
...Hei guys kalian jangan kaget kalau part-part sebelumnya ada yang di revisi ya soalnya pihak platform melarang keras konten dewasa yang sangat jelas. Wkwk gara-gara itu aku revisian di tolak mulu biar bisa kontrak....
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
*****
Fathan sudah kembali ke Jakarta bersama istri dan anaknya, pagi ini ia sudah disibukkan dengan pekerjaannya kembali, banyak yang sudah berjanji temu dengan dirinya padahal sudah ada sahabatnya yang berprofesi sama dirinya.
Sebelum Fathan bertemu dengan para pasiennya. Fathan memanggil Zidan dan Tiara untuk datang ke ruangannya. Kali ini Fathan menunggu keduanya dengan menatap foto Tri dan Cika yang sedang tersenyum, ia mengelus foto itu dengan lembut.
"Hidupku lebih bahagia saat ada kamu, Hanum!" ucap Fathan dengan tersenyum tipis.
Tokk...tokkk...
"Masuk!" ucap Fathan dengan tegas.
Zidan masuk ke ruangan Fathan dengan langkah tegasnya. "Selamat pagi, Dok!" ucap Zidan dengan senyum mengejek ke arah Fathan.
Fathan mendengus. "Ingat jalan pulang lo? Gue kira lo gak ingat jalan pulang," ejek Fathan yang membuat Zidan langsung kicep.
"Lo tahu sendiri kepergian gue ke Singapura itu...."
Tokkk...tokkk...
"Masuk!" ucap Fathan dengan tegas. Zidan yang ingin menyelesaikan ucapannya langsung mencibirkan bibirnya.
Tiara masuk ke dalam ruangan Fathan dengan langkah tegas. "Ada apa dokter memanggil saya?" tanya Tiara dengan datar tanpa melihat ke arah Zidan.
"Duduk dulu!" ucap Fathan dengan tegas.
Tiara duduk di samping Zidan dengan perasaan campur aduk. Karena Tiara dan alter egonya sedang perang batin sekarang.
"Please Tiara jangan lemah! Ingat Zidan itu adalah lelaki brengs*k!" ucap Tika dengan kesal kala merasakan Tiara terbawa perasaan sedihnya.
"Aku tidak tahu mengapa selalu lemah jika bersama dengan Zidan! Walaupun kami sekarang seperti orang asing," balas Tiara dengan lirih.
"Tiara kamu dengar saya tidak?" tanya Fathan dengan kesal saat Tiara hanya diam tak merespon ucapannya.
"Tiara!" panggil Zidan dengan lembut tersirat rasa khawatir di sana melihat keterdiaman Tiara.
__ADS_1
Tiara tersadar dan langsung menghindar saat tangan Zidan ingin menyentuh lengannya. Tiara menatap Zidan dengan datar seakan berkata 'jangan sentuh aku!' itulah yang Zidan artikan dari tatapan Tiara kepadanya.
"Kak Fathan ngomong apa?" tanya Tiara dengan tersenyum membuat Zidan mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Ia tidak suka Tiara tersenyum dengan lelaki mana pun termasuk sahabatnya sendiri! Se-posesif itu Zidan kepada Tiara sejak dulu! Namun, Sayang semuanya hancur!
"Yang sopan! Di sini saya atasan kamu!" ucap Fathan dengan dingin.
"Jangan kasar sama Tiara!" ucap Zidan dengan tajam.
Tiara menatap Zidan dengam tidak suka. Kenapa lelaki itu seakan masih peduli dan masih terlihat posesif kepadanya! Tiara lalu kembali menatap Fathan dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan.
"Jangan pernah termakan dengan ucapan Zidan! Lelaki itu benar-benar tidak peduli! Bahkan di tahap yang paling terpuruk di hidup kita dia pergi begitu saja bahkan menikah dengan wanita lain!" ucap Tika dengan dingin.
"Saya akan profesional, Zidan!" ucap Fathan dengan datar.
Zidan hanya dia menatap ke arah Tiara, sorot kerinduan terlihat jelas di matanya saat ini.
"Maaf menyela dokter Zidan. Saya rasa anda tidak perlu membela saya di depan dokter Fathan karena kita belum pernah mengenal satu sama lain sebelumnya," ucap Tiara dengan dingin.
"Ay..."
"Cukup! Saya tidak mau ada keributan di dalam ruangan saya. Jika ingin menyelesaikan urusan pribadi kalian silahkan keluar!" ucap Fathan dengan jengah yang membuat keduanya terdiam.
"Maaf Dok. Saya tidak ada urusan pribadi dengannya karena saya baru mengenalnya dua hari yang lalu. Jika Dokter merasa khawatir jika saya tidak akan profesional anda salah! Saya akan buktikan akan menjadi dokter terbaik di rumah sakit ini," ucap Tiara dengan tegas.
"Jika tidak ada yang Dokter bicarakan lagi saya permisi karena setengah jam lagi saya ada operasi besar!" ucap Tiara dengan tegas. Ia sedikit membungkukan badannya untuk penghormatan kepada Fathan setelah itu Tiara keluar dari ruangan Fathan begitu saja.
"Lihat kan?! Apa yang gue bilang waktu itu. Tiara sudah bukan Tiara yang dulu, Zid. Dia seakan membentengi dirinya untuk kuat padahal dulu dia selalu bergantung sama lo, apa-apa lo, semuanya lo! Tapi sekarang dia terlihat tidak membutuhkan siapa pun selain dirinya sendiri. Bukankah itu terlihat sangat aneh? Makanya gue memanggil lo ke sini buat memastikan itu semua," ucap Fathan dengan tegas.
