
...πJangan lupa bom like dan komentar untuk part ini ya biar author semangat up dan siapa tahu besok khilaf π...
...Happy reading...
****
"KELUAR!"
Naura yang hendak keluar namun tangannya di tahan oleh Daniel. "Naura cewek gue! Jadi, lo gak berhak usir Naura!" ucap Daniel dengan tajam.
"Apa? Bisa-bisanya lo...."
"Arrghhh.."
Naura menahan isak tangisnya saat Ikbal menatap dirinya dengan penuh kebencian. Naura juga tidak ingin dilahirkan ke dunia jika menjadi penghalang kebahagiaan orang lain, Naura bahkan tidak tahu apa-apa tentang masa lalu kedua orang tuanya yang bisa menikah.
"K-kak, Naura juga adik Kak Ikbal! Hiks... Naura salah apa sama Kak Ikbal?" ujar Naira dengan pedih.
"Salah lo banyak! Kenapa lo lahir di dunia ini? Lo dan Mama lo sudah merebut papa gue!! Kehidupan keluarga gue harusnya bahagia sampai sekarang tapi karena lo dan mama lo semuanya hancur!" ujar Ikbal dengan tajam.
Naura semakin terisak dengan kencang. "Naura juga gak mau seperti ini. Kalau bisa Naura cegah, Naura akan cegah semuanya dari dulu. Hiks...hiks...Naura mohon jangan benci Naura, Kak!" ucap Naura dengan menangis.
Daniel menatap tajam ke arah Ikbal. Ia tidak bisa melihat Naura yang seperti ini. "Bal, Naura gak salah apa-apa! Yang salah itu papa lo sama mamanya Naura! Gak seharusnya lo memperlakukan Naura seperti ini," ucap Daniel dengan tajam.
Ikbal balik menatap Daniel dengan tajam. "Lo gak tahu seberapa hancurnya hidup gue, Niel! Lo pikir enak hidup di dalam keluarga yang sudah tidak harmonis?! lo enak! orang tua lo saling mencintai tak gak pernah berkhianat sedikit pun! Sedangkan gue? Gue hancur saat papa dan mama memilih berpisah! Bahkan Papa gue milih selingkuhannya dari pada mama dan gue!" ujar Ikbal dengan mata yang memerah.
"Hati gue sakit saat melihat wajah Naura!" ujar Ikbal dengan tajam.
"Mas pacar, tenang dulu ya! Jangan marah-marah Delisha takut," ucap Delisha dengan pelan.
Delisha sangat kasihan dengan Naura yang menangis terisak karena Ikbal. Bahkan Naura tidak berani menjenguknya ketika ada Ikbal, itulah yang Naura katakan dibalik telepon sebelum Ikbal datang.
Ikbal mengusap wajahnya dengan kasar tetapi tatapannya masih sangat tajam untuk Naura. Naura yang semakin ketakutan langsung melepaskan genggaman tangan Daniel dan berlari ke luar ruangan Delisha begitu saja dengan mengusap air matanya dengan kasar.
Daniel panik. "Sumpah lo jahat banget, Bal! Gak gue restuin lo sama adek gue kalau lo gak mau minta maaf sama Naura!" ujar Daniel dengan tajam.
Daniel langsung menyusul Naura. Tetapi Daniel kehilangan jejak kekasihnya karena Naura bersembunyi dengan membekap mulutnya agar isakannya tidak terdengar oleh Daniel. Naura hanya ingin sendiri dan tak ingin diganggu sedikit pun oleh Daniel.
"Naura!"
"Sayang!
" Please... Jangan buat Kakak khawatir! Kakak janji akan buat Ikbal gak benci lagi sama kamu," ujar Daniel dengan keras.
"Naura!" panggil Daniel dengan frustasi.
Naura semakin menangis mendengar ucapan Daniel. Dengan cepat Naura mematikan ponselnya sebelum Daniel meneleponnya dan mengetahui dirinya telah bersembunyi di belakang tembok.
"Kak Ikbal gak akan pernah sayang Naura, Kak! Naura sudah buat kebahagiaan Kak Ikbal hancur hiks..." gumam Naura di dalam hati.
Daniel mencoba menelepon Naura tetapi ponsel Naura sama sekali tidak aktif yang membuat Daniel khawatir. "Sayang, jangan seperti ini please!! Kamu mau sendiri dulu ya? Gak mau diganggu sama Kakak? Kakak gak akan ganggu kamu tapi harus janji setelah kamu tenang kamu bisa datang ke Kakak lagi ya!" ujar Daniel dengan frustasi.
Perasaan Daniel sama sekali tidak tenang. Ia mencoba mencari keberadaan Naura yang mungkin belum jauh dari rumah sakit. Setelah merasa Daniel sudah tidak ada di dekatnya Naura mulai keluar dan berlari pergi berbeda arah dengan Daniel.
