
...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Malam ini Delisha sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, bukan karena tidak mengantuk tetapi rasa sesak di dadanya yang membuat Delisha tidak bisa tertidur sama sekali.
Delisha terus menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, kali ini ia tak mau memberitahukan kedua orang tua dan ketiga kakaknya, Delisha tidak ingin dibawa ke rumah sakit lagi.
Delisha menekan dadanya, ia mengatur napasnya agar napasnya tidak semakin sesak.
Meong...
Kimmy tampak ingin keluar dari kandangnya, seakan kucing itu tahu jika Delisha sedang merasakan sakit.
Meong...
"Mami gak apa-apa, Kimmy!" ucap Delisha dengan lirih.
"Kimmy di situ aja ya!" ujar Delisha dengan pelan.
Jimmy, kucing jantan yang Delisha inginkan juga sudah berada di sana tetapi kandang Kimmy dan Jimmy masih terpisah. Kedua kucing tersebut tampak menatap Delisha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jimmy, Kimmy, Mami tidak apa-apa oke. Yang tenang ya jangan buat yang lain bangun dan curiga," ujar Delisha dengan tersenyum.
Seakan keduanya mengerti. Jimmy dan Kimmy langsung terdiam dan tidak mengeong lagi tetapi mata mereka terus mengawasi Delisha yang tampak meringis kesakitan.
Delisha mencoba mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Zayyen. Tetapi panggilannya sama sekali tidak diangkat oleh Zayyen hingga panggilan ke-5. Delisha tampak kecewa malam ini, ia pikir Zayyen benar-benar berubah. Namun, Delisha tetap berpikir positif karena Zayyen sudah seharian bersama dengan dirinya dan mungkin lelaki itu lelah apalagi Zayyen sedang koas di rumah sakit milik om-nya, pasti lelaki itu perlu istirahat.
"Padahal Delisha mau dengar suara kak Zayyen biar bisa tidur. Dada Delisha sesak! Apa Delisha telepon Kak Ikbal aja ya?" gumam Delisha dengan pelan.
"Delisha gak boleh merepotkan kak Zayyen terus! Kak Zayyen sudah baik ke Delisha," ujar Delisha menyemangati hatinya yang sudah terlanjur kecewa.
"Delisha butuh teman. Delisha butuh kak Ikbal!" ujar Delisha dengan lirih.
Delisha mencari kontak Ikbal di ponselnya. Belum ada 5 detik Delisha memanggil Ikbal, lelaki itu langsung mengangkat teleponnya.
"Hallo," sapa Delisha dengan suara pelan.
"Hallo, Delisha. Ada apa?" tanya Ikbal dengan suara yang terdengar panik.
"K-kak, dada Delisha sesak," adu Delisha dengan lirih bahkan mata gadis itu sudah berkaca-kaca seakan Ikbal ada di depannya.
"APA? Papi, Mami mana? Kakak-kakak kamu mana, Delisha? Ayo panggil mereka! Kakak ke rumah kamu sekarang ya!" ucap Ikbal dengan panik padahal lelaki itu sudah memejamkan mata tetapi entah mengapa mendengar suara ponselnya Ikbal langsung bangun dan mengangkatnya seakan Ikbal mempunyai ikatan batin yang sangat kuat dengan Delisha karena sebelum Ikbal mengetahui siapa yang meneleponnya pikirannya terus tertuju pada Delisha.
"Jangan, Kak! Ini sudah malam. Delisha gak mau buat mereka khawatir dan Delisha gak mau juga dibawa ke rumah sakit lagi," ujar Delisha dengan sendu.
"Delisha jangan buat Kakak khawatir! Sekarang Kakak ke rumah kamu ya!" ucap Ikbal dengan nada bicara yang masih sangat panik.
__ADS_1
Delisha menggeleng. Walaupun Ikbal tak bisa mengetahui gelengan kepalanya tetapi entah mengapa Delisha refleks melakukan itu.
"Delisha mau dengar suara Kakak aja! Delisha merepotkan Kakak gak kalau Delisha minta ditemani begadang?" tanya Delisha dengan hati-hati.
Ada helaan napas lega dari Ikbal yang terdengar di telinga Delisha.
"Bentar! kamu masih bisa tahan sakitnya, kan?" tanya Ikbal.
"M-masih," gumam Delisha dengan helaan napas yang mulai tampak susah karena sesak.
Tut...
"Kok dimatiin? Emang kak Ikbal kulkas sepuluh pintu!" ujar Delisha dengan lirih.
"Argghhh..." Delisha menekan dadanya dengan kuat saat rasa sakit itu kembali menyerang.
Ponsel Delisha kembali berdering. Gadis itu melihat siapa yang meneleponnya dan senyumnya langsung terbit ketika Ikbal ternyata mengubah panggilan video. Delisha langsung mengangkat panggilan video Ikbal dan dapat dengan jelas wajah Ikbal di layar ponselnya yang terlihat sangat khawatir.
"Minum obatnya ya!" ujar Ikbal dengan lembut.
"Iya, ini Delisha mau ambil obatnya," sahut Delisha.
