tak semangat menyambut hari-harinya.


"Cika sudah kenyang, Bun! Cika berangkat dulu ya semua!" ujar Cika menyalami kedua orang tuanya.


"Mau bareng sama saya? Sekalian saya mau ke kampus!" ujar Andra memberanikan diri mengajak Cika pergi bersamanya.


"Tidak usah, Pak! Lebih baik antar saja adik saya ke kampus kalian kan satu arah!" ujar Cika dengan tersenyum yang membuat Nessa mendelik.


"Kakak, aku berangkat sama kak Nevan!" ujar Nessa yang enggan berangkat bersama dengan Andra pasti lelaki itu akan memarahinya nanti.


"Bunda sama ayah saja ya?!"


"Om Nevan boleh kan Bunda sama ayah berangkat bersama?" ujar Ayuna dengan mengerjapkan mata dan kedua tangan di tangkupkan ke depan memohon kepada Nevan.


Nevan melihat ke arah Ayuna yang sangat menggemaskan. "Iya boleh! Kalau begitu om berangkat duluan!" ujar Nevan dengan tersenyum.


Nayla terkikik geli melihat wajah kesal kakaknya. Mungkinkah ini awal Nessa dan Andra semakin dekat? Ahhh bocil yang ada di hadapannya ini sangat pandai mencari kesempatan.


"Kak..." rengek Nessa yang membuat Andra menggelengkan kepalanya. Dasar manja! batin Andra kesal.


"Kasihan Ayuna. Kakak berangkat duluan saja kamu sama pak Andra!" ujar Nevan yang membuat Nessa frustasi.

__ADS_1


"Siapa pun tolong aku! Aku ingin menghilang saja hari ini!" jerit Nessa dengan frustasi di dalam hati.


****


"Cantik ayo bangun!" bisik suara bariton yang membuat Delisha menggeliat pelan.


"Masih ngantuk, Pi!" gumam Delisha yang belum menyadari siapa yang membangunkan dirinya saat ini.


Ikbal terkekeh saat Delisha memanggilnya dengan sebutan papi. Apa Delisha mengira jika dirinya adalah Akbar? Dasar gadis menggemaskan.


Dengan perlahan Ikbal menindih tubuh Delisha.


"Papi berat!" protes Delisha dengan suara seraknya dan mata yang masih terpejam.


"Cantiknya Mas Ikbal ayo bangun. Kalau gak bangun pipinya habis Mas pacar makan nih!" ujar Ikbal dengan lembut.


Merasa jika yang menindih tubuhnya bukan sang papi karena tak mungkin papinya juga berbuat seperti itu dan Delisha mulai menyadari jika yang membangunkan dirinya adalah Ikbal, ia membuka matanya dengan perlahan.


"Gantengnya Delisha!" gumam Delisha dengan terkikik senang saat melihat Ikbal lah yang berada di kamarnya.


Cup....


"Bangun, Sayang!" ujar Ikbal dengan lembut.


"Masih lemas!" ujar Delisha dengan manja.


Ikbal terkekeh, ia mencium wangi tubuh Delisha dan bahkan mengecup leher Delisha dengan berani yang membuat Delisha merinding.


"Mas pacar kok tambah ganteng sih?" tanya Delisha dengan memainkan rambut Ikbal yang mulai panjang.


"Karena pacarnya juga cantik!" jawab Ikbal yang membuat Delisha terkekeh.


"Ayo bangun cantikku!" bujuk Ikbal yang membuat Delisha mau tak mau bangun tetapi bukannya ke kamar mandi Delisha malah duduk di pangkuan Ikbal dan malah bersandar di dada Ikbal.


"Manja banget sih pagi ini hmm?"


"Kangen!" ujar Delisha yang membuat Ikbal terkekeh.


"Makanya nikah biar bisa di pandang setiap hari," ujar Ikbal yang membuat Delisha tersenyum.


"Makanya bilang ke Papi!" ujar Delisha dengan berani yang membuat Ikbal semakin tertantang.


"Oke...Kalau Papi mengizinkan kamu gak bisa nolak lagi ya! Awas kalau nolak Mas nikahi, Mas kawinin saat itu juga!" ujar Ikbal dengan tegas.


"Ehh.. Emang apa bedanya nikah sama kawin coba?" tanya Delisha pura-pura tak mengerti.

__ADS_1


"Hmmm... Jangan memancing sesuatu, Sayang!" ujar Ikbal dengan suara beratnya.


Keduanya tergelak bersama dengan Delisha yang masih bermanja dengan Ikbal. Sungguh kali ini hidupnya lebih berwarna saat bersama dengan Ikbal. Kini, alasannya bertahan adalah Ikbal bukan lagi Zayyen bahkan nama lelaki itu perlahan terkikis di hatinya. Mereka memang tokoh utama tetapi keduanya tak wajib bersama bukan?


__ADS_2