Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 170 (Kepergian Zayden)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini...


...Happy reading...


***


Mata Cika bengkak karena semalam ia terus menangis, hari ini adalah hari kepergian Zayden ke Jerman. Bahkan selera makan Cika sampai menurun tubuhnya tampak kurus dalam beberapa hari.


Cika tampak terburu-buru keluar dari kamarnya setelah selesai berganti pakaian. Ia tak ingin Zayden pergi sebelum dirinya datang.


"Sayang, mau ke mana?" tanya Tri dengan lembut.


"M-ma, aku harus ke rumah sakit! Z-zayden mau pergi ke Jerman untuk pengobatan!" ucap Cika dengan terburu-buru.


"Biar Nevan yang bawa mobilnya, Sayang! Kamu harus tenang! Mama gak mau kamu kenapa-napa!" ujar Tri dengan sendu.


"Gak, Ma! Cika berangkat sendiri aja!" ujar Cika dengan cepat.


"T-tapi..."


"Cika berangkat, Ma! Assalamu'alaikum!" ujar Cika dengan cepat.


"Wa'alaikumussalam!" gumam Tri dengan pelan.


"Kasihan sekali kamu, Sayang! Do'a Mama semoga kamu cepat di persatukan kembali dengan Zayden dalam keadaan yang baik. Aamiin!" gumam Tri dengan sendu.


Tri merasa hatinya teriris ketika melihat wajah sembab anaknya bahkan Cika memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang bengkak karena terus menerus menangis semalam, merenung untuk mencoba ikhlas dengan kepergian Zayden demi kesehatan pria itu.


Cika menyeka air matanya yang jatuh kembali tanpa ia komando. Ia tidak ingin menangis tetapi air matanya terus mengalir ketika mengingat Zayden.


"Apa jadinya aku jika kamu pergi, Ay?" gumam Cika dengan pelan.


Cika menggenggam stir mobil dengan kuat, hatinya begitu terluka ketika mengetahui Zayden akan meninggalkan dirinya.


"Tunggu aku sebentar lagi, Ay! Aku hanya ingin memeluk kamu sebagai tanda perpisahan sementara kita!" ujar Cika dengan terkekeh diakhiri dengan tangisan yang mulai terdengar.


"Kenapa kita jadi seperti ini, Ay?" gumam Cika dengan sendu.


Cika menginjak pedal gas mobilnya kembali, kali ini mobil yang ia kendarai melaju dengan cepat menuju rumah sakit papanya.


Cika sudah tak sabaran ingin segera sampai ke sana. setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama menurut Cika akhirnya gadis itu sampai juga di rumah sakit. Cika membuka pintu mobil dengan tak sabaran, gadis itu berlari menuju ruangan Zayden di mana lelaki itu dirawat.


"Zayden!" teriak Cika dengan kuat untuk menghilangkan sesak yang menghimpit dadanya.

__ADS_1


Semua orang menatap Cika dengan pandangan yang sangat aneh tetapi Cika sama sekali tak peduli, gadis itu terus berlari menuju ruangan Zayden hingga Cika sampai di sana.


"Sus, dimana Zayden? Dimana tunangan saya Sus?" tanya Cika dengan tak sabaran.


"Mas Zayden baru saja keluar bersama dengan kedua orang tuanya karena 10 menit lagi mereka akan pergi ke bandara menggunakan ambulance rumah sakit untuk berjaga-jaga jika mas Zayden akan memberontak karena semalam mas Zayden mengamuk bahkan hampir melukai dirinya sendiri jika mas Zayyen tidak datang malam itu," ujar suster yang membuat Cika semakin bersedih.


"Mereka lewat mana, Sus?" tanya Cika dengan gusar.


"Lewat sana, Nona!" ucap suster yang diangguki oleh Cika.


"Terima kasih, Sus!" ujar Cika setelah itu ia kembali berlari.


Pikirannya sama sekali tidak tenang. "Tuhan, izinkan aku bertemu dengan Zayden dan memeluknya sebelum kami berpisah!" gumam Cika dengan sendu.


Cika tersenyum pedih saat melihat Zayden bersama dengan kedua orang tua serta kedua saudaranya. Di sana juga ada papanya yang ikut melihat kepergian Zayden dengan kedua orang tuanya nantinya.


"ZAYDEN!!" teriak Cika dengan keras.


Zayden melihat ke arah belakang. Jantungnya berdetak sangat keras ketika melihat Cika berlari ke arahnya, mata Zayden berkaca-kaca sekarang karena ia sangat merindukan Cika. Ia ingin memeluk Cika tetapi dirinya hanya bisa diam mematung menatap Cika.


Brukk....


Cika memeluk Zayden dengan sangat erat. Awalnya Zayden sama sekali tak membalas pelukan Cika tetapi mendengar isak tangis dari Cika membuat dirinya tak tega.


"Hikss...aku mau ikut!" ujar Cika dengan menangis. Gelengan keras dari Zayden membuat Cika sadar jika dirinya tak pernah bisa ikut bersama dengan pria yang ia cintai.


Zayden memeluk Cika dengan sangat erat, ia juga sangat berat untuk meninggalkan Cika tetapi ini demi kesembuhannya. Bahkan semua dokter berjaga-jaga di sampingnya agar tidak kecolongan seperti semalam di mana Aiden mengambil alih tubuhnya hingga berakhir dengan mencelakai dirinya sendiri. Saat ini juga ia sedang menahan diri agar Aiden tidak hadir, ia tak ingin semuanya kacau karena kehadiran Aiden.