__ADS_1
"Maafkan Naura, Kak! Naura pengin sendiri dulu!" gumam Naura dengan lirih.
***
Delisha menatap takut-takut pada Ikbal yang terlihat diam setelah kepergian Naura dan kakaknya. Sungguh Delisha baru kali ini melihat Ikbal sehancur dan semarah ini pada seseorang.
Delisha tidak bisa menyalahkan Ikbal begitu saja walau bagaimanapun Ikbal dan Naura adalah korban. Korban dari keegoisan kedua orang tua mereka.
Delisha memberanikan diri memegang dada Ikbal. Dapat Delisha rasakan jika detak jantung Ikbal masih menggila karena amarah.
Ikbal menatap tajam ke arah Delisha yang membuat Delisha takut dan langsung menarik tangannya dari dada Ikbal.
"D-delisha gak bermaksud..."
Grep...
Ikbal memeluk Delisha dengan erat bahkan dapat Delisha rasakan baju pasien yang ia pakai sudah basah. Apakah Ikbal menangis?
"Mas pacar nangis?" tanya Delisha dengan sendu. Baru kali ini Delisha melihat betapa hancurnya seorang Ikbal.
Delisha tidak tahu saja. Ikbal sudah banyak menangis dan itu karena sangat mengkhawatirkan Delisha dan sekarang Ikbal menangis bukan karena Naura tetapi ia menangis karena takut Delisha menjauhinya.
"Mas pacar sedih ya karena habis marah-marah sama Naura? Delisha tahu kok," ujar Delisha dengan polosnya.
"Bukan!" jawab Ikbal dengan serak.
"Terus? Kalau bukan karena itu jadi karena apa?" tanya Delisha dengan bingung.
"Hehehe... Ya ampun Mas pacar. Cinta banget ya sama Delisha?" tanya Delisha mengelus rambut Ikbal dengan lembut.
"Banget! Semua orang juga tahu kalau Mas cinta sama kamu!" sahut Ikbal dengan manja yang membuat Delisha tersenyum.
"Delisha juga cinta Mas pacar!" gumam Delisha dengan tulus.
"Tapi maaf Mas pacar nama kak Zayyen masih tersisa di hati Delisha. Tapi Delisha janji akan selalu bersama Mas pacar karena Delisha tahu rasanya sakit dan kecewa karena tak diharapkan," gumam Delisha di dalam hati.
"Ya Mas tahu!" ujar Ikbal dengan tersenyum.
Cup...
Ikbal mencium bibir Delisha dengan mesra yang membuat gadis itu tersenyum dan membalas ciuman Ikbal dengan lembut. Ikbal juga tahu Delisha tak mungkin mudah melupakan Zayyen tetapi ia akan berusaha terus agar nama Zayyen tak lagi berada di hati tunsngannya. Karena Ikbal tahu bagaimana sulitnya untuk melupakan orang yang kita cintai dan itu sudah pernah Ikbal rasakan saat harus melupakan Erina dan mencoba membuka hati untuk orang baru.
***
Naura sampai di rumahnya dengan wajah yang amat sembab dan berantakan. Gadis itu sangat kacau sekali hari ini. Bahkan tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana sedihnya seorang Naura sekarang. Gadis itu berharap bisa memiliki Kakak lelaki yang menyayangi dirinya seperti Delisha yang sangat disayangi ketiga kakaknya.
"Mas setidaknya menginap di rumah ini beberapa hari dulu! Kita harus pelan-pelan memberitahu Naura," ujar Jesica yang belum mengetahui kepulangan anaknya.
"Tidak bisa, Jes! Kita menikah bukan karena saling mencintai tapi karena Naura dan karena aku kasihan sama kalian! Aku menikahi kamu karena bentuk tanggungjawab aku kepada kalian, karena kecelakaan itu Naura harus kehilangan papanya! Maafkan aku, Jes! Kecelakaan itu membuat kalian harus kehilangan orang yang kalian cintai," ujar Tomi yang membuat Jesica menangis.
"Tapi setidaknya jangan pergi dulu sebelum Naura tahu semuanya, Mas. Naura sayang sama kamu! Aku juga sudah memaafkan semua kesalahan kamu, kecelakaan itu terjadi bukan karena kemauan kamu juga, kan?" ujar Jesica dengan lirih.
Bohong jika Jesica tidak mencintai Tomi. Bertahun-tahun bersama walau mereka hanya menikah siri Jesica mulai mencintai Tomi, hatinya sudah tumbuh perasaan untuk Tomi. Tapi, ia sadar yang dilakukan Tomi adalah sebuah bentuk tanggungjawab sebagai seseorang yang telah menabrak mobil mereka hingga menewaskan suaminya.