Delisha meletakkan ponselnya di tempat yang sesuai agar Ikbal bisa melihat dirinya dengan jelas.
"Kakak ke sana aja ya!" ujar Ikbal dengan memeluk guling. Lelaki itu terlihat mengantuk tetapi rasa khawatirnya untuk Delisha lebih kuat. Ikbal berusaha menahan kantuknya demi Delisha.
Gadis itu mulai mengambil obatnya dengan jalan tertatih. Tampak di layar ponsel jika Ikbal sangat khawatir dengan Delisha.
"Hati-hati kalau gak kuat jalan pegang tembok!" ucap Ikbal yang berubah menjadi sangat cerewet sekarang.
"Delisha masih kuat belum sekarat, Kak!" ujar Delisha dengan tersenyum.
"Sha, Kakak gak suka kamu ngomong gitu!" ujar Ikbal dengan tegas.
"Iya maaf, Kak!" ujar Delisha dengan pelan.
"Sha, kamu kemana?" tanya Ikbal dengan khawatir saat tak melihat Delisha melalui ponselnya.
"Delisha! Kamu masih di sana, kan?" tanya Ikbal dengan panik.
"Sha, kalau kamu gak jawab Kakak ke rumah kamu sekarang," ucap Ikbal dengan tegas.
Bahkan lelaki itu sudah bangun memakai jaketnya.
"Delisha di sini, Kak! Kimmy sama Jimmy kayak minta keluar gitu jadi Delisha ambil. Boleh kan Delisha tidur sama mereka?" tanya Delisha saat gadis itu sudah meminum obatnya.
Kimmy dan Jimmy langsung naik ke kasur Delisha bahkan mereka melihat layar ponsel Delisha.
Meong...
__ADS_1
Meong...
"Anak Papi! Malam ini kalian punya tugas jagain Mami sampai tidur ya!" ujar Ikbal dengan tegas kepada kucingnya.
Meong...
Meong...
Delisha merebahkan tubuhnya kembali dan dengan sigap Jimmy dan Kimmy mengambil posisi di kanan dan kiri Delisha. Kedua kaki mereka bergerak di tangan Delisha seakan memijat Delisha dengan pelan.
"Anak-anak pintar. Besok Papi belikan kalian royal canin premium," ujar Ikbal dengan gemas.
"Kak!" panggil Delisha dengan wajah Delisha yang mulai terlihat ceria kembali.
"Hmmm. Masih sakit ya?" tanya Ikbal dengan lembut.
"Sedikit," ujar Delisha dengan pelan.
Ikbal yang mulai melihat mata Delisha mulai mengantuk langsung tersenyum tipis.
"Pakai selimutnya. Kakak dan anak-anak kita yang akan jaga kamu malam ini," ujar Ikbal.
Delisha mengangguk. Ia mulai memakai selimutnya sampai sebatas dada.
"Obat itu buat Delisha ngantuk," gumam Delisha dengan pelan.
"Tidur, Sayang!" gumam Ikbal dengan pelan dan terdengar samar-samar oleh Delisha.
Delisha yang sudah mulai mengantuk berat tidak berbicara lagi gadis itu memejamkan mata dengan cepat di depan Ikbal yang tampak segar dan tidak mengantuk lagi.
"Cantik! Demi kamu Kakak gak akan tidur malam ini Delisha," ujar Ikbal mengusap layar ponselnya seakan mengelus pipi Delisha dengan lembut.
Meong...
"Sstt... Jangan berisik Kimmy biarkan mami istirahat ya," ujar Ikbal kepada kucing kesayangannya dan Delisha.
Ikbal benar-benar menjaga Delisha bahkan sampai pagi menjelang video call mereka masih tersambung. Ikbal hanya diam memandang wajah cantik Delisha bahkan kedua kucing kesayangan mereka pun tetap terjaga untuk menjaga Delisha. Ketiganya takut terjadi sesuatu dengan gadis kesayangan mereka. Dua hewan kesayangan itu seakan paham apa yang terjadi dengan Delisha sekarang.
****
Zayyen tampak tak tenang dalam tidurnya. Ia kembali bangun dan mengambil ponselnya. Ada 5 panggilan tak terjawab dari Delisha dan satu panggilan dari Cika. Tetapi Zayyen tak tertarik dengan panggilan Cika. Pria itu malah menekan nama Delisha di ponselnya dan menghubungi gadis itu balik.
"Nomor yang anda tuju berada di panggilan lain!" ucap Zayyen saat membaca tulisan yang tertera di ponselnya.
"Shitt...brengsek! Kenapa gue jadi overthinking begini sih? Ini sudah sangat malam dan bahkan menjelang pagi tapi kenapa whatsapp Delisha berada di panggilan lain? Apa jangan-jangan..."
"Argghh.. Delisha lo buat gue gak bisa tidur lagi? Teleponan sama siapa lo, hah? Brengsek! Kenapa hati gue gak tenang banget sih," ujar Zayyen dengan kesal.
Andai Zayyen tahu jika saat ini Ikbal yang menemani Delisha begadang walau hanya lelaki itu yang begadang dan Delisha sudah tertidur apakah Zayyen akan marah atau merasa cemburu?
__ADS_1