Zayden melepaskan pelukan Cika dengan paksa. "Gue harus pergi!" ujar Zayden dengan datar padahal di dalam hati ia sedang menahan dirinya untuk tidak menangis.


"Hiks... Kamu janjikan akan kembali? A-aku akan menunggumu, Ay! Sampai kapanpun itu!" ujar Cika dengan tegas.


"Jangan tunggu gue! Gue takut buat lo kecewa!" ujar Zayden dengan tegas.


"Hidup lo harus berjalan walau tanpa gue! Gue ikhlas kalau lo menikah dengan yang lain, sebisa mungkin gue akan datang kalau gue udah sembuh!" ujar Zayden yang semakin membuat hati Cika berdenyut sakit.


Fathan mendekati anaknya. "Udah ya, Nak! Zayden pergi untuk berobat!" ujar Fathan dengan lirih.


"Tarik kata-katamu, Ay! Aku akan menunggu kamu selama apapun itu bahkan sampai aku menua! Aku tidak akan menerima siapa pun yang akan melamarku kecuali kamu yang datang!" ujar Cika dengan tegas.


"Cik, lo gak boleh ngomong gitu! Lo harus bahagia tanpa gue!" ujar Zayden dengan gusar.


"KEBAHAGIAAN GUE ITU LO, ZAYDEN! LO MUDAH BANGET MENYURUH GUE UNTUK BAHAGIA DENGAN ORANG LAIN PADAHAL SEPARUH HATI DAN JIWA GUE LO BAWA! LO EGOIS! LO GAK MAU BERJUANG SAMA GUE!" teriak Cika emosi.

__ADS_1


"Nak! Udah ya!" ujar Fathan dengan sendu.


"Zayden jahat, Pa! Kenapa dia gak mau berjuang bersama? Kenapa, Pa? Apa karena dia udah gak cinta lagi sama Cika?" ujar Cika dengan berderai air mata.


Tiara dan Zidan yang melihat dirinya menjadi tak tega. "Zayden pasti akan kembali sama kamu, Sayang! Mama yang akan pastikan itu," ujar Tiara dengan pelan.


Zayden kembali mendekat ke arah Cika, ia membuka kacamata Cika dan betapa terkejutnya Zayden saat melihat mata Cika yang bengkak karena menangis.


"Ay, aku mohon jangan nangis lagi! Aku tarik kata-kata aku tadi ya! Tunggu aku pulang dan kita pasti kan bersama kembali!" ujar Zayden dengan sendu.


"Hiks... Pasti, Ay!! Berapa lama pun aku akan menunggumu kembali!" ujar Cika dengan lega.


Zayden beralih menatap kembaran dan adiknya. Zayden memeluk Zevana dengan sayang. "Jaga diri baik-baik, Dek!" ucap Zayden dengan lembut.


"Hiks.. Kakak cepat sembuh ya!" ujar Zevana dengan terisak.


Zayden mengangguk, lalu ia menatap Zayyen dengan pandangan yang sulit diartikan. "Jaga Zevana dan diri lo!" ujar Zayden.


"Pasti!"


Zayden memeluk Zayyen dan baru pertama kalinya mereka berpelukan setelah belasan tahun lamanya Zayden membenci kembarannya.


Cika memeluk papanya saat Zayden mulai melangkah memasuki ambulance. Tetapi, saat Zayden ingin masuk tiba-tiba Zayden berteriak dengan keras.


"Arghhh....Kalian tidak bisa membawaku kemana-mana! Tubuh ini sudah menjadi milikku!" teriak Aiden dengan kencang yang membuat Cika takut.


"Dok, cepat suntikan obat penenang untuk Zayden!" ujar Fathan yang tak ingin tiba-tiba Zayden kabur.


"Dokter cepat!" ujar Zidan yang berusaha memegang Zayden yang memberontak bahkan istrinya terjatuh dan untung saja di tolong oleh Zayyen dengan cepat.


"Ay, kamu udah janji untuk sembuh! Lawan Aiden, Ay!" ujar Cika yang membuat Aiden semakin murka.


"Cika, beraninya kamu menyuruh Zayden melawanku! Asal kamu tahu Zayden adalah pria yang sangat lemah! Hahaha...dia gak pantas berada di tubuh ini!" ujar Aiden dengan tertawa keras.


"Lepaskan aku brengsek!" teriak Aiden dengan keras.


Para dokter membantu memegang Zayden. Dan untung saja dokter yang memegang suntik sangat cekatan sekali hingga suntik itu sudah menancap di lengan Zayden, cairan yang berada di dalam suntik itu sudah masuk ke tubuh Zayden hingga membuat pria itu melemah.


Cika yang tak tega kembali menangis di pelukan papanya. "Pa, Zayden pasti sembuh kan?" tanya Cika dengan lirih.


"Iya, Sayang! Zayden tidak selemah itu untuk mengalah dengan kepribadian gandanya!" ujar Fathan yang mulai membuat Cika tenang.


"Selamat jalan, Ay! Selamat berjumpa kembali dengan versi yang lebih baik! Aku akan merindukan semua tentangmu!"

__ADS_1


__ADS_2