__ADS_1
Sejak kecelakaan itu terjadi Tomi sering berkunjung ke rumahnya untuk sekedar bermain dengan Naura. Suaminya juga karyawan di perusahaan Tomi, hingga warga mulai merasa risih dengan Tomi yang selalu berkunjung dan membuat mereka harus menikah tanpa sepengetahuan istri Tomi yaitu Claudia. Berbeda dengan Tomi yang tak pernah memakai perasaan kepada Jesica, pria itu hanya tulus membantu Jesica dan menyayangi Naura walau bukan anak kandungnya. Bahkan setiap Jesica menggodanya Tomi sama sekali tak mau menyentuh Jesica bahkan sampai sekarang yang membuat Jesica sadar jika cinta tidak bisa dipaksakan dan Tomi hanya mencintai Claudia bahkan saat Jesica jalan bareng dengan lelaki pun Tomi tak ada cemburu, niat Jesica hanya ingin membuat suaminya cemburu tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Mungkin ini saatnya Jesica melepaskan Tomi dan mencoba membuka hati untuk pria lain.
"J-jadi Naura bukan anak kandung Papa?" gumam Naura dengan terbata.
Jesica dan Tomi terkejut melihat ke arah Naura yang sudah sangat berantakan sekali. "Nak, kamu kenapa?" tanya Tomi dengan khawatir.
"JAWAB PERTANYAAN NAURA, PA! BERARTI NAURA BUKAN ANAK KANDUNG PAPA? PAPA MEMBUNUH PAPA KANDUNG NAURA?" tanya Naura dengan keras.
"Sayang, kamu tenang ya! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" ujar Jesica dengan cemas.
"Biarkan Naura mengetahui semuanya, Jes! Papa akan menjelaskan semuanya ke kamu, Naura. Ya, kamu memang bukan anak kandung Papa. Papa menikahi Mama kamu karena saat itu warga memaksa Papa karena Papa sering berkunjung ke rumah mama kamu. Papa merasa bersalah karena kecelakaan itu yang membuat kamu harus kehilangan papa kandung kamu. Maaf selama ini Papa dan mama menyembunyikan semua ini dari kamu maupun Ikbal dan Claudia," ujar Tomi yang membuat Naura terisak.
"Papa jahat! Gara-gara Papa aku dibenci Kak Ikbal! Gara-gara Papa aku kehilangan Papa kandungku! Hiks.. aku pikir Papa orang baik, Papa adalah cinta pertama Naura! Tapi, selama ini Naura salah! Papa adalah pembunuh papa kandung Naura yang seharusnya jadi cinta pertama Naura. Papa dan Mama berhasil buat hati Naura hancur berkeping-keping," ujar Naura dengan terisak.
Naura berlari ke kamarnya yang membuat Jesica sangat mengkhawatirkan Naura.
"Naura!" panggil Tomi dan Jesica bersamaan.
"JANGAN SUSUL NAURA! NAURA MAU SENDIRI!" teriak Naura dengan keras.
Brak...
Jesica dan Tomi mendengar suara pintu yang tertutup dengan keras.
"Bagaimana ini, Mas? Hati Naura hancur karena kebohongan kita," ujar Jesica dengan cemas.
"Biarkan Naura sendiri dulu. Dia butuh waktu untuk menerima semuanya," ujar Tomi yang diangguki oleh Jesica.
"Mas aku mohon kamu jangan pergi dulu ya. Aku gak tahu harus bagaimana lagi menjelaskannya kepada Naura!" ujar Jesica memegang tangan Tomi.
Tomi menyingkirkan tangan Jesica. "Maaf, Jes! Aku tidak ingin kehilangan Claudia dan Ikbal lagi. Kita sudah bercerai, saya tidak bisa di sini lagi. Tapi kamu tenang saja rumah ini, mobil semua akan menjadi milik kamu dan Naura. Saya juga akan memberikan kalian uang bulanan kepada Naura walau dia bukan anak saya karena saya menyayangi Naura. Besok saya akan kembali bersama dengan Claudia. Jaga Naura dengan baik ya," ujar Tomi berlalu pergi meninggalkan Jesica.
Jesica terjatuh terduduk di lantai dengan menangis. "Belasan tahun bersama ternyata aku belum bisa membuat kamu mencintai aku dan melupakan mbak Claudia, Mas! Hiks...ini salahku yang memakai perasaan walau kamu sudah memperingatiku sejak awal," gumam Jesica dengan menangis.
Prang...
Pyarr...
"ARGHHHH..."
"NAURA!!"
***
π Gimana perasaan kalian setelah membaca part ini?
π Apa yang mau kalian katakan ke Naura?
π Apa yang akan kalian katakan ke Ikbal?
πApa yang akan kalian katakan ke Tomi?
πApa yang akan kalian katakan ke Jesica?
__ADS_1