
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya...
...Happy reading...
***
Delisha bersenandung dengan pelan menuruni tangga untuk menuju meja makan. Hari ini Delisha sudah diperbolehkan sekolah oleh kedua orang tuanya yang membuat gadis itu sangat senang, untung saja ada teman-temannya yang baik untuk memberikan catatan ketertinggalan Delisha dalam pelajaran.
"Kesayangan Delisha!" ujar Delisha dengan bahagia saat melihat Ikbal ternyata sudah duduk di kursi makan bersama dengan keluarganya.
"Astaga, Sayang!" ujar Ikbal dengan terkekeh saat gadis itu langsung menubruk dirinya dan untung saja Ikbal sigap agar mereka tidak terjatuh.
Daniel tersenyum melihat Delisha begitu bahagia dengan Ikbal! tetapi ada juga rasa sesak yang menghimpit dadanya saat ini mengingat kejadian semalam di mana Naura memutuskannya hanya karena Delisha akan menikah dengan Ikbal.
Daniel melihat jam tangannya. "Mi, Pi, semuanya, Daniel ke kampus duluan ya!" ujar Daniel yang membuat semua orang menatap ke arah Daniel.
"Kelas kita satu jam lagi di mulai tumben banget lo mau berangkat sekarang," tanya Danish yang memang sekelas dengan kembarannya.
"Gue mau ngerjain tugas dulu, Kak! Semalam gue ketiduran bareng Delisha. Ya kan, Dek?" ujar Daniel menatap adiknya yang sedang bermanja dengan Ikbal.
Delisha menatap kakaknya dan setelah itu ia mengangguk dengan polosnya.
"Pantas saja video call Mas gak diangkat ternyata ini alasannya. Dasar nakal ya! Gara-gara kamu Mas gak bisa tidur," ujar Ikbal dengan menarik hidung Delisha dengan gemas.
Delisha terkekeh. "Ponsel Delisha ada di kamar. Delisha tidur di kamar kak Daniel," ujar Delisha.
"Kak Daniel semalam galau karena putus dari Naura!" ujar Delisha yang membuat Fiona dan Akbar terkejut begitu pula dengan yang lainnya terutama Ikbal.
"Kenapa kamu putus dari Naura?" tanya Akbar dengan menatap anaknya.
"Gak cocok, Pi!" jawab Daniel dengan santai padahal di dalam hati ia merasa sesak saat ditanya seperti itu.
"Gak cocok? Alasan klasik itu, Niel! Papi pernah muda. Apa kamu punya gadis lain atau Naura yang memang tak lagi mencintai kamu?" tanya Akbar yang membuat Daniel tercekat.
"Pi, bisa gak bahas itu nanti saja. Mood Daniel benar-benar buruk kalau harus bahas Naura sekarang," ujar Daniel dengan jujur yang membuat Akbar menghela napasnya.
Akbar melihat jika Daniel terlihat sangat kecewa dengan Naura. Apa mungkin Naura yang memutuskan Daniel?
"Kak, mau bawa bekal dari Mami gak? Biar ngerjain tugasnya rileks!" ujar Fiona menenangkan anaknya.
"Boleh, Mi! Gak usah banyak ya, Mi. Daniel mau bawa buah juga," ujar Daniel dengan tersenyum.
"Sebentar ya Mami siapin," ujar Fiona dengan tersenyum.
"Apapun alasan kalian putus asal tidak membuat kamu salah jalan Papi tidak masalah. Perusahaan butuh kalian karena Papi sudah tua," ujar Akbar yang membuat Daniel menunduk.
__ADS_1
"Oke, Pi. Daniel akan buktikan jika perusahaan Papi akan berkembang pesat di tangan Daniel, kak Danish, dan Dareel nanti," ujar Daniel dengan tegas.
"Gue lebih fokus ke pilot. Kalian berdua yang jalani perusahaan Papi," jawab Dareel dengan tenang.
"Semua anak Papi akan mendapatkan bagian saham di perusahaan. Tapi Danish nanti akan memegang perusahaan pertama dan Daniel perusahaan kedua, dan Dareel juga Delisha akan mendapatkan saham di perusahaan masing-masing karena kalian tidak mau bekerja di perusahaan, fokus kuliah dan pelajari perusahaan Papi dengan baik!" ujar Akbar dengan tegas.
"Siap, Papi!"
"Suami Delisha kan juga kaya, Pi. Jadi, Delisha mau buka mall sendiri," ujar Delisha dengan terkekeh.
"Matre kamu, Dek!" ujar Danish.
"Biarin! Orang Mas pacar saja setuju kenapa Kakak sewot," ujar Delisha yang membuat Ikbal gemas.
Mikaela hanya diam saja mendengar percakapan mereka. Dirinya tidak terlalu berani untuk membuka suara, padahal Mikaela juga ingin mempunyai toko kosmetik sendiri. Tapi tanpa di sadari oleh Mikaela, Dareel sudah mempersiapkan semuanya untuk kehidupan istrinya kelak termasuk toko kosmetik untuk Mikaela.
"Ini bekalnya. Jangan sampai telat makan ya, Sayang!" yuar Fiona dengan lembut.
"Iya, Mi. Terima kasih Mami cantik! I love you!"