"Ini salah gue!" gumam Zidan dengan lirih. "Seandainya gue gak pergi, seandainya gue tetap bersama Tiara dan melawan orang tuanya gue pasti masih bisa melihat senyum manis Tiara, sikap manja Tiara. Tapi lo tahu sendiri kan perusahaan bokap gue bangkrut karena campur tangan orang tua Tiara, semua investor mencabut semua sahamnya di perusahaan bokap gue, mau gak mau gue pergi dan hanya ada satu cara untuk menyelamatkan perusahaan bokap gue, gue menikah dengan anak rekan bisnis bokap gue. Tapi gue jujur selalu 5 tahun ini gue sama sekali tidak mencintai istri gue, kalau bukan karena jebakan orang tuanya gue gak akan punya anak dari dia," ucap Zidan dengan sendu.
"Jadi sekarang lo rela kalau Tiara nikah sama gue?"
"Ya enggaklah enak aja lo! Awas aja lo kalau sampai deketin Tiara, gue cekek lo sampai mampus!" ucap Zidan dengan dingin. Cemburu menguras hatinya membayangkan Fathan menikah dengan wanita kesayangannya.
Fathan terkekeh. "Siapa juga yang mau sama Tiara.Gue gak mau turun ranjang beg*! lagian istri gue lebih bahenol!" ucap Fathan dengan tersenyum membayangkan Tri yang sangat cantik.
"Sial*n! Tunggu perceraian gue selesai gue akan membuat Tiara jadi milik gue lagi! Gue permisi, capek juga ngomong sama lo," ucap Zidan, lelaki itu bangun dari duduknya dan langsung keluar dari ruangan Fathan begitu saja.
"Hahaha gue tunggu status duda, lo!" ucap Fathan dengan tertawa kapan lagi ia bisa melihat wajah kesal sahabatnya yang selalu berwajah datar itu dan penyebabnya hanya karena merasa cemburu Tiara akan menikah dengannya. Sewaktu Zidan mendengar dari Fathan jika Fathan akan dijodohkan dengan Tiara, Zidan langsung terburu-buru pulang ke Indonesia padahal jadwal kepulangannnya seminggu lagi.
*****
__ADS_1
Tri dan Cika baru saja turun dari mobil, saat ini keduanya berkunjung ke rumah sakit milik Fathan.Tri sengaja membawa makan siang untuk suaminya itu, dengan senyum yang mengembang Tri menuntun Cika ke ruangan Fathan.
"Sus, Dokter Fathan ada?" tanya Tri dengan ramah kepada suster yang baru keluar dari ruangan Fathan. Ada rasa cemburu terbesit di hatinya saat ada wanita lain yang bebas masuk ke ruangan suaminya.
"Ada. Baru saja selesai memeriksa pasien," ucap Suster tersebut dengan datar lalu ia menatap Cika dengan tersenyum.
"Halo cantik mau ketemu papa ya?" tanya suster tersebut dengan tersenyum ramah membuat Tri harus bisa sabar menghadapi suster tersebut, selalu saja ia direndahkan seperti ini.
"Iya, Sus!" jawab Cika dengan wajah tak sukanya. "Ayo kita masuk, Ma!" ucap Cika menarik tangan Tri masuk ke ruangan Fathan.
Suster tersebut berpikir keras. "Ma? Sejak kapan baby sitter panggilannya jadi, Ma? aku salah dengar atau gimana?" tanya suster tersebut dengan bingung.
****
"Hanum, Cika. Kalian ke sini?" tanya Fathan dengan wajah berbinarnya.
Fathan menggendong Cika dan tangan satunya merangkul bahu Tri dengan erat. Baru beberapa jam saja ia sudah sangat merindukan Tri.
"Iya, Mas. Aku bawa makan siang untuk kita makan bertiga di sini. Gak apa-apa kan kalau aku sama Cika makan di sini?" tanya Tri memastikan karena ia takut mengganggu Fathan bekerja.
"Enggak, Hanum! Malah saya senang kamu dan Cika ke sini," ucap Fathan dengan tersenyum.
Fathan mengiring istrinya ke sofa. Ia juga ikut duduk dengan memangku Cika.
"Ma, Cika mau suapi ya?!" pinta Cika dengan manja.
"Iya, Sayang!" Tri tersenyum menyiapkan makan siang untuk mereka.
"Cika mau disuapi Mama?" tanya Fathan. "Kalau begitu Papa juga mau! Ma suapi papa juga ya!" ucap Fathan dengan merengek, ia tidak mau kalah dengan anaknya. Tri hanya tersenyum geli dan menganggap semua permintaan Fathan hanya candaan semata.
"Ih Papa kayak anak kecil!" ucap Cika dengan tertawa.
"Biarin! Yang penting di suapi Mama!" ucap Fathan dengan terkekeh.
"Hanum, Mas suapi juga. Tangan Mas pegang Cika ini!" protes Fathan saat Tri menyuapi anaknya.
"Hah? Cika kan bisa duduk sendiri, Mas!" ucap Tri tak habis pikir dengan suaminya.
"Ayolah, Sayang! Mas sudah lapar!" rengek Fathan agar Tri mau menyuapinya.
"Iya-iya, Mas!" ucap Tri menurut walaupun dirinya merasa malu. Akhirnya Tri berakhir dengan sabar menyuapi kedua bayinya yang sama-sama tak mau mengalah hingga bekal yang ia bawa habis dan dirinya hanya makan sedikit.
__ADS_1