Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 258 (Mencoba Bertahan)


__ADS_3

...📌Jangan lupa ramaikan part ini....


...📌 Dan jangan lupa ramaikan juga novel terbaru author yang berjudul 'Suami Bayaran Nona Rania'...



...Happy reading...


****


Naura memasuki ruangan Daniel dengan langkah pelan. Sesuai yang Daniel katakan tadi jika semua pekerjaannya harus selesai sebelum jam makan siang tiba. Naura bekerja keras untuk itu dan akhirnya semua sudah selesai sebelum 10 menit lagi jam istirahat tiba.


"Ini, Tuan. Saya harap anda puas dengan pekerjaan saya hari ini," ucap Naura dengan pelan karena sejak tadi ia menahan rasa perih di perutnya.


"Hmmm..."


Daniel berdehem dengan mengambil semua map yang ada di tangan Naura. Dengan sabar Naura menunggu Daniel memeriksa semua pekerjaannya. Dan kali ini Daniel tidak bisa lagi berkata-kata karena pekerjaan Naura sudah sesuai dengan apa yang ia inginkan. Tetapi Daniel tidak kehabisan akal, ia akan membuat Naura tertekan karena bekerja di perusahaannya.


"Oke... Ini sudah lumayan. Ambil dokumen-dokumen itu dan selesaikan kembali setelah jam istirahat selesai, sebelum jam pulang kantor semua harus selesai," ujar Daniel dengan datar.


"S-sebanyak ini?" tanya Naura dengan terbata.


"Iya. Kenapa kamu tidak sanggup? Kalau tidak sanggup gaji kamu akam saya poto..."


"Sanggup, Tuan. Saya akan kerjakan semuanya," ujar Naura dengan cepat karena ia tidak mau gajinya di potong oleh Daniel karena Naura sangat membutuhkan uang untuk kebutuhan hidupnya.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan!" pamit Naura dengan sopan.


"Hmmm..."


Daniel memperhatikan Naura yang sedang mengemasi semua dokumen pekerjaannya.


"Naura!" panggil Daniel dengan datar.


"I-iya, Tuan!"


"Saya mau kamu membuat desain ruangan yang elegan namun terkesan nyaman. Dalam satu minggu desain itu harus sudah selesai," ujar Daniel dengan tegas.


"T-tapi saya tidak..."


"Jangan membatah saya jika kamu masih mau bekerja di sini!" ujar Daniel dengan dingin yang membuat Naura tidak bisa apa-apa selain meng-iya-kan ucapan Daniel.


Padahal Naura ingin mengatakan jika dirinya tidak mempunyai laptop lagi, laptopnya saat SMA dulu sudah rusak dan Naura tidak mempunyai uang untuk memperbaiki laptop miliknya.


"I-iya, Tuan!" ucap Naura dengan pasrah. Mungkin ia akan mengerjakan desain yang diinginkan Daniel di kantor ini saja karena ada komputer kantor yang bisa ia pakai.


"Kalau begitu saya permisi," ujar Naura dengan pelan.

__ADS_1


Naura berjalan keluar ruangan Daniel dengan perlahan karena tiba-tiba saja perutnya sangat sakit. "Ssstt...." gumam Naura dengan perlahan agar Daniel tidak terdengar.


Tangannya merems*s perutnya dengan kuat. Naura dengan cepat harus keluar dari ruangan Daniel agar ia bisa duduk untuk meredakan rasa sakitnya.


Daniel memperhatikan pergerakan Naura yang terasa pelan baginya. Daniel hampir berdiri dari duduknya ketika mendengar suara Naura mendesis lirih. Kenapa dengan Naura? Tetapi gengsinya membuat Daniel diam saja dari duduknya.


Naura dengan cepat kembali ke ruangannya. "Ya Allah... Sakit!" gumam Naura dengan lirih.


Naura sudah tidak kuat lagi. Ia harus membeli makanan untuk mengganjal perutnya, biarlah uang ini ia belikan makanan dulu untuk besok ia pikirkan lagi bagaimana cara untuk mendapatkan uang, tetapi Naura sangat malas untuk keluar. Tubuhnya sangat lemas dan gemetar, akhirnya Naura lebih memilih beristirahat sebentar untuk menghilangkan rasa sakit pada perutnya.


"Naura kamu tidak makan siang?" tanya Rianti saat melihat Naura malah menidurkan kepalanya di meja kerja.


"Nanti saja, Mbak!" jawab Naura dengan tersenyum.


Daniel keluar dari ruangannya. "Rianti temani saya makan siang dengan kolega dari Jepang," ujar Daniel dengan tegas padahal Naura adalah asisten pribadinya tetapi Daniel seakan menjadikan Naura adalah budak untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Ooo iya, Tuan. Baik saya akan membereskan pekerjaan saya sebentar," ujar Rianti dengan tersenyum. Mimpi apa ia semalam diajak oleh Daniel makan siang walau bersama dengan kolega Daniel.


"Saya tunggu di luar!" ujar Daniel dengan datar.


Daniel melihat Naura sekilas, tampak sekali mata Naura berkaca-kaca. Naura mengalihkan pandangannya untuk menghapus air matanya. Kenapa sakit sekali melihat Daniel dengan Rianti akan makan siang bersama? Dada Naura sesak sekali.


