
...Asli aku mewek nulis dua bab tentang Raiden. Keinginan sederhana yang gak bisa segampang itu dikabulkan oleh kedua orang tuanya. NyesekðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...
...📌Jangan lupa kasih bunga untuk Raiden dan author...
...Happy reading...
****
Raiden tampak bahagia sekali saat ini karena papanya menjemput di rumah kakek dan neneknya. Dengan memakai tas ransel karakter superman Raiden menunggu kedatangan Haidar dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya.
Bahkan Zevana, Zayden, Zidan dan Tiara tak berani mengusik Raiden agar mereka terus melihat senyum bahagia Raiden yang tak pernah mereka lihat.
"PAPA!!" teriak Raiden dengan bahagia ketika melihat mobil papanya masuk ke perkarangan rumah Zidan dan Tiara.
Haidar tersenyum bahagia saat dirinya di sambut dengan hangat oleh anaknya. Haidar mematikan mesin mobilnya dan langsung keluar dari mobilnya, betapa bahagianya Haidar ketika Raiden berlari ke arahnya dan langsung memeluk kakinya dengan erat.
Haidar langsung menggendong Raiden dan mencium pipi anaknya dengan gemas. "Nunggu lama gak, Sayang?" tanya Haidar dengan tersenyum.
"Enggak, Pa! Raiden bahagia sekali hari ini. Kita mau jalan-jalan kemana, Pa?" tanya Raiden dengan tak sabaran.
"Kemanapun Raiden mau Papa akan mengantarkannya," sahut Haidar yang membuat Raiden mengangguk.
Jika Raiden dan Haidar sedang sibuk berbincang membicarakan akan pergi kemana. Zevana dan kedua orang tuanya serta Zayden sedang terdiam dengan perasaan masing-masing yang tak bisa diungkapkan.
"Jadi apa keputusan kamu, Sayang? Akan tetap kembali bersama Haidar demi Raiden atau berpisah dari Haidar dan menyakiti perasaan Raiden?" tanya Tiara yang membuat Zevana tidak bisa menjawab, wanita itu terdiam dengan perasaan gusar.
"Ma, aku gak tahu. Aku gak tahu harus apa sekarang," ujar Zevana dengan sendu.
"Pikirkan dengan baik-baik, Sayang. Kalau kamu memang sakit harus kembali dengan Haidar maka lebih baik pisah mungkin lambat laun Raiden akan mengerti mengapa kedua orang tuanya tidak bersama kembali," ujar Zidan dengan lembut. Bagaimanapun Zidan ingin yang terbaik untuk anaknya.
"Dek, sebenarnya Kakak gak rela jika kamu kembali dengan Haidar. Tapi semua keputusan ada di tangan kamu karena kakak juga banyak kesalahan dengan Cika, Kakak juga sedang berjuang untuk membuat Cika tidak kembali marah dengan Kakak. Manusia tidak luput dari sebuah kesalahan dan rasa penyesalan jadi pikirkan dengan baik dan pilih pilihan yang terbaik yang bisa membuat kamu bahagia," ujar Zayden dengan bijak karena dirinya juga banyak kesalahan.
Tetapi Zayden benar-benar lupa jika ia pernah kasar dengan Cika karena alter egonya. Salah satu memori yang tidak bisa Zayden ingat mungkin juga karena terapi yang Zayden lakukan saat di Jerman atau mungkin juga karena Zayden ingin benar-benar sembuh agar bisa kembali kepada Cika.
"Mama ayo jangan lama!" teriak Raiden yang membuat mereka menyudahi pembicaraan mereka.
Dengan langkah yang sangat berat akhirnya Zevana mendekati anaknya dan juga suaminya. Ya, Haidar masih menjadi suaminya dan Zevana selalu ingin seperti itu tetapi entah mengapa ada sebagian dari dirinya yang takut jika dirinya kembali dengan Haidar. Ia juga takut mengecewakan seseorang yang selama ini sangat baik dengan dirinya. Zevana benar-benar di hadapkan dengan dua pilihan yang membuat Zevana tidak bisa memilih untuk sekarang.
Haidar tersenyum saat Zevana mendekatinya dan Raiden. Ia membukakan pintu untuk Zevana yang berada di samping kursinya.
"Ma, Pa, Haidar pamit bawa Zeva dan Raiden sebentar ya," ujar Haidar dengan sopan.