"I love you too anak Mami!"
"Heh, itu istri Papi enak saja mau bermesraan di depan Papi!" ujar Akbar dengan ketus yang membuat Daniel meringis.
"Pelit banget Papi. Daniel berangkat deh," ucap Daniel mencium tangan papi dan maminya.
****
Siang harinya jam pulang sekolah Delisha, Ikbal sudah menjemput kesayangannya. Ikbal bersandar di kursi dengan menatap keluar jendela di mana anak sekolah mulai keluar untuk pulang ke rumah.
Ikbal terkekeh saat melihat tunangannya berjalan menghampirinya. Tubuhnya yang mungil membuat Ikbal gemas.
"Dasar bocil! Tapi gue cinta banget sama lo!" gumam Ikbal dengan terkekeh.
"Gimana kalau kamu hamil, Sayang? Lucu banget pasti," ujar Ikbal dengan terkekeh.
Ikbal keluar dari mobil setelah Delisha semakin dekat dengannya. "Loh kenapa mukanya cemberut gitu? Hari pertama sekolah apa ada kesan yang tidak mengenakkan?" tanya Ikbal dengan khawatir mengelus pipi Delisha dengan lembut.
"Hiks..hiks..."
"Loh kenapa nangis?" tanya Ikbal dengan khawatir saat Delisha menangis dan langsung memeluknya dengan erat.
"Siapa yang buat kamu menangis hmm? Biar Mas beri pelajaran buat dia," ujar Ikbal dengan cemas melihat tunangannya menangis terisak seperti ini.
Delisha mengurai pelukannya dan menatap wajah Ikbal dengan sendu. "Naura gak sekolah, Mas! Dan kata teman sekelas Delisha, Naura sudah seminggu gak sekolah, dia pindah sekolah!" ujar Delisha yang membuat Ikbal terkejut.
__ADS_1
"Ayo kita ke rumah Naura, Mas pacar! Delisha mau minta penjelasan kenapa dia pergi gitu saja tanpa pamit ke Delisha. Apa ini alasan Naura putus dari kak Daniel?" gumam Delisha dengan lirih.
Ikbal menghapus air mata Delisha dengan lambut. "Kita akan ke rumah Naura. Tapi kamu jangan nangis lagi ya! Kesayangan Mas gak boleh nangis," ujar Ikbal dengan lembut.
Delisha mengangguk dengan wajah sendunya. "Ayo Mas pacar!" ujar Delisha.
Ikbal membuka pintu mobil miliknya agar Delisha masuk setelah memastikan Delisha sudah nyaman Ikbal juga masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobilnya.
Delisha gusar bahkan gadis itu nyaris tak tenang dalam duduknya yang membuat Ikbal menggenggam tangan Delisha dengan lembut. Dalam hati Ikbal juga bertanya kenapa gadis itu harus pindah sekolah padahal Ikbal mulai bisa menerima Naura sebagai adiknya walau kenyatannya mereka bukanlah saudara.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit akhirnya Ikbal sampai di rumah Naura. Dengan tak sabaran Delisha keluar dari mobil dan sedikit berlari menuju pintu utama rumah Naura yang membuat Ikbal khawatir dengan Delisha karena kesayangannya itu baru saja pulih.
"Kamu bisa hati-hati kan, Sayang? Boleh khawatir tapi jangan membahayakan kamu sendiri," ujar Ikbal dengan tegas.
"Maaf Mas pacar!" sahut Delisha dengan lirih.
Ikbal menghela napasnya dengan perlahan. "Jangan ulangi lagi!" ujar Ikbal dengan mengusap kepala Delisha dengan sayang.
"Iya Mas pacar!"
Tok..tokk..
Delisha mengetuk pintu rumah Naura dengan tak sabaran. Hingga wanita paruh baya keluar dari rumah tersebut yang sama sekali Delisha tak kenal.
"Iya cari siapa ya?" tanya wanita paruh baya itu dengan bingung.
"Saya mau mencari Naura, Bu. Apa Naura ada di rumah?" tanya Delisha.
"Naura? Di rumah ini tidak ada yang namanya Naura, Dek!" jawab wanita paruh baya itu yang membuat Delisha semakin gusar.
"Naura pemilik rumah ini, Bu!"
"Gini Bu. Apakah Ibu penghuni baru rumah ini?" tanya Ikbal dengan tenang.
"Iya, Mas. Saya baru saja pindah hari ini," ujar wanita paruh baya itu dengan tenang.
Ikbal mengangguk. "Lalu ibu tahu kemana pemilik rumah ini sebelumnya pergi?" tanya Ikbal.
"Tidak Mas! Saya tidak tahu kemana mereka pergi yang jelas rumah ini sudah saya beli sebelum mereka pergi," ujar wanita paruh baya itu.
"Begitu ya, Bu. Terima kasih, Bu! Maaf sudah mengganggu waktunya."
"Iya tidak apa-apa, Mas!"
"Permisi, Bu!"
__ADS_1
Ikbal membawa Delisha kembali ke mobil. Baik Delisha maupun Ikbal mereka sama-sama terdiam memikirkan kemana Naura pergi. Apa kepergian Naura ada hubungannya dengan dirinya?