"Naura kamu kuat!" gumam Naura di dalam hati.


Rianti melihat ke arah Daniel dan Naura. Keduanya seperti saling mengenal satu sama lain bukan hanya sekedar bos dan karyawannya. Tapi Rianti tak mau menduga-duga karena ia takut salah.


"Iya, Mbak!" ujar Naura dengan tersenyum.


Naura menghela napasnya dengan pelan. "Sepertinya aku gak dibutuhkan di sini. Aku hanya dijadikan budak untuk mengerjakan pekerjaan kak Daniel. Apakah aku harus pergi kembali? Tapi kemana? Aku tidak mempunyai tujuan sama sekali," ujar Naura dengan lirih.


"Ma, boleh gak Naura ikut Mama? Naura rela jadi pembantu asal Naura tidak di buang seperti ini," gumam Naura dengan sendu.


Melihat profil mamanya dengan keluarga papa tirinya, di foto itu mamanya tampak kelihatan bahagia bersama dengan dua saudara tiri perempuannya yang berada di sisi kanan mamanya dan di sisi kiri papa tirinya. Naura memang sudah tidak dibutuhkan di sana.


"Mama kelihatan bahagia banget ya tanpa Naura!" gumam Naura dengan lirih.


****


Malam sudah tiba semua orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Namun, Naura masih berada di dalam kantor untuk mengerjakan pekerjaannya, rasa lapar dan sakit pada perutnya membuat Naura sudah tidak fokus lagi dalam bekerja.


Naura memutuskan untuk pulang ke rumah, semua pekerjaan yang ia bawa pulang ke rumah ia kerjakan melalui ponselnya. Ia membereskan dokumen miliknya dan memasukkannya ke dalam tas.


Naura berjalan keluar dari kantor dengan tubuh yang terasa lelah. Tujuannya sebelum pulang adalah ke warung untuk membeli mie instan yang bisa untuk di stok dalam beberapa hari dengan duitnya yang hanya tinggal 10 ribu.


Naura kembali berjalan, walaupun ia lelah tetapi Naura tidak mempunyai pilihan lain agar uangnya tidak habis sia-sia.


Setelah berjalan 15 menit akhirnya Naura menemukan warung. Ia masuk ke dalam untuk membeli mie instan yang harganya paling murah agar ia bisa membeli beberapa mie untuk stok beberapa hari.

__ADS_1


"Bu ada mie instan yang harganya paling murah?" tanya Naura kepada penjual warung.


"Ada, Neng. 1,500 dapat satu neng," ujar ibu tersebut dengan ramah.


"Beli 6 ya Bu," ujar Naura dengan tersenyum.


"Banyak banget Neng," ujar Ibu dengan tersenyum.


"Iya, Bu. Untuk stok di rumah, sisa seribu air minum kemasan ini aja, Bu!" ujar Naura menunjuk air minum dalam kemasan dengan seribu rupiah.


"Iya, Neng!" ujar Ibu tersebut dengan ramah.


"Total 10 ribu ya, Neng."


"Ini Bu uangnya Terima kasih," ujar Naura dengan tersenyum.


"Sama-sama, Neng. Neng sakit? Wajahnya pucat banget, Neng!" ujar Ibu tersebut dengan prihatin.


"Enggak, Bu. Ini kecapean saja. Ya sudah Bu saya pulang dulu ya. Terima kasih, Bu!" ucap Naura dengan ramah berlalu keluar dari warung dengan perasaan bahagia karena sebentar lagi ia bisa makan walau hanya mie instan.


"Iya, Neng!"


****


Naura tampak kelelahan sekali sampai di rumahnya, ada perasaan takut ketika pulang dengan jalan kali di malam hari dengan jarak yang jauh seperti ini. Sesampainya di rumah Naura langsung membuka magic com kecil miliknya, memasukkan air di sana dan memasak mie-nya di magic com.


"Alhamdulillah akhirnya bisa makan," gumam Naura dengan tersenyum saat mie-nya sudah matang.


Naura langsung mengambil mangkuk, ia sudah tidak sabar untuk memakan mie instan yang telah ia buat. "Semoga setelah ini rasa sakitnya hilang," gumam Naura dengan tersenyum.


Naura membawa mie yang sudah masak ke dalam kamarnya. Ia akan makan sambil bekerja.


"Enaknya!" gumam Naura dengan senang.


"Hehe...satu mie untuk satu hari," gumam Naura dengan sesak padahal dulu ia bisa memakan makanan apa saja di rumahnya, tinggal makan tanpa perlu pusing.


Naura memakan mie instannya dengan lahab sekali bahkan sampai bersih tidak tersisa.


"Sssttt...Kenapa rasa sakitnya tidak hilang malah semakin menjadi?" gumam Naura memegang perutnya, sangking sakitnya Naura sampai membungkuk.


"Argghhh.... Mama sakit!" gumam Naura menangis.


"Hiks...hiks...." Naura meringkuk di kamarnya dengan memegang perutnya yang semakin terasa sakit.


"Aaarghhh...sakit!" Naura menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri akibat rasa sakit yang ia rasakan pada perutnya, kali ini beda dan Naura sampai mengeluarkan keringat dingin karena perutnya yang semakin nyeri.


"Papa, apa ini waktunya Naura ikut Papa?"

__ADS_1


__ADS_2