"Jangan sakiti Zeva dan Raiden. Jika mereka pulang dalam keadaan lecet, ingat kamu akan berurusan dengan saya dan juga Zayden," ujar Zidan dengan dingin.
"Iya, Pa! Saya janji!" ujar Haidar dengan tegas dan tak ada keraguan di matanya.
Dulu ia memperlakukan kasar Zevana karena ada alasannya karena sebenarnya Haidar menyayangi Zevana sebagai adik kandungnya sendiri. Namun, karena rasa kecewanya dengan Zevana membuat Haidar menyiksa Zevana sehingga membuat wanita itu pergi dari hidupnya dan setelah Zevana pergi rasa cinta itu datang dengan sangat besar yang membuat Haidar tidak bisa menolaknya dan ingin Zevana juga Raiden kembali ke sisinya. Egoiskah Haidar?
__ADS_1
****
Taman bermain...
Haidar dan Zevana sedang menunggu Raiden bermain bahkan keduanya bak sepasang suami isteri yang sangat bahagia menemani anak mereka bermain. Tawa Raiden dan Haidar membuat hati Zevana tenang tetapi entah mengapa hatinya masih merasa gelisah.
"Sayang!" panggil Haidar kepada Zevana.
"Kak, gak usah manggil itu bisa?" tanya Zevana dengan pelan yang membuat Haidar terdiam dengan kecewa.
"Kenapa? Bukannya kamu sudah memberikan kesempatan kedua untuk Kakak? Itu artinya kita sudah kembali bersama, kan?" tanya Haidar dengan rasa kecewa yang tidak bisa ia jabarkan dan ada harapan yang begitu besar untuk dirinya bisa kembali dengan Zevana.
Mata Zevana tetap mengawasi Raiden yang sedang bermain sendirian ketika ia dan Haidar memutuskan untuk duduk sebentar. Zevana menghela napasnya dengan pelan.
"Zeva memberikan kesempatan kedua untuk Kak Haidar bukan karena Zeva ingin kembali ke Kak Haidar tetapi kesempatan itu Zeva berikan agar kak Haidar bisa menjadi papa yang baik untuk Raiden karena selama ini Raiden kehilangan sosok papa dalam dirinya," ujar Zeva yang enggan menatap mata Haidar.
"Z-zeva... Kakak pikir kamu mau kembali sama Kakak! Kakak tahu Kakak salah. Tapi Kakak sudah menyesal Zeva, Kakak ingin kita kembali menjadi suami istri seperti dulu," ujar Haidar yang membuat Zevana menghela napasnya dengan pelan.
"Banyak pertimbangan jika Zevana kembali ke Kak Haidar. Yang jelas untuk saat ini Zeva mau sendiri dulu, menjadi ibu dan ayah sekaligus untuk Raiden. Tolong jangan paksa Zeva, Kak!" ujar Zevana yang membuat Haidar mendes*h frustasi.
"Zeva kita masih berstatus suami istri. Kita belum bercerai," ujar Haidar dengan frustasi.
"Kak beri Zeva waktu untuk memikirkan semuanya. Apakah harus kembali ke Kak Haidar atau memilih untuk bercerai. 5 tahun Zeva menghilang bukan berarti Zeva tak memikirkan bagaimana Raiden nanti tanpa hadirnya sosok seorang ayah tapi ketakutan itu sirna ketika mas Indra selalu menjadi figur seorang ayah untuk Raiden. Tapi walaupun begitu Raiden tetap menginginkan kita untuk bersama. Tapi tolong untuk saat ini jangan paksa Zeva," ujar Zevana dengan lirih.
"Kakak gak akan maksa kamu. Tapi boleh kan panggilan Kakak di ubah menjadi mas Haidar juga? Kakak cemburu ketika panggilan kamu untuk orang lain itu lebih mesra," ujar Haidar dengan jujur.
"Mama, Papa!" teriak Raiden yang membuat Zevana dan Haidar kembali menatap ansk mereka.
"Kenapa, Sayang? Sudah selesai mainnya?" tanya Zevana dengan lembut.
"Sudah, Ma!"
"Mau main ke mana lagi? Ke mall aja ya sekalian kita makan siang dan beli mainan buat kamu," ujar Haidar mengusap rambut anaknya dengan lembut.
"Iya mau, Pa!" ujar Raiden dengan bahagia.
"Ayo pergi!" ujar Haidar dengan menggendong Raiden.
"K-kak...emmm maksud aku Mas, tangannya bisa di lepas?!" ujar Zevana dengan gugup saat Haidar menggenggam tangannya dengan erat.
"Kali ini jangan nolak, Zeva. Hari ini adalah hari bahagia untuk Raiden kita jangan merusak kebahagiannya," ujar Haidar yang membuat Zevana pasrah saat Haidar menggenggam tangannya sampai ke mobil pria itu.
Zevana telah menarik ulur hatinya begitu saja dan entah mengapa kali ini Haidar tidak bisa marah karena kesalahan tetap pada dirinya.
***
Sesampainya di mall Haidar banyak membelikan mainan untuk Raiden, mereka juga sudah makan siang bersama. Ketiganya menghabiskan waktu bersama untuk membuat Raiden tersenyum senang dan bahagia, dan hari ini Raiden merasa menjadi anak yang paling beruntung dan bahagia karena mama dan papanya bersama. Tidak salahkan jika Raiden meminta kedua orang tuanya untuk bersama kembali? Hanya itu permintaannya! Bisakah terkabulkan?
__ADS_1
"Kita pulang ya!" ujar Zevana yang diangguki oleh Raiden.
"Pulang ke rumah Papa kan, Ma?" tanya Raiden yang membuat Zevana hampir saja tersedak air liurnya sendiri.
"Tidak bisa, Sayang!"
"Tapi Raiden maunya Mama dan Raiden pulang ke rumah Papa! Kenapa tidak bisa?" ujar Raiden dengan sendu.
"Emmm gini saja. Gimana kalau Raiden menginap di rumah Papa biar Mama pulang ke rumah kakek dulu ya. Kasihan Mama harus kerja pagi-pagi besok," ujar Haidar membujuk anaknya.
"Tapi Raiden mau Mama juga ikut," ujar Raiden dengan lirih.
"Untuk saat ini Mama belum bisa ikut, Sayang. Kamu saja ya!" ujar Haidar dengan sendu karena sebenarnya ia juga ingin Zevana ikut bersamanya.
"T-tapi..."
"Kalau Raiden mau menginap di rumah Papa tidak masalah. Mama bolehin Raiden sama Papa asal jangan lupa belajar ya," ujar Zevana.
"Kenapa kita tidak tinggal bersama? Semua anak yang mempunyai orang tua lengkap akan tinggal bersama. Tapi kenapa Raiden beda?"
"Raiden! Tolong ngerti ya!"
"Iya! Raiden selalu ngerti Mama! Tapi Mama gak ngerti Raiden!" ujar Raiden dengan dingin.
"Raiden!" panggil Zevana dengan mata berkaca-kaca baru kali ini ia melihat kemarahan di mata Raiden untuknya.
Raiden membuang mukanya agar tidak menatap mamanya. Mungkin jika Raiden tahu hidup di dunia akan seperti ini Raiden memilih untuk tidak di lahirkan saja.
"Jangan nangis. Nanti aku yang bujuk dia ya!" ujar Haidar dengan lirih.
"T-tapi..."
"Permintaan Raiden cuma satu! Itu mungkin permintaan pertama dam terakhir Raiden! Papa dan Mama tinggal bersama. Kenapa tidak bisa? Selalu saja Raiden yang harus mengerti semuanya! Apa permintaan Raiden itu sangat berat? Kalau Raiden punya uang Raiden mau beli kebersamaan kita berapapun harganya akan Raiden beli! Tapi sayangnya Raiden ga punya uang. Sampai Raiden mati apa Mama tidak bisa bersama dengan Papa?"
"Raiden!! M-mama...."
"Raiden gak boleh ngomong gitu ya sama, Mama! Mama yang sudah berjuang melahirkan Raiden ke dunia," ujar Haidar dengan lembut.
"Untuk hari ini Raiden nginap di rumah Papa tanpa Mama dulu ya. Minta maaf sama Mama!" ujar Haidar dengan lembut.
"Maaf, Ma! Raiden mau tidur sama Papa. Boleh, kan?"
"Hiks...hiks..boleh, Sayang. Tapi jangan lama-lama ya," ujar Zevana dengan tersenyum tetapi juga menangis.
"Iya!"
"Ya Tuhan...aku semakin bersalah dengan Raiden. Aku bukannya tidak mengerti kemauan dia hanya saja aku belum siap jika harus kembali." batin Zevana menjerit.
__ADS_1